Kamis, 22 November 2018

Ikan Tongkol Masuk Surga

Kita sering terjebak identitas. Mungkin sebab itulah fanatisme itu tidak positif. Orang menjadikan identitas sebagai idol. Saya belajar banyak dari studi Kesultanan Peureulak. Awalnya juga saya mempercayai konflik Kesultanan Peureulak adalah kontestestasi identitas Sunni dan Syiah. Tetapi setelah mendalaminya, saya menemukan konflik itu adalah antara esoterisme dan eksoterisme. Kedua kelompok bertikai itu direpresentasi oleh genealogi biologis yang sama yakni keturunan Ali bin Abi Talib.

Ternyata Perang Salib juga demikian.



Perang Salib itu kita klaim sebagai perang antara identitas Kristen dan Islam. Tetapi setelah mencermatinya, dapat ditemukan bahwa perang itu hanya strategi stabilisasi Timur dan Barat yang dilematik. Ditemukan bahwa perang itu hanya strategi Barat menguras uang masyarakatnya untuk ditimbun penguasa dengan dalih pajak perang.

Untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, lembaga agama disorong untuk meyakinkan bahwa pajak-pajak itu harus dibayar untuk tujuan suci yakni melindungi agama. Agama memang sangat mudah dijadikan kompor.

Dalam film Robin Hood 2018 diungkapkan bahwa harta yang ditumpuk Raja Inggris itu sebagian diberikan kepada Arab. Tujuannya sangat konyol yakni supaya mereka mendapatkan keamanan dari Arab.

Kalau demikian, bila upeti sudah memadai, maka untuk apa Perang Salib?

Di sinilah kelicikan berlaku. Raja Inggris menciptakan situasi perang untuk mendapatkan perang pajak perang dari masyarakatnya. Padahal yang terjadi uang itu sebagiannya untuk membayar pajak kepada Arab.

Saya menduga, Arab menerima pajak itu sebagai jaminan bagi masyarat Kristen untuk dapat beribadah ke Yerussalem. Arab memalui paham Islamnya menerapkan sistem politik perlindungan dan jaminan kemerdekaan dengan syarat memberi upeti. Dan Inggris melakukannya untuk Arab.

Sistem politik ini yang diterapkan Inggris hingga saat ini.

Menariknya adalah, seperti Peureulak, ternyata baik Arab dan Inggris rajanya juga adalah bergenealogi biologis kepada Ali bin Abi Talib. Raja Inggris bergenealogi melalui Raja Spanyol.

Tetapi untuk apa mereka mereka merekayasa perang dan bertikai?

Sebenarnya mereka tidak berperang, tidak bertikai. Yang bertikai adalah "ummat",  "rakyat".  Hal ini juga terjadi di Indonesia hari ini. Keturunan Ali bin Abi Talib juga.

Petinggi FPI bergenealogi biologis sama dengan petinggi NU. FPI berkonflik dengan NU? Ya. Tetapi apakah Habib Rizik berkonflik dengan Said Aqil? Tidak. Sunni berkonflik dengan Syiah. Anak SD tahu itu. Tetapi apakah Imam Jafar berkonflik dengan Imam Syafii? Tidak. Mereka hanya beda pendapat. Menurut Imam Jafar, yang lebih enak itu ikan tongkol. Menurut Imam Syafii yang lebih enak itu ikan bandeng.

Tetapi yang bertikai itu kita. Ummat ikan tongkol mengatakan ummat ikan bandeng sesat. Tongkol mengatakan bandeng bukan ikan. Bandengan mengatakan tongkol itu kafir. Tongkol mengatakan bandeng tidak akan masuk surga. Bandeng mengatakan tongkol kekal di neraka.

Lantas siapa yang di surga?

Semoga yang like status ini yang di surga.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar