Sabtu, 08 Oktober 2016

SOMBONG

Saat wisuda magister,  saya terlihat sombong. Tapi sebenarnya saya sedang memikirkan nasib saya setelah menjadi Magister. Kalau menjadi sarjana dan menganggur, itu sudah lumrah di negeri ini. Tapi saya harus membayangkan magister yang menjadi pengangguran.



Sedihnya lagi, bila memilih menganggur, saya makan apa? Makan ijazah yang sudah ditandatangani Anies Baswedan? Kalau melanjutkan berjualan kolor, apakah itu ga malu-maluin? Kalau saya secara pribadi tidak malu. Saya mempertimbangkan jutaan pelajar dan mahasiswa di Indonesia yang akan malas sekolah melihat Magister saja jualan kolor. Jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi.

Saya tahu Mak sangat sedih, tapi tidak pernah bilang, saya masih saja jualan kolor sekalipun sudah sarjana, sudah magister. Saya tidak tahu bagaimana Mak menghadapi pertanyaan dan cibiran orang selama bertahun-tahun tentang anaknya yang jualan kolor keliling tetapi sudah sarjana. Dan sekarang momok itu semakin besar karena sarjana itu telah manjadi magister dan akan tetap berjualan kolor.

Tidak ada pilihan. Saya pulang dan tetap berjualan kolor. Kami harus makan. Kakak tidak punya penghasilan. Adek juga. Kami harus makan. Saya sadar rezeki saya dan mereka disampaikan Allah melalui kantong plastik yang saya pikul dipundak setiap hari berkeliling di pasar-pasar dan terminal. Saya sendiri tidak canggung. Saya tahan banting. Mental saya ditempah Brigade PII dan Pendidikan Instruktur. Saya memikirkan Mak dan jutaan pelajar yang akan kehilangan semangat mencapai pendidikan tinggi.

Mak. Ibu yang luarbiasa sempurna. Saya tahu hatinya menjerit dan menangis. Mungkin dalam tangis itulah Mak bermunajat dan Allah menjawabnya dengan mengirimkan alkimia kepada saya. Kepada kami. Kepada kita. Alkimia merubah logan biasa menjadi emas.

Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar