Senin, 03 Desember 2018

Tarjuman Al-Mustafid Karya Syaikh Abbdurrauf As-Singkili

Peter G Riddle ("Tafsir Klasik di Indonesia, Studi tentang Arjum Al-Mustafid Karya 'Abd al-Rauf al-Sinkili", dalam kusmana dan Syamsuri, ed, Pengantar Kajian Al-Quran: Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian, Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2004, h. 203) mengatakan munculnya pendapat umum bahwa Tarjum Al-Mustafid adalah terjemahan dari tafsir Anwar  al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil karya Al-Baidawy karena ulan Snouck Hurgronje yang yang menyaring inti isi halaman-halaman karya As-Singkili, melihat rujukan tafsir Al-Baidawy secara sekilas, kemudian menyimpulkan bahwa Tarjum adalah terjemahan tafsir Al-Baidwy. 

Rinkle awalnya juga sependapat dengan Hurgonje. Tetapi lama-kelamaan setelah meneliti secara mendalam dia mulai sadar bahwa tarjum itui bukan terjmahan tafsir Al-Baidhawi. Tetapi klaim Hurgronje telah terjanjur diterima. Sehingga cetakan-cetakan Tarjum setelahnya yang terbit di Mesir, Singapura dan Indonesia telah mencantumkan keterangan bahwa Tarjum adalah terjemahan tafsir Al-Baidawi. Keterangan ini diperkuat tiga ulama Melayui di Makkah. 

Riddel sendiri mengemukakan, pemeriksaan sekilas terhadap Tarjum langsung dapat ditemukan bahwa karya itu bukan merupakan terjemahan dari tFsur Baidawi. Pembahasan tentang Zulkarnain misalnya, menunjukkan bahwa alih-alih mirip dengan tafsir Baidawi, pembahasan tersebut lebih dekat dengan Tafsir Jalalayn (h. 206). Sementara dalam menafsirkan tentang Kisah Khaidir, As-Singkili secara eksplisit merujuk karya Al-Khazin, Lubab al-ta'wil fi Ma'ani al-Tanzil. 

Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa As-Singkili menyusun tafsir dengan merujuk berbagai literatur tafsir lainnya. Terlihat Tarjum itu adalah tafsir yang punya fokus tinggi pada sistem pentakwilann ditandai dengan rujukan tafsir-tafsir yang akrab dengan sistem takwil. Bahkan murid AsiSingkili, Baba Daud Rumi mengatakan bahwa lebanyakan referensi sejarah dalam Tarjum merujuk kepada tafsir Khazin. 

Ridder (Transferring a Tradition: 'Abd al-Ra'uf al-Singkil's Rendering into Malay of Jalalayn Commentary, Berkeley, CA: CSSAS, University of California, 1990) dan Van Ronker  (Catalogues der Malaische Handscriften in het Museum van het Bataviaasch Genootchap van Kunsten en Wetwnschappen", VKIVII) malah melihat Tarjum lebih mirip dengan Tafsir Jalalayn. Dalam Tarjum, kutupan-kutipan yang dilakukan  tafsir Jalalayn diberikan nama sumber. Tetapi menurut Ridder, penamaan sumber itu dilakukan Baba Daud Rumi. 

Adakah tafsir berbahasa Melayu sebelum Tarjum? Tidak ditemukan. Kecuali penafsiran ayat-ayat tertentu untuk merespon masalah terkait. Ada satu tafsir utuh tentang Surat Al-Kahfi. Karya itu diperkirakan dikarang pada Masa Hamzah Fansuri atau Syamsuddin Al-Sumatrani. Riddle mengemukakan, karya tersebut telah diangkut ke Inggris sebelum peristiwa pembakaran karya-karya Hamzah Fansuri dan pengikutnya di hadapan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Saat ini naskah itu berada di Perpustakaan Universitas Cambridge.

Riddle yakin, di antara karya-karya yang dimusnahkan di hadapan Masjid Raya Baiturrahman terdapat tafsir utuh berbahasa Melayu lainnya sebelum trjum-nya As-Singkili. Tapi karya itu telah punah (h. 210-211).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar