Sepertinya Irwandi Yusuf, Tarmizi Karim, Abdullah Puteh, Zaini Abdullah dan Apa Karya maju sebagai calon Gubernur Aceh periode 2017 s.d 2022 hanya ingin menyemarakkan sayembara demokrasi saja. Mereka tidak berharap menjadi pemenang, hanya ingin mendampingi Muallem saja sebagai kontestan. Kalau saja orang-orang itu bertujuan untuk menang, mereka akan lebih rasional dan rendah diri.
Tarmizi Karim seharusnya lebih sadar diri bahwa dirinya belum pernah menjadi Gubernur. Dia hanya pernah menjadi pelaksana tugas dan pejabat gubernur saja, bukan gubernur. Kalau saja dia sadar itu, dia akan lebih rendah hati dan bersedia untuk meminta Irwandi Yusuf menerima dirinya menjadi wakil mantan gubernur Aceh 2007-2012 itu.
Bahkan untuk maju sebagai anggota DPRA saja, Abdullah Puteh bekum tentu akan memang. Apaoun latar belakannya ditangkap sebagai koruptor dulu, citra masyarakat bahwa Abdullah Puteh adalah koruptor, sudah tertanam dalam bawah sadar.
Apa Karya juga seharusnya paham bahwa, sekalipun dia mantan petinggi GAM dan punya simpatisan di akar rumput, itu tidak akan dapat membuatnya menang. Yang membuat mantan GAM menang bukan apapun kecuali diusung oleh Partai Aceh. Jangankan Apa Karya, Malik Mahmud saja kalaupun maju sebagai calon Gubernur bukan diusung oleh Partai Aceh, tidak akan menang. Apalagi harus berduel dengan mantan Panglima GAM yang diusung oleh Partai Aceh. Seharusnya Apa Karya rendah diri dengan melibi Mualkem menjadikannya wakil.
Irwandi Yusuf juga masih mengandalkan postpower syndrom. Dia masih terlalu berbangga dengan keberhasilannya dalam melakukan terobosan-terobosan penting selama menjabat Gubernur lalu. Sehingga dia mengira akan menang lagi. Bahkan memilih wakil dari orang yang tidak dikenal baik oleh masyarakat. Namun ini akan berbeda jika Tarmizi Karim menjadi wakilnya.
Bila Irwandi yang punya terobisan besar saja sulit akan menang, apalagi Zaini Abdullah. Seharusnya dia beristirahat saja. Usia sudah uzur. Sebelumnya dia menang karena diusung PA dan wakilnya adalah Muallem. Selama menjabat dia menunjukkan betapa lemahnya kepemimpinan mantan kombatan, dan memberi perbandingan mencolok betapa bibroknya mereka dibandingkan Irwandi. Menjadi wakil Zaini agak menyelamatkan Muallem karena rakyat akan mengira kelemahan pemerintah petahana karena lemahnya Zaini. Dan Muallem akan dicitrakan sebagai korban karena posisi sebagai wakil menyulitkannya mengambil keputusan penting. Meskipun sebenarnya bila Muallem menjadi Gubernur, pemerintah menjadi semakin lemah.
Meski demikian, Muallem tetap punya peluang besar. PA dan posisinya sebagai mantan Panglima akan menjadi penentu terbesar. Jangankan dengan TA Khalid, memasang ayam saja sebagai wakilnya, Muallem akan menang. Tapi dia harus bersiap-siap menginap di Nusa Kambangan setelah menjabat gubernur karena tampaknya dia sangat lemah berada dalam lumpur birokrasi. Bahkan mungkin lembaga terkait sudah mengantongi beberapa pasal yang dapat menjerat Muallem selama menjabat wakil Gubernur. Namun karena intelijen masih sangat menghormati mantan kombatan, kasusnya disimpan dulu. Karena bila buru-buru “mengangkat” mantan panglima, mantan kombatan yang masih agak solid akan melakukan reaksi berlebihan dan mengganggu stabilitas Aceh.
Wallahu’alam.
Minggu, 02 Oktober 2016
PILKADA ACEH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar