Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Agustus 2019

Cara Memperlakukan Mobil Penyot

Saya heran kenapa orang kalau mobilnya lecet, tergores, segera diperbaiki. Saya sendiri kalau mobil lecet, tergores, asal tidak mengganggu berlalu lntas, saya biarkan. Saya tidak senang dengan kejadiannya, tetapi senang tidak memperbaikinya karena setiap lecet, tergores adalah sejarah, tanda petualangan.

Di atas ban depan kanan mobil saya lecet ditabrak remaja dengan motor di Muara Enim saat dia dia keluar lorong. Dia mengaku remnya macet.

Body bagian kiri atas ban belakang menghitam karena karet pintu meleleh akibat terlalu kepanasan diparkiran di Ciputat.

Bamper belakang lecet ditabrak motot di Alur Dua Langsa. Saat itu mobil cot box di depan rem mendadak. Saya juga rem mendadak. Dua detik kemudian jalan lagi. Satu detik berikutnya rem lagi. Saya bersyukur dan bangga bisa sesigap itu. Tetapi motor di belakang saya tidak.

Jumat, 17 Mei 2019

Filsafat Terakhir

 Setelah selesai menulis 'Garudaku Tangguh', saya mulai mengumpulkan bahan untuk 'Filsafat Terakhir'. Sumber paling banyak tentu dari kuliah S2 filsafat di ICAS-Paramadina. Kampus itu memang top. Semester martikulasi kami diajarkan ilmu mantik, filsafat islam tematik, tasawuf tematik, bahasa arab, bahasa inggris.

Kamis, 08 Februari 2018

HARI INI SAYA BONGKAR SIAPA SAYA SEBENARNYA

Secara permukaan saya terhilat seperti orang culun.

Beberapa orang curiga saya adalah orang yang hebat.

Siapa sebenarnya saya?








Rabu, 27 September 2017

KEMATIAN REKTOR DAN CELANA DALAM MERAH HATI

Entah kesambar jin dari mana, tumben banget saya shalat subuh jamaah di masjid. Entah karena makan ayam penyet yang gurih tadi malam, tumben-bumbenan saya bangun shalat tahajud. Tapi seperti biasa, kalau sudah bangun tahajud, saya ga bisa tidur lagi. Saya paksakan tidur juga tidak berguna, yang ada malah menghayal setengah tidur. Dan biasanya saya menghayalkan hal-hal buruk. Kali ini saya menghayal pertemuan para rektor di Bali dibom teoris. Rektor-rektor seIndonesia mati semua. Civitas akademika di kampus masing-masing bersorak sorai gembira. Tapi tentunya di dalam hati saja. Tidak ada yang berani sujud syukur, apalagi bikin syukuran.  Pastinya semua gembira, tapi dalam hati saja.

Tiba-tiba saya menjadi kandidat kuat rektor Subbag Tridarma Jawatan Agama Kota Langsa, menggantikan rektor lama yang telah menjadi korban "kebiadaban" teroris.

Rabu, 07 Juni 2017

Menjual Agama?

Tidak semua masjid menjual agama. Tapi Masjid Besar Peusangan menjualnya? Berapa harganya?

Karena melihat tukang es krim sibuk melayani pembeli, saya memutuskan membawa masuk barang dagangan ke dalam pekarangan masjid. Merujuk tukang es krim, saya saya berasumsi di pekarangan masjid itu tidak ada larangan berjualan. Lagi pula dari 2006-2011, saya sering jualan di masjid itu. Tidak tanggung-tanggung, di tangga masjid.

Selasa, 31 Januari 2017

BANTA LEMAN

Orang-orang Keling berhamburan sepanjang pantai utara Sumatra. Mereka dibawa oleh para pedangan Persia sebagai budak. Di perjalanan mereka diperlakukan lebih buruk daripada kucing pemburu tikus kapal.

Khatijah adalah salah seorang budak Keling yang lumayan beruntung, karena keluarga mereka dipekerjakan hulu balang. Orang Keling lain nasibnya lebih tragis karena tidak memiliki pencarian pasti di pesisir kecuali menjadi petani garam dan nelayan. Bekerja untuk dua profesi itu sangat buruk nasibnya karena sangat mudah dieksploitas penjajah Belanda.

Sabtu, 08 Oktober 2016

SOMBONG

Saat wisuda magister,  saya terlihat sombong. Tapi sebenarnya saya sedang memikirkan nasib saya setelah menjadi Magister. Kalau menjadi sarjana dan menganggur, itu sudah lumrah di negeri ini. Tapi saya harus membayangkan magister yang menjadi pengangguran.

Selasa, 04 Oktober 2016

ROTI DARI WECE

Sewaktu balita, saya selalu minta ikut tiap Ayah ke luar rumah.
Satu malam, saya minta ikut. Kata Mak, Ayah ke wece. Wece kami di belakang rumah. Terpisah dengan bangunan rumah. Hanya didindingi terpal bekas warna biru. Tidak ada kloset, apalagi pipa dan septic tank. Hanya digali sedalam satu meter. Disitulah kotoran berulat, membusuk dan seterusnya.

Belakangan sewaktu saya MIN, wece kami sudah diaktifkan kembali yang di dalam bangunan rumah. Dekat sumur. Meski klosetnya ada, namun tidak mengalir dengan baik ke septic tank yang sekitar satu meter. Keberadaan septic tank itu baru belakangan saya ketahui sewaktu pembersihan sumbatan pipa. Rupanya Mak memasak air panas dan sop di atas septic tank.

Kamar mandi rumah kami lumayan elit juga kalau saya pikir-pikir. Selain ada bagian wece, sebelah utara ada ruang mandi, lengjap dengan bak air. Tidak difungsikan lagi memang sejak saya ingat. Selain karena bocor, juga tidak ada mesin penyedot air. Tetapi memang sepertinya di desain untuk pengisian air manual. Tidak ada kran atau pipa air. Hanya ada tempat menampung air di dinding untuk ditumpahkan langsung ke bak fibalik dinding.

Rumah tempat saya lahir di Matangglumpangdua sebenarnya adalah gudang yang dibangun Ayahnya Mak (Pak Nek). Pak Nek orang kaya sebelum Mak menikah. Beliau ambil kredit di Bank 46 BNI dua puluh kima juta rupiah ketika harga emas sekitar dua puluh lima ribu rupiah. Uang itu dipakai untuk berdagang hasil bumi. Termasuk membeli banyak mobil truk dan membuat sebuah gudang. Gudang itulah tempat kami tinggal.

Maka itu denah rumah kami aneh. Pekarangan belakang hanya sekitar tiga meter. Termasuk galian wece sebelum kembali ke wece dalam kamar nandi. Tapi halaman depan sekitar seratus meter. Itu didesain untuk menjemur pinang. Setelah Pak Nek bangkrut, tumbuh banyak jenis pohon pinggir pekarangan. Bagian tengah tetap padang namun berumput.

Waktu saya MIN, Ayah telah berdagang pinang. Beliau memiliki lahan luas untuk menjemur pinang. Di depan rumah. Ayah sangat baik pada tetangga. Makanya kalau tiba-tiba hujan, tidak ada orang di rumah, para tetangga dan pemuda yang lagi nongkrong di warung depan rumah. Meski sangat dihormati pemuda karena sangat baik, Ayah jarang ke luar ke warung atau pergi mengobrol dengan sasama bapak-bapak tetangga. Mungkin itu menjadi bagian hingga saya besar saya masih terus percaya bahwa Ayah ke wece, bukan ke warung. Seingat saya selama di Matang Ayah tidak pernah ke warung sepulang bekerja. Pulang dari kerja Ayah lebih suka di rumah.

Saat Ayah masuk lagi ke rumah, yang kata Mak Cuma ke wece, pria paling tampan yang pernah saya lihat itu pulang membawa oleh-oleh roti. Waktu itu saya sangat yakin bahea roti itu benar-benar diperoleh Ayah dari dalam wece di belakang rumah. Bahkan hingga Oktober 2016 ini, saya tidak benar-benar percaya Ayah keluar pintu belakang hanya untuk membuat saya yakin beliau Cuma ke wece supaya saya tidak minta ikut. Samping rumah ada lorong. Jadi, kalau keluar pintu belakang, bisa langsung ke lorong itu dan ke depan. Lalu ke warung.

Bahkan hingga saat ini saya belum benar-benar percaya sebenarnya Ayah bukan ke wece tetapi pergi ke warung. Hingga kini saya lebih yakin, meski bagaimanapun caranya, roti itu dibawa Ayah dari wece, bukan dibeli dari warung. Hingga saat ini, sangat sulit memang memeriksa secara ilmiah bagaimana menghasilkan roti dari wece. Tetapi saya lebih percaya itu daripada Ayah ke warung.

Saya percaya Mak. Meski perkataan beliau belum dapat ditemukan akurasinya dengan logika dan sains.

Selasa, 16 Agustus 2016

DITEMUKAN TAS SEORANG DOSEN. TERNYATA ISINYA...

Ditemukan sebuah tas milik seorang dosen. Dan ternyata isinya...

Sabtu, 23 Juli 2016

Mengerti Ilmu Mantik Usia Setahun

Seorang bocah cilik yang baru berusia satu tahun, Cut Maryam Asiyah, sudah mampu menuru perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang dewasa. Bocah dengan nama panggilan Masya telah mampu berjalan, meski masih tertatih-tatih.

Masya juga menunjukkan keanehan lainnya dengan

Kamis, 16 Juni 2016

OSPEK

Saya orangnya sangat sederhana. Dalam berpikir dan bertindak. Dalam memutuskan untuk kuliah, saya hanya berpikir begini: kalau saya tidak kuliah, toh waktu lima tahun akan berlalu juga. Kalau saya kuliah, lima tahun kemudian, walau belum tamat, setidaknya telah menjalani beberapa semester. Demikian sederhananya saya merencanakan kuliah. Sesederhana saya menjalani orientasi mahasiswa baru, yang kami sebut ospek.

Jumat, 27 Mei 2016

WALAU BAGAIMANAPUN HARUS SEKOLAH

Pada suatu pagi saat masih sekolah kelas 2 MIN, saya menemukan ban sepeda saya kempes. Awalnya saya pikir ini berita gembira. Saya punya alasan yang bagus untuk tidak sekolah. Rupanya Mak mengajak saya dan membawa sepeda mencari pompa angin ke beberapa rumah tetangga. Saat pompa ditemukan, Mak memompa ban sepeda. Rupanya bannya sudah sangat rapuh hingga meledak saat dipompa. Ketika ban meledak saya kira inilah kesempatan untuk sekali lagi punya alasan untuk tidak ke sekolah.
 Melihat ekspresi saya, Mak langsung paham dan berkata ''Walau bagaimanapun harus sekolah''.

Sabtu, 21 Mei 2016

JEJAK SEJARAH KERAJAAN ISLAM ASIA TENGGARA

Kerajan Islam Jeumpa didirikan tahun 760 M oleh Raja Sharian Shah Salman Al-Farisi. Dan sudah mengalami kejayaan pada 777M. Putra Sharianshah bernama Bernama Meurah Shahri Nuwi mendirikan kerajaan Peureulak. Kerajaan Peureulak mengalami masa jaya tahun 888 M di bawah kekuasaan Maulana Abdul Aziz Syah. Salah seorang dari garis keturunan Meurah Shahri Nuwi bernama Meurah Seulu (w.1297) mendirikan kerajaan Pasai. Meurah Seulu bergelar Malikul Saleh adalah dari garis keturunan Imam Ja'far Shadiq bin Muhammaq Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Saayidina Hussain.

Rabu, 11 Mei 2016

PESTA TAK PERNAH USAI

Kuharap semua yang kualami selama sepuluh tahun terakhir hanyalah sepenggal mimpi. Sementara aku sedang tidur di lantai dua kantor PII di Banda Aceh. Seperti biasa aku tidur di atas sajadah panjang dengan buku berhamburan mengelilingi kepalaku.

 Aku berharap lebih dari itu. Semua yang kualami selama duapuluhlima tahun belakangan hanyalah bagian kecil dari lamunan atau hayalan
ku. Sementara aku sedang duduk tidak beraturan di atas panteu bambu sambil menunggui Ibu membersihkan ikan atau mencuci pakaian. Tetapi entah bagaimana kehidupanku berubah menjadi pesta tak pernah usai.
 Seperti kelelawar yang menabrak tiang tivi. Mungkin demikianlah kehidupan. Kita telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, tetapi yang terjadi bukanlah yang kita inginkan. Orang-orang boleh mengatakan ''aku berkehandak dan mutlak dapat memilih'', tapi sayang, kehendak dan pilihan hanyalah aksiden kesadaran. Manusia tidak dapat memahami dengan baik kesadaran itu sendiri.