Pada suatu pagi saat masih sekolah
kelas 2 MIN, saya menemukan ban sepeda saya kempes. Awalnya saya pikir ini
berita gembira. Saya punya alasan yang bagus untuk tidak sekolah. Rupanya Mak mengajak saya dan membawa
sepeda mencari pompa angin ke beberapa rumah tetangga. Saat pompa ditemukan, Mak memompa ban sepeda. Rupanya
bannya sudah sangat rapuh hingga meledak saat dipompa. Ketika ban meledak saya
kira inilah kesempatan untuk sekali lagi punya alasan untuk tidak ke sekolah.
Melihat ekspresi saya, Mak langsung paham dan berkata ''Walau
bagaimanapun harus sekolah''.
Mak tidak kehilangan akal. Beliau berusaha menyetop hampir semua kendaraan yang
lewat. Mobil pick-up yang menghantar pelajar akan sulit berhenti di kawasan rumah kami
karena biasanya sudah penuh.
Mobil-mobil itu telah mengambil pelajar sejak lima belas kilometer sebelumnya. Tentunya sudah penuh. Karena
jarak rumah kami dengan pasar Matangglumpangdua dua kilometer. Adapun motor yang beredia berhenti dan mahu membonceng
saya adalah Honda Prima Pak Him. Beliau tidak lain adalah guru
mengaji siang saya di Diniyah.
Sebelumnya saya ingin seperti teman-teman yang
sering libur sekolah. Saya bermimpi ingin libur sekolah. Tetapi tidak pernah
terwujud. Sebelum hari itu,
saya heran kenapa sekolah itu
harus dipentingkan. Tetapi
sejak peristiwa meledak ban sepeda itu, saya mulai berpikir betapa Mak
menganggap pentingnya sekolah untuk saya. Sejak saat itu saya tidak penah
berpikir untuk libur sekolah
lagi. Ucapan Mak ''Walau bagaimanapun harus sekolah’' selalu terngiyang dalam kepala saya hingga hari ini.
Kondisi keluarga kami sangat terbatas. Ayah hanya tamat dayah. Mak hanya tamat
SMA. Keseriusan mereka menyekolahkan saya adalah hal yang membingungkan. Biasanya hanya guru dan pegawai yang serius menyekolahkan anaknya.
Ucapan Mak itu membuat saya melakukan apapun
untuk terus sekolah. Dengan keterbatasan orangtua, saya berjualan ayam saat
kelas lima dan enam MIN. Saat MTs saya membeli sebuah kamera photo dan memotret
siapa yang mau untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Saat STM di Medan saya
bekerja jualan Mie Aceh keliling dengan sepeda. Waktu kuliah S1 saya jualan
peci di pagar masjid saya selama dua
tahun pada 2005-2006.
Namun karena selalu digusur satpol PP, saya memilih jualan sambil berkelili. Sejak 2008 saya mulai jualan
pakaian dalam pria hingga saat ini.
Saat
tinggal di Jakarta untuk S2 saya bertahan hidup dengan berjualan pakaian dalam
pria di Jabodetabek. Kalau ada yang mengajak demonstrasi saya ikut. Pernah juga mengojek. Namun hanya beberapa bulan karena motot yang saya sewa hilang. Selesai S2 awal 2014, saya tetap jualan untuk betahan hidup. Alhamdulillah diterima CPNS dosen
di IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa pada akhir 2014. Kami senang karena menjadi angkatan pertama
penerimaan PNS yang paling bersih. Menggunakan sistem lulus langsung dengan tes
komputer.
Perjuangan
dan kerja keras serta terus fokus memang tidak pernah berbohong.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar