Orang-orang Keling berhamburan sepanjang pantai utara Sumatra. Mereka dibawa oleh para pedangan Persia sebagai budak. Di perjalanan mereka diperlakukan lebih buruk daripada kucing pemburu tikus kapal.
Khatijah adalah salah seorang budak Keling yang lumayan beruntung, karena keluarga mereka dipekerjakan hulu balang. Orang Keling lain nasibnya lebih tragis karena tidak memiliki pencarian pasti di pesisir kecuali menjadi petani garam dan nelayan. Bekerja untuk dua profesi itu sangat buruk nasibnya karena sangat mudah dieksploitas penjajah Belanda.
Sejak berusia sembilan tahun, Khatijah titinggal mati kedua orang tuanya. Ayahnya tewas terkena peluru Marchause saat ikut perang atas perintah Hulu Balang. Ibunya tewas di kebun karena kelahan saat bekerja untuk Hulu Balang.
Sejak kehilangan orang tua, Khatijah harus bekerja keras untuk menghidupi tiga adik perempuannya yang masih kecil.
#
Ampon Adib kehilangan ayah saat berusia enam tahun. Ayahnya tewas dikeroyok Kompeni dalam sebuah penyergapan. Pamannya mengirimkan Adib ke Dayah Awee Gautah di Negeri Peusangan. Petinggi dayah itu memang punya hubungan dengan keluarga Adib.
Setelah dewasa, Adib kembali ke negerinya. Sepanjang menjadi Hulu Balang, Ampon Adib sibuk berperang dengan Jepang. Di sana Adib menikah dengan Cut Beuleun. Mereka di karunia dua orang Putra. Putra sulungnya bernama Banta Leman. Saat Banta Leman berusia 16 tahun, Ampon Adib meninggal dan di makamkan di dekat sebuah masjid.
Sejak ayahnya meninggal, Banta Leman sibuk melawan agresi kedua Belanda. Dia daulat menjadi komandan tentara rakyat. Setelah Indonesia kondusif, Banta Leman diangkat menjadi Kepala Desa.
Dalam memerintah negerinya, Banta Leman mendeklarasikan penghapusan kasta dengan menikahi Khatijah. Keputusan ini ditentang sebagian keluarga Banta Leman. Yang lebih membuat keluarga besar yang gerah adalah keputusannya untuk menyerahkan kepemilikan tanah kepada para bekas budak. Beberapa pihak dari keluarga jauh sempat mencoba memfitnahnya telah termakan doktrin Komunisme.
Tetapi isu itu tidak dipedulikan oleh keluarga dekat. Mereka paham bahwa beberapa pihak keluarga mengeluarkan fitnah itu semana karena orientasi materi. Keluarga dekat sendiri umumnya tidak peduli tentang urusan harta. Mereka sibuk dengan suluk.
Lagi pula...
Pernikahan Banta Leman dengan Khatijah bukan karena sebuah visi besar kesetaraan kelas sosial atau teori-teori baboon dalam ilmu-ilmu sosial. Pernikahan itu terjadi karena hal-hal sederhana.
Perasaan Banta Leman remaja yang melihat Khatijah yang masih kecil bekerja banting tulang untuk memberi makan adik-adiknya. Bahkan perempuan itu belum menginjak remaja itu bekerja di kebun sambil menggendong adiknya yang paling kecil.
Keluarga dekat Banta Leman paham itu.
Banta Leman menjadi Kepala Desa hingga berusia lanjut. Dia meletakkan jabatan itu karena matanya sudah sangat rabun. Sekalipun seorang veteran, tidak ada bau militer dalam upacara pemakamannya.
Khatijah adalah salah seorang budak Keling yang lumayan beruntung, karena keluarga mereka dipekerjakan hulu balang. Orang Keling lain nasibnya lebih tragis karena tidak memiliki pencarian pasti di pesisir kecuali menjadi petani garam dan nelayan. Bekerja untuk dua profesi itu sangat buruk nasibnya karena sangat mudah dieksploitas penjajah Belanda.
Sejak berusia sembilan tahun, Khatijah titinggal mati kedua orang tuanya. Ayahnya tewas terkena peluru Marchause saat ikut perang atas perintah Hulu Balang. Ibunya tewas di kebun karena kelahan saat bekerja untuk Hulu Balang.
Sejak kehilangan orang tua, Khatijah harus bekerja keras untuk menghidupi tiga adik perempuannya yang masih kecil.
#
Ampon Adib kehilangan ayah saat berusia enam tahun. Ayahnya tewas dikeroyok Kompeni dalam sebuah penyergapan. Pamannya mengirimkan Adib ke Dayah Awee Gautah di Negeri Peusangan. Petinggi dayah itu memang punya hubungan dengan keluarga Adib.
Setelah dewasa, Adib kembali ke negerinya. Sepanjang menjadi Hulu Balang, Ampon Adib sibuk berperang dengan Jepang. Di sana Adib menikah dengan Cut Beuleun. Mereka di karunia dua orang Putra. Putra sulungnya bernama Banta Leman. Saat Banta Leman berusia 16 tahun, Ampon Adib meninggal dan di makamkan di dekat sebuah masjid.
Sejak ayahnya meninggal, Banta Leman sibuk melawan agresi kedua Belanda. Dia daulat menjadi komandan tentara rakyat. Setelah Indonesia kondusif, Banta Leman diangkat menjadi Kepala Desa.
Dalam memerintah negerinya, Banta Leman mendeklarasikan penghapusan kasta dengan menikahi Khatijah. Keputusan ini ditentang sebagian keluarga Banta Leman. Yang lebih membuat keluarga besar yang gerah adalah keputusannya untuk menyerahkan kepemilikan tanah kepada para bekas budak. Beberapa pihak dari keluarga jauh sempat mencoba memfitnahnya telah termakan doktrin Komunisme.
Tetapi isu itu tidak dipedulikan oleh keluarga dekat. Mereka paham bahwa beberapa pihak keluarga mengeluarkan fitnah itu semana karena orientasi materi. Keluarga dekat sendiri umumnya tidak peduli tentang urusan harta. Mereka sibuk dengan suluk.
Lagi pula...
Pernikahan Banta Leman dengan Khatijah bukan karena sebuah visi besar kesetaraan kelas sosial atau teori-teori baboon dalam ilmu-ilmu sosial. Pernikahan itu terjadi karena hal-hal sederhana.
Perasaan Banta Leman remaja yang melihat Khatijah yang masih kecil bekerja banting tulang untuk memberi makan adik-adiknya. Bahkan perempuan itu belum menginjak remaja itu bekerja di kebun sambil menggendong adiknya yang paling kecil.
Keluarga dekat Banta Leman paham itu.
Banta Leman menjadi Kepala Desa hingga berusia lanjut. Dia meletakkan jabatan itu karena matanya sudah sangat rabun. Sekalipun seorang veteran, tidak ada bau militer dalam upacara pemakamannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar