Ditemukan sebuah tas milik seorang dosen. Dan ternyata isinya...
Setelah menetap enam tahun di Medan, saya melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Di kota itu orang-orang umumnya berbahasa Indonesia. Memang di sana heterogen. Ada Gayo, Alas, Pasai, Pidie dan Aceh. Tapi sangat sering sesama Pasai, atau sesama Pidie berbicara bahasa Indonesia.
Saya sendiri tidak suka berbahasa Indonesia. Kalau berbahasa itu, logat intonasi saya seperti orang di Medan, seperti orang Batak berbahasa Indonesia. Saya khawatir. Saya tidak ingin dianggap orang Medan. Lebih dari itu, saya tidak ingin dianggap bukan orang Aceh.
Karena itu saya akan berbahasa Aceh dengan siapapun yang fasih atau mengerti sedikit-sedikit bahasa Aceh. Lama kelamaan intonasi Medan itu hilang.
Setelah enam tahun di Banda Aceh, saya pergi ke Jakarta. Bahasa Indonesia saya sudah berlogat Aceh. Tetapi perlahan mulai seperti ligat orang Betawi. Saya tidak ingin itu. Saya melindungi logat Aceh saya dengan terus membuat-buat menyengaja berbahasa Indonesia seperti orang Aceh yang sangat jarang berbahasa Indonesia.
Menjaga identitas itu sangat penting. Identitas tidak sama dengan primordialitas. Ia juga bukan narsis.Tidak ada standar logat dalam bahasa Indonesia. Yang ada standar tata kata baku (grammar). Banyak orang Aceh berusaha untuk menutupi logat Acehnya dengan menuru-niru logat orang Batak, logat Sunda atau logat Betawi. Orang seperti itu adalah orang yang perjalanan paling jauhnya hanya Lhokseumawe.
Bila ditemukan tas seorang dosen dan isinya adalah mushaf Al-Qur'an, berarti dosen itu suka mengaji.
Setelah menetap enam tahun di Medan, saya melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Di kota itu orang-orang umumnya berbahasa Indonesia. Memang di sana heterogen. Ada Gayo, Alas, Pasai, Pidie dan Aceh. Tapi sangat sering sesama Pasai, atau sesama Pidie berbicara bahasa Indonesia.
Saya sendiri tidak suka berbahasa Indonesia. Kalau berbahasa itu, logat intonasi saya seperti orang di Medan, seperti orang Batak berbahasa Indonesia. Saya khawatir. Saya tidak ingin dianggap orang Medan. Lebih dari itu, saya tidak ingin dianggap bukan orang Aceh.
Karena itu saya akan berbahasa Aceh dengan siapapun yang fasih atau mengerti sedikit-sedikit bahasa Aceh. Lama kelamaan intonasi Medan itu hilang.
Setelah enam tahun di Banda Aceh, saya pergi ke Jakarta. Bahasa Indonesia saya sudah berlogat Aceh. Tetapi perlahan mulai seperti ligat orang Betawi. Saya tidak ingin itu. Saya melindungi logat Aceh saya dengan terus membuat-buat menyengaja berbahasa Indonesia seperti orang Aceh yang sangat jarang berbahasa Indonesia.
Menjaga identitas itu sangat penting. Identitas tidak sama dengan primordialitas. Ia juga bukan narsis.Tidak ada standar logat dalam bahasa Indonesia. Yang ada standar tata kata baku (grammar). Banyak orang Aceh berusaha untuk menutupi logat Acehnya dengan menuru-niru logat orang Batak, logat Sunda atau logat Betawi. Orang seperti itu adalah orang yang perjalanan paling jauhnya hanya Lhokseumawe.
Bila ditemukan tas seorang dosen dan isinya adalah mushaf Al-Qur'an, berarti dosen itu suka mengaji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar