Selasa, 28 Agustus 2018

KURBAN DALAM PERSPEKTIF CINTA

Dalam Fusush Al-Hikam, Ibn 'Arabi mengatakan Nabi Idris berada di maqam 'aliyyah karena dia itu quddus.Posisi ini menunjukkan Idris berada dalam status tidak memiluki kekurangan sebagaimana kekurangan yang dimiliki makhluk dan tidak memiliki kesempurnaan sebagaimana yang dapat dicapai oleh makhluk. 

Dalam perspektif Kesatuan Wujud, wujud itu satu sekaligus meliputi segala sesuatu. "Mutlak" itu sendiri harus dipahami sebatas terminologi, sebatas ungkapan karena pada realitasnya, Wujud Mutlak itu melampaui kemutlakan itu sendiri. Wujud Mutlak yang melampaui kemutlakan itu sendiri ketika wujudnya disandang oleh entitas (yang terbatas) sebagai tanzih, termanifestasi ke dalam tingkatan 'aql dan nafs. Ketinggian entitas terbatas itu terjadi karena penafian kedirian sehingga yang muncul adalah kesatuan. 



Sebagai Realitas Mutlak Wujud itu meliputi segala sesuatu sehingga disebut Latif. Maknanya adala dia menembus segala realitas karena kelembutanNya. Dalam kehadirannya pada suatu nafs, maka satu diri akan mengakui bahwa batin saya bukan zahir saya dan zahir saya bukan batin saya. Ini terjadi karena Mutlak berarti berada di dalam entitas sekaligus berada di luar entitas. Sehingga muncul kaidah "Dia, tapi bukan Dia". 


Realitas Mutlak adalah Wujud. Kemutlakan itu memanifestasikan diri ke dalam bentuk (surah). Sebab itulah Adam dikatakan dijadikan menurut surahNya. Sehingga dengan mengalami situasi ini, ketika entitas melempar, maka sebenarnya yang melempar itu adalah Dia. Ketika dia berbicara, maka sebenarnya yang berbicara adalah Dia. Dan sekaligus Dia yang mendengar. 


Hukum yang berlaku pada entitas juga berlaku pada Mutlak ketika Mutlak berada pada entitas. Hal ini terjadi karena pada eksistensi, hanya ada kesatuan. Sebab itu dapat dikatakan, Realitas itu satu tapi hukumnya banyak. Kemajemukan hukum terjadi karena kemajemukan esensi-esensi. Karena itulah ria itu tidak boleh karena kebaikan yang dilakukan itu adalah tindakan Yang Mutlak, bukan entitas. Tetapi sebala yang buruk itu adalah perlakukan sang entitas itu sendiri karena dia telah menafikan Sang Mutlak. 


Dengan pencampuran antara yang banyak ddari Yang Satu, maka yang banyak itu semuanya kembali kepada Yang Satu, seperti angka, dua, tiga dan seterusnya semuanya adalah berasal dari satu. Kemajemukan pertama itu muncul pada Asmaul Husna. Kaidah "Dia bukan Dia, kamu bukan kamu" bertujuan untuk mengakui realitas Yang Satu. Inilah capaian pengetahuan tertinggin, sebuah ambiguitas, ketidak tahuan. Sebab itulah dalam ajaran kebijaksanaan, khususnya tasawuf falsasi, puncak pengetahuan adalah ketidaktahuan, jahil. Tetapi jahil itu ada dua, jahil pertama adalah jahil sebelum berangkat untuk mengetahui dan jahil kedua adalah kejahilan setelah mengetahui. Segala pengetahuan adalah milik Allah, dan Dialah 'ayn-nya. 


Pengetahuan dan pengalaman manusia puncaknya hanya pada Asma, bukan pada Zat. ZatNya tidak akan pernah diketahui. Tidak ada kemampuan untuk itu. Nabi Muhammad saja hanya berada pada jarak sebusur anak panah, atau lebih dekat. 


Karena dalam tasawuf (falsasi) terdapat Ketunggalan, kemajemukan dan sesuatu di antara keduanya, maka dalam epistemologi 'irfan, terdapat tiga status yakni keberadaan, ketiadaan dan antara ada dan tiada. 


Bagi para nabi, mimpi mereka itu nyata, sebab itulah pengalaman mimpi para nabi diabadikan Alquran. Mimpi Ibrahim, Yusuf dan beberapa nabi lainnya dicatat dengan baik dalam Alquran. Tetapi tidak ada kisah tentang mimpi Nabi Adam. 'Urafa meyakini, kisah Adam di surga, khuldi dan sebagainya itu adalah mimpi Nabi Adam. Kita tidak bisa mengatakan kejadian itu tidak ada, karena bagi 'urafa, mimpi para nabi itu adalah realitas yang nyata. Dengan tawaran ini, maka paradoks Adam akan dijadikan khalifah tetapi dilarang memakan buah khuldi menjadi terselesaikan. 


Mimpi itu ada tiga jenis. Pertama adalah bunga tidur yang tidak berhubungan dengan realitas kecuali imajinasi acak. Kedua adalah mimpi yang kejadiannya paralel dengan realitas. Ketiga adalah mimpi yang disebut 'manam' sebagaimana dialami Yusuf melihat matahari dan sebelas bintang dan mimpi Ibrahim menyembelik Putranya. Ibrahim mengatakan dalam manamnya dia menyembelih Putranya. Putranya itu mengatakan agar ayahnya melakukan apa yang diperintahkan Allah. Ibrahim menterjemahkan mimpinya itu paralel dengan realitas sehingga dia memutuskan akan menyembelih Putranya sebagaimana ditemukan dalam manamnya. Padahal Putranya telah mengatakan untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah, bukan yang yang ditemukan dalam manam. 


Manam yang sebenarnya adalah mimpi yang perlu ditakwil, sebagaimana takwil matahari dan bintang dalam mimpi Yusuf, tidak dilakukan Ibrahim. Ibrahim tidak mentakwilkan mimpinya karena dia menganggap mimpinya bukan manam. Hal ini karena biasanya Ibrahim bermimpi bukan dalam bentuk manam tetapi adalah realitas yang nyata. 


Keyakinan mimpi sebagai realitas ini karena Ibrahim waktu itu berada dalam posisi (maqam) jam, yakni sebuah posisi hanya melihat tuhan saja. Posisi lainnya adalah faraq, yakni hanya melihat makhluk tanpa melihat Tuhan. Sementara posisi jamiyyah ahadiyyah yaitu posisi melihat Tuhan pada setiap makhluk. Posisi satunyalagi adalah posisi nabi dan rasul. 


Cinta juga punya status masing masing. Pertama adalah hubb, yakni kondisi cinta yang masih menemukan dua entitas antara pecinta dan yang dicintai. Kedua adalah asyq yakni melihat dua status tetapi tidak berjarak. Ketiga adalah posisi tertinggi dalam cinta yakni muhayyamah, yakni penyatuan. 


Alquran mereka situasi itu sebagai ujian yang sulit. Padahal bila posisi sulit itu bukan pada pengorbanan Putranya tetapi pada pemahaman mimpi itu perlu ditakwil atau tidak. Ketika Ibrahim memutuskan tidak mentakwil mimpinya dan mengeksekusi Putranya, ternyata yang disembelih adalah kibas. Di situlah Ibrahim sadar bahwa mimpinya harus ditakwil. Kibas adalah simbol ketundukan, diyakini, kibas adalah hewan paling mudah ditundukkan. 


Para penafsir pemikiran Ibn 'Arabi meyakini 'arif dari Spanyol itu berkecenderungan bahwa yang akan disembelih Ibrahim adalah Ishak. Alasannya, mereka menemukan tema pengorbanan memiliki porsi besar dalam pembahasan 'Ib 'Arabi tentang Ishak dalam Fusush Al-Hikam. Ust. Mohammad Nur mengatakan bila pemikiran Ibn 'Arabi ditelusuri secara mendalam, maka akan tampak bahwa menurut pengarang Futuhat Makkiyah itu, yang akan disembelih adalah Ismail.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar