![]() |
| Foto: ACT Bireuen |
Dari mana kita ambil material untuk membangun infrastrukr-infrastruktur itu? Dari alam, kita mengeruk bukit dan kaki gunung, kita menambang pasir. Alam menjadi tidak stabil. Saat hujan datang, terjadi banjir bandang.
Kita menggunduli hutan untuk tanam sawit. Padahal saat banjir jangankan minyak goreng dan sabun colek, rumah kitapun ikut diseret banjir.

Saya ingat dua tahun lalu banjir menerpa komplek-komplek dayah di Samalanga. Tapi tidak ada fatwa atau kebijakan para ulama yang masuk Muspida untuk menasehati pemerintah agar mengontrol tambang dan perkebunan. Tidak ada fatwa. Mungkin karena dalam kitab fikih kita tidak ada tentang hukum tambang dan perkebunan?
Mungkin juga agama tidak bisa diandalkan untuk perkara bencana alam? Mungkinkah agama kita hanya untuk memandikan orang di comberan dan mencambuk manusia di depan masjid?
Bila benar demikian, mari kita andalkan akal saja untuk mengatasi perkara ini. Jangan hanya karena dibayar dua ribu rupiah per truk, kita izinkan pasir dan tanah ditambang. Jangan karena lima puluh ribu rupiah untuk banting tulang di kebun sawit dari subuh hingga magrib kita biarkan hutan dibabat hingga puluhan ribu hektar untuk ditanami sawit dan itu hanya dimiliki oleh satu orang.
Bila ini tidak dipedulikan, maka negara harus mengeluarkan dana siaga bencana puluhan kali lipat dibandingkan pajak yang dibayar penambang, hasil tambang dan perusahaan perkebunan. Bila ini dibiarkan, maka uang rakyat yang sangat banyak dipakai untuk pembangunan infrastruktur hanya untuk hancur pada waktu alam mencoba menyesuaikan diri dari kerusakan yang kita lakukan.Untuk hidup di dunia yang hanya beberapa saat, kalau tidak bisa menjadi orang baik, setidaknya kita bisa mengimbangi kemuliaan binatang ternak. Mereka memamah beberapa helai rumput, tetapi membayarnya dengan kotorannya yang memberikan kesuburan yang menumbubkan kembali rumput-rumput.
Kita membutuhkan teologi ekologis, fikih lingkungan dan itu harus muncul dari ulama, bukan dari dosen iain. Dosen iain ilmu agamnya untuk mempercantik proposal penelitian, proposal cair beli rumah dan mobil. Ilmu dosen iain untuk menulis artikel terindeks scopus. Terbit dalam bahasa yang tidak dia kuasai. Setelah tulis tidak bisa baca lagi.
Kita butuh kesadaran lingkungan. Kita butuh kebijakan pembangunan yang berbasis ekologi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar