Senin, 17 Desember 2018

ISLAM AGAMA DAN ISLAM SIMBOL


Kitab kuning yang dipelajari anak dayah atau pesantren tradisional itu seperti ini: Tidak akan dipahami jika tidak berinteraksi langsung. Kitab-kitab itu hanya menjadi simbol yang menuntut penjelasan yang sudah dijelaskan secara langsung oleh orang yang telah dijelaskan secara langsung, demikian seterusnya hingga penulisnya. Ini tentu berbeda dengan orang yang langsung mengambil kitabnya, membaca sendiri lalu membentuk makna yang jadinya tidak sesuai dengan maksud penulisnya. Tentunya tetap ada reduksi hermeunetis dalam proses penjelasan langsung saat kitab itu disyarah. Tetapi tidak seberapa dibandingkan orang yang mengambil dan membacanya tanpa mendengarkan penjelasan secara langsung.

Maka dari itu, jangan kagum dengan orang yang bisa menghafal kitab yang dipelajari di dayah, sekalian ingat halamannya, tetapi bila dia tidak pernah di dayah, maka dia hanya seperti tape recorder yang bisa kerekam, tetapi tidak paham. Lalu menyerang orang dayah. Ini dilakukan beberapa dosen iain.
Banyak orang mempertanyakan kenapa santri ketika tamat dari pondok tidak menggunakan atribut atribut yang kerap diidentikkan dengan agama. Karena selama puluhan tahun mereka belajar di pondok, agama telah menjadi substansi bagi mereka. Mereka belajar agama untuk iman dan amal, bukan untuk ditempel di topi, sepatu, baju, dan bendera. Mereka dari kecil sudah diajarkan untuk menghormati kalimat sakral.
Tetapi mereka yang belajar agama enam hari di pesantren kilat, ikut liqo dua minggu sekali selama dua jam, belajar agama dari orang yang belajar agama melalui buku dan internet, akan berpenampilan sangat simbolis. Mereka menghina kalimat tauhid dengan menempelnya di baju dan topi, dimasukkan ke wece, diupel upel saat dicuci.
Jangan heran kenapa alumni dayah itu berpakaian biasa saja. Laki laki hanya mengenakan kaos oblong dan celana jins dan perempuan hanya pakai kebaya dan jilbab segitiga. Karena agama sudah menyatu dengan jiwa mereka. Mereka tidak beragama dengan simbol. Agama itu telah menjadi jiwa mereka.
Bede dengan sebagian alumni psantren kilat. Baru pakai cadar setelah 93124111411 hilang sebelum menikah. Baru masuk pesantren kilat setelah saring kawin kilat di kebun karet. Setelah tamat pesantren kilat, semua dianggap sesat. Anak dayah dibilah kolot. Hanya dia yang masuk surga.
Jangan heran kalau umumnya alumni dayah itu hanya memelihara kumis dan selalu membersihkan jenggot. Karena mereka bukan belajar agama melalui kitab terjemahan toha putra semarang yang penggalan haditsnya diposting dalam sebuah blog milik alumni pesantren kilat.
Alumni dayah sudah belajar agama sebelum mampu membaca romawi. Mereka belajar agama mulai dari kaidah paling mendasar secara sistematis dengan penjelasan dari orang yang telah dijelaskan oleh yang menjelaskan, secara muktabar hingga penulis kitabnya. Berbarengan itu mereka melaksanakan apa yang dipelajari secara terus menerus di bawah bimbingan orang yang benar benar paham dan juga menjiwai agama.
Mereka bukan orang yang baru belajar agama melalui buku terjemahan di pesantren kilat yang diikuti setelah masuk universitas. Satu hari setelah gelaran pesantren kilat langsung beli gamis, pakai cadar, dan yang laki laki langsung beli minyak firdaus untuk menumbuhkan jenggot.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar