Senin, 10 Desember 2018

Jayalah Negara Abadi Sepanjang Masa

Jayalah negara. Abadi sepanjang masa. Tidak ada yang lebih mulia daripada cinta negara.

Untuk apa sebuah negara didirikan? Alasan apa Indonesia diproklamasikan?
Bagaimana ratusan kesultanan dileburkan di bawah satu bendera? Mungkin niatnya amat tulus, setulus hati para bendiri bangsa. Mereka siap menerima segala seriko terburuk dengan memproklamasikan Indonesia. Para pendiri bangsa mempertaruhkan nyawa demi independensi maayarakat Indonesia. Dan kita menjadi negara yang berdaulat. Tetapi itu tidak lama.



Indonesia sebagai sebuah jati diri yang utuh hanya bertahan selama pemerintahan Soekarno. Tiga bulan setelah dia diturunkan, Indonesia menandatangani kesepakatan pendaratan modal asing, Bank Dunia, elit global. Sejak itulah petaka dimulai.

Tujuan didirikannya sebuah negara, bagi Indonesia baru benar-benar dimulai dua puluh tahun setelah merdeka. Sebuah negara harus mampu menghasilkan banyak uang untik disetorkan kepada Bank Dunia. Bila ada negara yang tidak bersedia berhutang kepadanya, maka akan dilakukan berbagai cara: presidennya diturunkan, invasi militer asing, berdirinya negara boneka. Singkatnya, sebuah negara harus menjalankan peran utama yakni mengumpulkan uang untuk disetorkan kepasa Bank Dunia yang dikelola elit global.

Untuk menghasilkan uang, sebuah negara harus memaksa rakyaknya bekerja keras mengumpulkan uang. Uang rakyat ditarik melalui pajak, isi saldo, pulsa, bea cukai, biaya jasa dan seterusnya. Setiap produk yang dibeli, setiap jasa yang dipakai sebagiannya disetorkan kepada negara. Lalu negara menyegorkannya kepada elit global.

Intinya negara dipaksa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Apa resokonya?

Untuk menghasilkan banyak uang, rakyat dipaksa bekerja. Bekalnya dipersiapkan. Mulai dari doktrin etos kerja hingga loyalitas kepada negara. Kepada setiap warga negara ditanamkan pola pikir sekolah itu mulia dan tidak sekolah itu hina. Sehingga muncul semangat untuk masuk ke kelas dan belajar aksara romawi. Dengan sekolah, masyarakat diiming ingingi stratasosial yang tinggi. Masyarakat ditakut-takuti bila tidak sekolah akan digerus zaman, akan menjadi terhina.

Padahal tujuan sekolah adalah peraiapan untuk menjadi pekerja yang menghasilan banyak uang. Uang disetor kepada negara melalui produk prosuk yang dibeli. Lalu negara pakai untuk bayar hutang.

Dengan pergi ke sekolah, manusia indonesia yang berasal dari berbagai kebidayaan dan kearifan masing-masing ditempah menjadi manusia satj dimensi: belajar ilmu-ilmu konvensional yang telah dietapkan otritas negara terkait pendidikan. Olmu-ilmu yang diajarkan adalah imu ilmu yang ditegapkan oleh elit global untik dipelajari: membaca dan menilis aksara romawi, manusia itu adalah kera, bumi itu bulat, Amerika itu hebat, Indonesia itu terbelakang, menjadi pilot dan polisi itu bagus, menjadi petani dan nelayan itu buruk, dan seterusnya.

Pada Orde Baru, untuk memenuhi tuntutan kapital, negara memaksa semua masyarakat dapat membaca romawi. Orang yang tidak dapat membaca romawi disebut buta huruf, dan predikat itu memiliki kesan sangat buruk. Namun ternyata pemaksaan untuk mampu membaca romawi bertujuan untuk menghegemono pengetahuan. Melalui huruf romawi, manusia Indonesia diguring untuk akses pengetahuan hanya yang berasal dari abjad itu saja. Segala produksi kebohongan, propaganda, mind blowing digencarkan melalui abjad romawi via sekolah, buku, majalah, koran dan sebagainya.

Ternyata tujuannya bukan untuk mencerdaskan, melenceng dari cita cita pendisikan nasional. Kemampuan membaca tujuannya untuk cuci otak dan akses produk produk kapital. Dengan kemampuan membaca, manusia dipaksa mengkonsumsi produk produk industri kapital.

Bahasa indonesia diniatkan sebagai bahasa untuk menyatukan suku suku  diindonesia berubah menjadi menakutkan ketika orang orang menjadi minder berbahasa daerah. Dengan sesama, denganntetangga saja harus berbahasa indoneaia. Sehingga seketika membuat yang dekat terasa jauh, membuat yang cair menjadi beku. Parahnya lagi anak anak dibiasakan berbahasa indonesia sehingga banyak kearifan lokal seperti pepata, syaor pantun daerah yang menjadi sarana pembentukan keimnan, kepribadian, moral dan kebijaksanan yang biasanya ditransformasikan melalui lisan tidak bisa dilakukan lagi karena bahasa daerah sudah dianggap sebagai bahasa yang rendah.

Kampanye bangga berbahasa indoneaia benar benar berhasil dengan efeknya adalah malu berbahasa daerah. Satu persatu bahasa daerah punah. Kearifan lokal ikut punah.

Lihatlah dulunya bahasa jawa, dengan aksara jawa, kitab kitab jawa yang di dalamnya mengamdung ajaran kebijaksanaan dan menjawab seluruh tuntutan untuk bagaimana berkehidupan kini tidak lagi bisa diakses oleh orang jawa. Kampanye pengentasan buta huruf romawi menyebabkan buta huruf jawa. Padahal bagi orang jawa, lautan ilmu itu ada dalam karya agung yang berbahasa jawa ditulis dengan huruf jawa. Tetapi mereka dipaksa meninghalkan itu. Dipaksa membaca huruf romawi yang dalam bahasa itu tidak ada literatur tentang ajaran moral, kebijaksanaan yang dalam dan sesuai bagi orang jawa.

Akhirnya sekarang apa yang terjadi? Segala ajaran moral, kebijaksanaan, sejarah dan lainnya yang ditulis dalam bahasa jawa menjadi tidak terakses, kitab kitabnya menjadi tak berharga karena tidak bisa dibaca, akhirnya diabaikan dan punah. Padahal kebijaksanaan bagi orang Jawa yang paling sesuai adalah apa yang ditulos dalam kitab kitab jawa.

Ratusan suku lain di Indonesia juga mengalami nasib yang sama.

Niatan mendirikan negara itu adalah cita cita yang sangat mulia. Tetapi ketika modal asing berbasis globalisme, maka itulah sumber petaka. Layaknya seseorang meminjam modal di bank, maka dia harus bekerja sekuat tenaga agar dapat menutupi cicilan hutang ditambambah bunga. Demikian juga negara kita.

Kita harus mengorbankan sumber alam, mengeruk gunung, merusak sungai ambil pasirnya, memusnahkan bukit-bukit, menambang segala sumberdaya yang ada, membabat hutan-hutan Indonesia yang sangat kaya. Kita harus membuat harimau, orang utan, anoa, komodo, beruang punah.

Dsngan sistem kapital, satu orang manusia bisa membabat sepuluh ribu hektar hutan untuk ditanami sawit. Padahal dulunya satu keluarga bisa hidup dengan hasil kebun setengah hektaf. Di sana ada ranting buat perapian memasak, tidak perlu bergantung pasa gas wlpiji yang dikuasai negara. Ada sayuran dan sebagainya. Bahkan ada beberapa hasil tanaman tertentu yang disa menxukupi kebutuhan satu keluarga. Hanya dwngan setengah hektar. Bandingkan dengan sistem kapital yang mengizinkan satu orang membabat swpuluh ribu hektar. Hutan rusak, alam menuai bencana, manusia dan ekosistem rusak.

Sebab itulah saya tidak pernah setuju dengan dana desa. Dana itu membuat hegemoni negara menjangkau desa. Seharusnya masyarakat bisa hidup harmoni tanpa bergantung pada negara, sehingga kalau megara collapse, masyarakat bawah dapat bertahan. Masyarakat bawah seharusnya tidak perlu ikut dilibatkan dalam ekonomi politik global.

Tetapi itu adalah bagian dari konspirasi. Masyarakat dilibatkan supaya mereka ikut ambruk ketika dana global mengcollapskan sebuah negara.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar