Kamis, 16 Juni 2016

OSPEK

Saya orangnya sangat sederhana. Dalam berpikir dan bertindak. Dalam memutuskan untuk kuliah, saya hanya berpikir begini: kalau saya tidak kuliah, toh waktu lima tahun akan berlalu juga. Kalau saya kuliah, lima tahun kemudian, walau belum tamat, setidaknya telah menjalani beberapa semester. Demikian sederhananya saya merencanakan kuliah. Sesederhana saya menjalani orientasi mahasiswa baru, yang kami sebut ospek.


Sebagai mahasiswa baru, teman-teman sangat antusias mengikuti ospek. Saya tahu itu adalah luapan emosi yang tidak terkendali. Dan itu dialami hampir semua calon mahasiswa. Juga hampir semua mahasiswa kehabisan semangat untuk kuliah setelah tiga tahun menjalaninya. Saya juga tahu itu. Karena itu, saya tidak mahu membuang energi di awal kompetisi. Sehingga saya tidak terlalu membuang energi sebelum bertanding.

Mentor memerintahkan semua calon mahasiswa membawa lima jenis buah, lima rasa, lima warna. Jam lima sore pulang orientasi, hampir semuanya berangkat ke Kota Banda Aceh yang berjarak duabelas kilometer untuk membeli buah-buahan. Saya sendiri langsung melupakan perintah itu sepulang ospek.

Keesokan harinya, saya melihat teman-teman semuanya membawa buah yang diperintahkan. Umumnya membawa dalam bentuk parsel seperti orang pergi menjengung orang sakit.

Saya menumpang di rumah famili yang tidak jauh dari kampus Abulyatama selama ospek. Saya jadi teringat kembali perintah mentor kemarin. Disuruh membawa lima jenis buah, lima warna dan lima rasa. Tiba-tiba saya panik. Di mana saya bisa mendapatkan itu? Waktu tinggal lima menit.

Karena ekspektasi saya sederhana, demikian pula saya menyikapi masalah di depan mata ini. Buah, dalah bahasa Aceh adalah 'boh'. Banyak boh di dapur. Di bawah meja ada buah ubi ( boh bi). Saya ambil sebatang. Di rak bumbu ada buah tomat (boh tomat). Saya ambil satu. Di belakang rumah ada pohon jambu bintang (boh limeng sagoe). Saya petik satu. Di depan rumah ada pohon kelapa hibrida (boh u). Saya ambil tangga. Saya petik satu. Sudah ada empat. Tinggal satu lagi. Saya berpikir cepat. Teringat waktu ambil tomat tadi, ada saya lihat kentang (boh gantang). Saya kembali ke dapur. Saya ambil satu. Kelima jenis buah itu saya masukkan ke dalam goni. Mandi. Pakaian. Berlari ke kampus.

Teman-teman mengantarkan semua buah bawaan mereka ke hadapan mentor. Saya bergeming. Mentor membentak. Saya tetap bergeming. Saya goyang. Mereka bawa apel, kiwi, pearl dan buah-buah mewah lainnya. Mereka merampas goni saya. Goni direbut paksa oleh salah seorang mentor. Diruwahlah goni itu. Melompat kelapa keluar. berguling-guling. Lalu jatuh boh bi. Menyusul boh gantang. Berguling juga. Lalu jatuh boh limeng sagoe. Retak. Tomat enggan meluncur. Saya mulai panik. Mentor melototi. ''Kok, empat!'' teriak salah seorang.

Dilongok ke dalam goni. Lalu kepala dikeluarkan. Tangan dimasukkan. Diambil tomat yang sudah hancur-lebur. Rupanya terhimpit kelapa. ''Apa semua yang kamu bawa ini?''

''Lima jenis buah, lima warna, lima rasa rasa'' jawab saya.

Mentor berunding.

''Salah seorang mentor cewak yang manis, belakangan saya ketahui dia orang Aceh Utara, mendekati. ''Kamu bisa bedakan buah dengan sayur?'' setengah membisik.

''Sayur?'' saya tidak mengerti.

Saya lupa hukuman yang diberikan. Yang jelas, saya menjadi peserta yang paling terkenal selama ospek. Lima buah memberi andil besar. Tak heran kenapa saat pemilihan komting, saya menang telak. Ada empat puluh siswa di kelas kami.

Saya mendapat empat puluh suara. Hanya dua orang yang tidak memilih saya. Saya dan teman perempuan Iwan memilih dia. Didaulatlah dia sebagai wakil.




        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar