Rabu, 27 September 2017

KEMATIAN REKTOR DAN CELANA DALAM MERAH HATI

Entah kesambar jin dari mana, tumben banget saya shalat subuh jamaah di masjid. Entah karena makan ayam penyet yang gurih tadi malam, tumben-bumbenan saya bangun shalat tahajud. Tapi seperti biasa, kalau sudah bangun tahajud, saya ga bisa tidur lagi. Saya paksakan tidur juga tidak berguna, yang ada malah menghayal setengah tidur. Dan biasanya saya menghayalkan hal-hal buruk. Kali ini saya menghayal pertemuan para rektor di Bali dibom teoris. Rektor-rektor seIndonesia mati semua. Civitas akademika di kampus masing-masing bersorak sorai gembira. Tapi tentunya di dalam hati saja. Tidak ada yang berani sujud syukur, apalagi bikin syukuran.  Pastinya semua gembira, tapi dalam hati saja.

Tiba-tiba saya menjadi kandidat kuat rektor Subbag Tridarma Jawatan Agama Kota Langsa, menggantikan rektor lama yang telah menjadi korban "kebiadaban" teroris.
Saya mulai nerves. Tapi ternyata saya tidak lulus seleksi bakal calon karena belum punya pangkat akademik. Rupanya peraturan baru mengharuskan kandidat rektor harus profesor. Sementara saya bahkan belum punya asisten ahli.

Kecewa dengan setengah menghayal, setengah mimpi itu, saya paksakan diri untuk bangun. Berat sekali. Tapi tiba semangat untuk bangun muncul. Seolah memberitahukan bahwa hari ini adalah hari besar. Tapi tentunya saya tidak tahu hari besar apa. Jangankan kalender hijriyah, tanggal masehi saja saya tidak tahu berapa. Pastinya akhir bulan. Buktinya pantat saya ringan.

Tiba di masjid saya lihat bamyak santri datang untuk shalat subuh. Mereka bergamis hitam. Saya heran kenapa mereka pakai hitam. Padahal itu warna keempat Islam. Warna pertama Islam adalah seperti sandal swallow saya, hijau empedu. Warna keduanya adalah merah hati, warna ketiganya adalah kuning emas.

Sebenarnya saya sudah lama taubat dari shalat jamaah. Soalnya tidak ada masjid yang bacaan imamnya baik dan benar di Indonesia ini. Kecuali dua. Masjid Sultan Jeumpa Bireuen dan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Kalau ada masjid ketiga, mungkin saya belum menemukannya.

Benar saja. Beberapa detik setelah takbiratul ihram, tiba-tiba imam langsung berteriak "Qul..." tapi di langsung diam. Sadar ada yang keliru. Lalu dia berteriak lagi, dengan irama penuh aura narsis : Bismillahirrahmanirrahim... dst.

Kesalahan umum yang saya temukan di banyak masjid adalah para imam kesulitan membedakan pembunyian 'ain dengan ghain. Kesalahan-kesalahan lain sangat banyak. Bahkan dulu saya pernah menegur imam masjih Darul Falah Kota Langsa. Tapi kini nasib dia dan nasib saya sama: sama-sama sama diperbudah oleh fingerprint. Sekarang kami sama-sama nekerja di Subbag Tridarma Jawatan Agama Kota Langsa.

Meskipun pagi ini hadir, dengan masjid Darul Falah Langsa saya benar-benar trauma. Tapi saya punya kenangan menarik di sini:

Suatu hari sewaktu saya belum taubat dari kebiasaan shalat fardhu berjamaah awal waktu di masjid, setelah berwudhuk saya bergegas lari ke shaf untuk mengikut imam. Saya telat, masbuk satu rakaat. Seperti biasa saya membawa tas untuk menaruh barang-barang saya. Dan itu saya bawa ke mana saya pergi. Jadi kali itu saat hendak wudhuk, lobe (peci karet) saya yang waktu itu warna kedua Islam (merah hati) langsung saya lempar ke dalam tas. Setelah berada shaf, saya segera rogoh tas ambil yang saya lempar ke dalamnya tadi. Saya kenakan di kepala. Tas saya letakkan di hadapan. Setelah takbiratul ihram saat akan ruku, tiba-tiba tas saya yang semula saya berdirikan, jatuh terbaring. Rupanya belum saya resleting. Jadi beberapa isinya pada jatoh. Salah satu benda yang jatuh adalah lobe merah hati saya. Melihat benda itu, saya berpikir, "loh, kalo yang jatuh itu lobe, lantas yang di kepala saya kenakan tadi apa?" Saya coba pikir-pikir lagi, seingat saya lobe saya cuma satu. Saya ingaaat lagi. O. Rupanya tadi di rumah saya masukkan celana dalam satu ke dalam tas. Buat jaga-jaga. Dan celana dalam itu warnanya merah hati juga. Seketika saya kaget. saya copot yang saya pakai di kepala itu. Satu gerakan cepat berbarengan gerakan untuk sujud saya masukkan celana dalam itu ke dalam tas dan secepat itu pula saya raih lobe dan langsung letakkan di dekat tempat sujud. saat akan bangkit dari sujud, segera saya pasang lobe di kepala.

Bayangkan kalau tas itu tidak jatuh. Sementara saya masbuk. Tentunya setelah imam salam, saya harus bangkit lagi. Lagi pula shalat di masjid atau mushalla di tengah kota zuhurnya selalu ramai. Sering saya perhatikan, jamaah di shaf depan setelah salam  sering lihat ke belakang, lihat orang-orang masbuk. Bayangkan kalau tas itu tidak jatuh. Pasti semua pandamgan tertuju pada saya.

Kalau saja tas itu tidak jatu, pasti saya akan menjadi orang terkenal. Tapi sepertinya Tuhan belum berkehendak. Belum saatnya untuk terkenal.

WC umum masjid dariul falah kota langsa, tanggal berapa ne? September 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar