Jumat, 14 Desember 2018

HAJI HASAN MUSTAPA

Haji Hasan Mustafa adalah seorang ahli fikih yang pada periode akhir kehidupannya memilih tasawuf falsafi sebagai jalan yang diyakini dapat menghantarkannya menuju Tuhan. Dia adalah seorang tokoh yang membuat masyarakat jengkel dengan reputasinya karena sangat dekat dengan Pemerintah Hindia Belanda (kolonial). Sejak kecil, Mustafa sudah akrab bergaul dengan anak-anak kolonial karena memang dia termasuk keturunan bangsawan.
Snouck adalah teman baiknya. Dia memanggil orientalis itu dengan 'kakak'. Konon pertemuan pertamanya dengan Snouck di Hijaz. Dia pernah menyelamatkan nyawa sarjana Belanda itu ketika akan dibunuh akibat penyamarannya terbongkar. Tetapi Mustafa berhasil meyakinkan otoritas di Hijaz bahwa Snouck tidak berbahaya.

Begitu dekatnya Mustafa dengan Kolonial, bahkan ketika ditugaskan di Kutaraja Aceh sebagai penghulu, dia menyebut orang Aceh yang melawan Belanda sebagai musuh. Ini dapat dimaklumi karena memang dia bekerja di bawah Pemerintah Hindia Belanda. Meskipun demikian, Mustafa bersikap sangat kritis terhadap pemerintah kolonial. Bahkan dia ikut terlibat dalam usaha-usaha awal revolusi yang ditandai dengan keterlibatannya pada Kongres Sarikat Islam di Bandung pada 1916 (Jahroni, 2018: 412).

Dalam pemikiran Mustafa, antara kebutuhan lahiriyah dan batiniah memang harus seimbang. "Harus sama seimbang, bagai sejajarnya mata kaki, wujud dalam alamnya, maju tidak mundur tidak, nanti merusak rasa, bagai pinggan bersanding dengan piring", demikian pernyataan Mustafa sebagaimana dikutip Jajang Jahroni, ("Menemukan Haji Hasan Mustafa (1852-1930)" Studia Islamika, v. 25,  n. 2h. 409). Bagi Mustafa, tasawuf tidak hanya sebagai jalan menuju Tuhan tapi juga suatu filosofi yang suci.

Mustafa telah menulis lebih dua puluh ribu bait syair yang umumnya membahas tentang perasaan mistiknya dan mengarang puluhan buku dalam tema seperti tasawuf, tafsir, fikih, adat, sastra, budaya dan sejarah. Dua karya utamanya adalah 'Gending Dangding Sunda Birahi Katut Wirahmana' yang berisi selebrasi kebahagiaan bertemu Kekasih dan 'Adji Wiwitan Martabat Tudjuh' yang mengulas tentang ajaran tasawuf martabat tujuh sebagaimana yang diajarkan Fudhullah Burhanpuri, Syamsuddin Sumatrani dan Syaikh Abdul Muhyi (Miswari, Filsafat Terakhir, 2016). 

Pengaruh ajaran Abdul Muhyi yang juga dari Sunda sangat terasa pada ajaran Mustafa. Selain mengikuti ajaran martabat tujuh, Mustafa juga sama dengan Abdul Muhyi mengikuti tarekat Syatariyyah yang dikembangkkan di Nusantara oleh Syiah Kuala.

Dengan pengaruh ajaran wahdatul wujud, Mustafa melakukan pemaknaan ulang terhadap cerita dan legenda Sunda seperti Nyi Pohaci Sanjang Sari, Mundinglaya, Dikusuma dan Dayang Sumbi. Pengkajinya berpendat, pemaknaan ulang atas legenda-legenda itu bertujuan mentransformasikan ajaran Islam melalui cerita-cerita yang dekat dengan masyarakat.

Mustafa memang gemar menulis ajaran wahdatul wujud melalui sastra. Dia dianggap orang pertama yang memperkenalkan ajaran itu melalui sastra puisi. Setidaknya untuk Tanah Sunda. Di tangan Mustafa, sastra menjadi media yang lebih luas karena telah dijadikan media komunikasi ajaran-ajaran sakral seperti wahdatul wujud, disamping ajaran-ajaran lainnya. Esoterisme memang sangat mampu ditampung oleh sastra karena mampu mengomunikasikan pesan-pesan yang luas dan abstrak. 

Awalnya Mustafa sangat bersemangat menyebarkan ajaran-ajarannya, khususnya tentang wahdatul wujud. Tetapi usaha ini membuatnya menuai resistensi dan dikucilkan masyarakat. Dia mulai dituduh sesat. Akibatnya, dia menarik diri dari usaha-usaha tersebut. Tetapi Mustafa tetap menuliskan pikiran-pikirannya untuk dirinya sendiri dan sahabatnya Snouck. Setiap menulis sebuah buku, Mustafa tetap mengirim satu salinan ke Belanda. Sebab itulah, koleksi lengkap karya Mustafa hanya dapat ditemukan di Belanda.

Karena ajaran wahdatul wujud adalah barang langka dan sulit dipahami, maka Mustafa enggan mempublikasikan karya-karyanya. Mustafa sadar bahwa ajaran tersebut bukan untuk dikonsumsi masyarakat umum.

Setelah meninggal pada 1930, ajaran-ajaran Mustafa tidak lagi dikenang masyarakat sehingga namanya nyaris tenggelam. Masyarakat juga kurang menyukai Mustafa karena dia terlalu dekat dengan Kolonial.

Bagi peneliti Nusantara, khususnya generasi muda Sunda perlu meneliti lebih dalam karya-karya Haji Hasan Mustafa. Dalam ajarannya, tersimpan pesan-pesan yang dibutuhkan bangsa Indonesia hari ini yang terjebak dalam prinsip radikal, intoleran dan krisis identitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar