Jumat, 27 Mei 2016

WALAU BAGAIMANAPUN HARUS SEKOLAH

Pada suatu pagi saat masih sekolah kelas 2 MIN, saya menemukan ban sepeda saya kempes. Awalnya saya pikir ini berita gembira. Saya punya alasan yang bagus untuk tidak sekolah. Rupanya Mak mengajak saya dan membawa sepeda mencari pompa angin ke beberapa rumah tetangga. Saat pompa ditemukan, Mak memompa ban sepeda. Rupanya bannya sudah sangat rapuh hingga meledak saat dipompa. Ketika ban meledak saya kira inilah kesempatan untuk sekali lagi punya alasan untuk tidak ke sekolah.
 Melihat ekspresi saya, Mak langsung paham dan berkata ''Walau bagaimanapun harus sekolah''.


Mak tidak kehilangan akal. Beliau berusaha menyetop hampir semua kendaraan yang lewat. Mobil pick-up yang menghantar pelajar akan sulit berhenti di kawasan rumah kami karena biasanya sudah penuh. Mobil-mobil itu telah mengambil pelajar sejak lima belas kilometer sebelumnya. Tentunya sudah penuh. Karena jarak rumah kami dengan pasar Matangglumpangdua dua kilometer. Adapun motor yang beredia berhenti dan mahu membonceng saya adalah Honda Prima Pak Him. Beliau tidak lain adalah guru mengaji siang saya di Diniyah.
 Sebelumnya saya ingin seperti teman-teman yang sering libur sekolah. Saya bermimpi ingin libur sekolah. Tetapi tidak pernah terwujud. Sebelum hari itu, saya heran kenapa sekolah itu harus dipentingkan. Tetapi sejak peristiwa meledak ban sepeda itu, saya mulai berpikir betapa Mak menganggap pentingnya sekolah untuk saya. Sejak saat itu saya tidak penah berpikir untuk libur sekolah lagi. Ucapan Mak ''Walau bagaimanapun harus sekolah' selalu terngiyang dalam kepala saya hingga hari ini.
Kondisi keluarga kami sangat terbatas. Ayah hanya tamat dayah. Mak hanya tamat SMA. Keseriusan mereka menyekolahkan saya adalah hal yang membingungkan. Biasanya hanya guru dan pegawai yang serius menyekolahkan anaknya.
 Ucapan Mak itu membuat saya melakukan apapun untuk terus sekolah. Dengan keterbatasan orangtua, saya berjualan ayam saat kelas lima dan enam MIN. Saat MTs saya membeli sebuah kamera photo dan memotret siapa yang mau untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Saat STM di Medan saya bekerja jualan Mie Aceh keliling dengan sepeda. Waktu kuliah S1 saya jualan peci di pagar masjid saya selama dua tahun pada 2005-2006. Namun karena selalu digusur satpol PP, saya memilih jualan sambil berkelili. Sejak 2008 saya mulai jualan pakaian dalam pria hingga saat ini.
 Saat tinggal di Jakarta untuk S2 saya bertahan hidup dengan berjualan pakaian dalam pria di Jabodetabek. Kalau ada yang mengajak demonstrasi saya ikut. Pernah juga mengojek. Namun  hanya beberapa bulan karena motot yang saya sewa hilang. Selesai  S2 awal 2014, saya tetap jualan untuk betahan hidup. Alhamdulillah diterima CPNS dosen di IAIN Zawiyah Cot Kala  Langsa pada akhir 2014.  Kami senang karena menjadi angkatan pertama penerimaan PNS yang paling bersih. Menggunakan sistem lulus langsung dengan tes komputer.

Perjuangan dan kerja keras serta terus fokus memang tidak pernah berbohong. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar