Jumat, 24 Agustus 2018

BARAT

Kami berdiskusi panjang lebar kemarin. Di tempat favorit di Kota Langsa, Rumoh Kupi. Yogi datang untuk mengambil beberapa buku yang telah saya pinjam sebulan lalu. Seperti biasa, Zulman datang tidak diundang. Karena memang dia juga suka mangkal di tempat itu. 

Yogi memulai pembicaraan dengan mengeluhkan latar belakang pendidikannya. Dia mengaku menyesal tidak pernah mondok di pesantren tradisional. Katanya itu sangat merugikan. Lagi pula dia sarjana dan magister di IAIN. Tidak perlu kita perpanjang soal ini.

Kata Yogi umumnya cendikiawan Muslim berlatarbelakang pesantren. Sebab itu mereka sudah khatam tentang kaidah-kaidah dasar keislaman. Ketika berbicara tentang keilmuan Islam sampai ke langit, bila masih banyak lubang pada kaidah-kaidah dasar, maka semua wacana yang dibangun akan runtuh. Tidak akan diapresiasi orang.



Sepertinya Yogi banyak insaf setelah menjadi dosen Unimal. Bulan lalu dia ingin memulai kembali dari menjadi sarjana antropologi. Hari ini lebih menukik lagi: menjadi anak dayah. Tentunya harus dari awal, dari Kitab Masailai.

Apa yang diraskan Yogi dalam perjalanan inteletualnya adalah sebuah kesadaran bahwa sesutu harus dimulai dari awal, secara sistematis sehingga memunculkan kematangan intelektual. Profil seorang intelektuil ideal adalah seorang sekularis. Apalagi untuk islamic studies.

Membaca tulisan-tulisan islamisis tentang pemikiran dan sosiogi Islam benar-benar tidak menarik. Dogma-dogma dan paradoks yang keluar dari setiap pernyataan islamisis sama sekali tidak beeguna bagi dunia ilmu pengatahuan. Sebaliknya bila yang membicarakannya adalah seorang sekularis, maka mereka sangat menguasai teori kaidah-kaidah dasar, sekaligus memiliki daya identifikasi yang sangat analitis serta kemampuan objektivikasi yang memberikan banyak kontribusi bagi dunia keilmuan.

Tetapi Zulman tidak setuju dengan rencana Yogi itu. Menurutnya, memulai kembali dari awal dengan memasuki dayah sama dengan penyerahan diri untuk dijegal dengan doktrin-doktin. Tidak seharusnya Yogi tunduk pada sebuah otoritas yang menurut dia sendiri adalah sebuah limitasi, sebuah reduksi oleh mazhab tertentu, oleh ulama tertentu.

Sama seperti Yogi, Zulman juga sebenarnya punya sebuah keyakinan yang landasannya bermasalah. Zulman berkeyakinan Islam harus dipurifikasi. Caranya kembali kepada Islam yang diamalkan Nabi dan Sahabat. Saya dan Yogi menanyakan, cara mengetahui amalan mereka bagaimana? Karena menurut kami itu tetap saja sejarah menurut orang tertantu. Zulman mengatakan kembali kepada Alquran dan Hadits sahih.

Nah, di sini letak ketidaksepakatan kami. Saya dan Yogi banyak kesamaan (kecuali ingin masuk dayah), memang benar Alquran itu benar. Kita sepakati mushaf populer itu. Tetapi pemahaman dan bentuk pengamalannya tetap saja subjektif. Zulman menjawab, kita ikuti ulama terpercaya. Nah, kalau begitu tetap saja bukan pemurnian ataunkembali ke era salafm tetapi kembali ke orang tertentu di zaman ini sekalipun aliran yang dia ikuti disebut salaf. Jadi bila demikian, apa bedanya dengan tradisionalis?

Zulman punya jalan keluar. "Setidaknya kita bisa mendekati salaf". Tetapi ini tidak berguna. "Agama itu mustahil kembali kepada cara salaf. Agama sebagai bagian dari kemanusiaan mustahil menolak sejarah, menafikan pergulumunnya dengan tradisi-tradisi yang dilalui," kata Yogi.

Saya sepakat dengan Yogi. Nasr, Cak Nur dan umumnya pemikir lainnya juga mengatakan demikian. Lagi pula untuk apa purifikasi agama itu. Orang-orang sekarang banyak yang salah paham dengan agama, khususnya Islam.

Purifikasi agama sama dengan mencerabut agama dari manusia yang tidak bisa lepas dengan budaya dan sejarahnya. Purifikasi itu sama dengan robotisasi. Kita harus paham agama pada masa salaf adalah agama dengan kebudayaan pada masa salaf.

Sebenarnya untuk menjadi orang beragama yang baik, kita harus terlebih dahulu menjadi manusia yang baik. Manusia yang baik itu menjalankan semua kaidah dan fitrah keagamaannya. Menjalankan prinsip-prinsip kemanusiaan itu sudah lebih dari setengah menjalankan agama secara benar. Dalam fitrah kemanusiaan, mengakui yang Maha Mutlak, berbuat baik dan tidak berbuat buruk, membahagiakan orang lain, tidak mengganggu orang lain, percaya adanya hari pembalasan, dan seterusnya, sudah tercover.

Jadi, menghyati nilai-nilai kemanusiaan dan mengamalkannya, itu lebih baik daripada secara taklid mengikuti doktrin tertentu, termasuk doktrin agama yang telah direduksi oleh mazhab, aliran dan orang tertentu.

Setiap aliran agama, filsafat dan sastra, yang paling bertahan adalah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan itu.

Boleh saja sebuah pemikiran ditolak pada awalnya ksrena persoalan pemahaman atau istilah yang digunakan, tetapi bila sesuai dengan prinsip kemanusiaan, baik secara terang maipun diam-diam, akan terus diikuti.

Nah, inilah yang paling penting bagi kita, siapapun, khusisnya kaum terpelajar. Bagi orang seperti Yogi yang telah terjanjur menjadi IAIN, menjadi modernis, yang penting bukan kembali ke masa lalu untuk belajar di dayah, yang penting baginya adalah mengurangi berdebat, mempelajari kaidah-kaidah teknis agama, logika, sosiologi dan ilmun pengetahuan, mampu menganalisa masalah dengan sistematis, memiliki sebuah prinsip dalam paradigma keilmuan dan mampu menyuguhkan solusi dengan tawaran yang menarik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar