Senin, 22 Oktober 2018

Banser Bakar Bendera Tauhid

Ribut soal okmum Banser bakar bendera Hisbut Tahrir ya? Sudah nonton film PK? Karena selalu ditempeleng orang akibat ulahnya yang aneh, Si PK menempel gambar tuhan di wajahnya. Jadinya, orang tidak berani lagi menampar wajahnya. Sama seperti beberapa elit politik belakangan ini, Si PK menggunakan simbol agama sebagai alat untuk mewujudkan keinginan pragmatisnya.



Dalam hidup, kita harus pandai membedakan mana yang sakral dan mana yang profan. Agama itu sakral. Simbol-simbolnya juga menjadi konsekuaensi sakralitas agama. Sementara sebuah organisasi itu selamanya bersifat profan. Semua orgamisasi didirikan untuk kepentingan tertentu. Kalaupun ada organisasi yang orientasinya adalah kepada sakralitas sepertin organisasi agama, maka tetap saja itu sebuah 8rganissasi, bukan agama itu sendiri. Semua organisasi adalah alat dan cara mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Sehingga, sekalipun itu sebuah organisasi agama, tetap saja itu adalah alat, fasilitas, sarana.

Masalah muncul ketika pada sarana, pada alat, atau pada organisasi itu ditempelkan manifestasi atau simbol dari sakralitas.

Kesalahan itu berada pada ISIS, HTI, Irak, Iran, Saudi, yang melekatkan simbol sakral pada organisasinya. Organisasi apapun, termasuk negara, itu adalah alat, sarana, tujuan. Sebab itulah saya tidak sepakat dengan adanya konsep negara Islam. Negara itu adalah sarana, alat, sementara Islam adalah agama, sebuah nilai, bukan sistem.

Salah satu resiko ketika mencampurkan yang sakral dengan yang profan adalah, ketika yang profan itu melakukan kesalahan, maka citra buruk berimbas kepada yang sakral. Oknum Banser tidak membakar, sebagai bentuk penolakan atas, kalimat tauhid. Mereka hanya menolak HTI karena itu adalah organisasi radikal, pabrik oara teroris. Kesalahan Hisbut Tahrir adalah memasang kalimat Tauhid sebagai lambang organisasinya, melekatkan yang sakal pada yang profan.

Berbicara tentang pemahaman tauhid, saya kira Banser lebih baik daripada HTI. Banser umumnya santri, belajar agam dengan baik, sistematis, bersama pengamalannya dalam bimbingan guru yang silsilah ilmunya mu'tabar. Sementara HTI? Belajar konsep agama dari buku, tidak sistematis, belum mengajaji Masailul Mubtadi, belum tahu sifat dua puluh, sudah membaca Tarbiyah Jihadiyah Abdullah Azzam. Jadinya tidak mampu menentukan skala prioritas. Belum kerjakan yang wajib, sudah wajibkan yang tidak wajib. Belum tahu cara menutup kelamin, sudah tutup wajah, belum tahu cara memakai celana dalam, sudah pakai masker, ups, cadar maksudnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar