Rabu, 21 November 2018

Keindahan dan Kebijksanaan Himba

Begitu indah setiap orang di Himba. Bila seorang perempuan memutuskan untuk memiliki anak, maka dia pergi berteduh pada sebuah pohon. Di sana dia mendengar hingga daoat mendengar sebuah lagu. Lalu dia mencari pasangannya dan mengajarkan lagu itu kepadanya. Berdua mereka menyanyikan lagubitu sebagai doa dan undangan untuk kehadiran anaknya. Mereka mengajarkan lagu itu kepada bidan dan orang tua kampung agar mereka dapat menyanyikan lagu itu untuk menyambut kelahiran.




Lagu itu diajarkan kepada warga. Bila seseorang melakukan pelanggaran norma dan kesepakatan kampung maka dia dikelulungi dan dinyanyikan lagunya. Dia diingatkan kepada identitas dirinya, kepada cinta dan kebijaksanaan dirinya.

Satu orang satu lagu, itu lebih bagus daripada satu lagu untuk banyak orang. Bahkan lagu itu dipaksakan untuk dinyanyikan orang lain atau kelompok lain yang punya lagu sendiri untuk kelompoknya.

Hukuman dengan cinta, bukan dera dan siksa, sebenarnya adalah makna asli hukum itu sendiri yang berasal dari kata ha ka ma yang berarti kebijaksanaan. Kalau ada orang melanggar hukum, berarti dia sedang jauh dari kebijaksanaan sehingga perlu kebijaksanaan itu didekatkan kembali kepadanya. Kalau seseorang yang melanggar diberi sanksi, di dera dan disiksa, itu malah semakin membuat kebijaksanaan jauh darinya sehingga dia menjadi semakin jahat.

Kita mengatakan sebuah kebudayaan itu primitif karena primitifnya pengetahuan dan pengalaman kita terhadap mereka.

Menurut saya suku Himba jauh lebih beradab, indah dan bijak daripada suku-suku yang berboros kain hingga membungkus wajah dan menyapu lantai. Suku-suku yang masih pakai rotan dan suka mengadakan sayembara dengan pagelaran cambuk itu adalah suku-suku primitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar