Setiap terbangun tengah malam, ketika pertama mata terbuka, sama-samar saya melihat di sekitar saya adalah seperti si dalam rumah ini. Saya sudah melihatnya ratusan kali setiap saya terbangun malam. Enta dari mana foto ini. Kalau saya berzikir lebih seratus kali, saya merasa sesang berada di dalam rumah seperti ini. Nyaman sekali. Makanya saya malas berzikir. Nantinya saya tinggalkan semua perginke gunung berzikir terus sampai mati.
Tapi untuk tidak terbangun dan tengah malam saya tidak bisa. Alasan klasiknya kebelet pipis. Ke kamar mandi. Sanggat tanggung itu. Tinggal wudhu. Di kepala saya selalu ada pemilik rumah ini. Kalau saya berzikir atau saat tahiyyat akhir, selalu saya melihat penghuni rumah ini.
Mungkin karena di dalam kepala saya selalu ada penghuni rumah ini, makanya saya sering mimpi beliau. Terharu saya. Keluar air mata saya. Kalau saya bilang begini seolah-olah saya alim bangat. Padahal sudah jam sembilan belum shalat isya.
Tapi untuk tidak terbangun dan tengah malam saya tidak bisa. Alasan klasiknya kebelet pipis. Ke kamar mandi. Sanggat tanggung itu. Tinggal wudhu. Di kepala saya selalu ada pemilik rumah ini. Kalau saya berzikir atau saat tahiyyat akhir, selalu saya melihat penghuni rumah ini.
Mungkin karena di dalam kepala saya selalu ada penghuni rumah ini, makanya saya sering mimpi beliau. Terharu saya. Keluar air mata saya. Kalau saya bilang begini seolah-olah saya alim bangat. Padahal sudah jam sembilan belum shalat isya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar