'Irfan
atau tasawuf falsafi itu adalah ilmu atau sebuah pengalaman? Pertanyaan ini
muncul dari banyak pengkaji 'irfan. Mereka memahami bahwa antara pengetahuan
dan pengalaman adalah dua hal yang berbeda. Pengalaman adalah sesuatu yang
dialami langsung. Sementara pengetahuan adalah teori atas sebuah pengetahuan.
Abul
'Ala Afifi, seorang pengkaji pemikiran Ibn 'Arabi, berpendapat, irfan itu dapat
diteoritisasi. Dalam pandangannya, irfan dapat ditinjau melalui sudut pandang
filsafat. Sebagaimana objek-objek lain, irfan juga dapat menjadi objek pengkajian
filsafat. Perangkat epistemologi filsafat dapat dijadikan sebagai alat untuk
menganalisa irfan. Dengan begitu lahirlah sebuah teori ilmu pengetahuan dengan
nama filsafat mistisme.
Sementara
itu Muhammad Taqi Misbah Yazdi adalah seorang yang paling menentang teoritisasi
irfan. Yazdi adalah seorang filosof yang sangat tegung prinsip berpikir
rasional ala peripatetik. Prinsi ini diwarisi oleh gurunya Sayyid Hussain
Thabattaba'i. Thabattaba'i membersihkan filsafat Mulla Sadra dari unsur teologi
dan mistisme. Bagi Thabbaba'i filsafat harus dikembalikan kepada sistem logis
dalam menjelaskan ontologinya. Sehingga beruntunglah generasi filsafat
setelahnya sehingga mereka tidak terseret kepada pemahaman filsafat secara
teologis din mistis. Juga dapat dengan jelas membedakan teologi, mistisme dan
filsafat. Dengan begitu para murid Thabattaba'i, khususnya Yazdi, sebagaimana
gurunya, berfilsafat dengan corak peripatetis. Kecenderungan peripatetis inilah
yang membuat Yazdi menilai irfan sebagai sebuah pengalaman yang tidak dapat
diteoritisasikan. Menurutnya, irfan itu adalah pengalaman subjektif.
Meski
berpola pikir sangat peripatetis, Yazdi
menerepkan kezuhudan dalam kehidupan sehari-hari, praktik-praktik
kezuhudan diterapkan dengan sangat ketat. Mungkin karena menjadi orang yang
mengalami irfan, Yazdi mengklaim pengalaman spiritual itu tidak dapat
dikomunikasikan. Pengalaman itu sifatnya sangat subjektif. Sebuah pengalaman
tidak bisa diartikulasikan ke dalam teks lalu diinformasikan kepada orang lain.
Misalnya seseorang yang pernah makan durian menginformasikan kepada temannya
yang tidak pernah makan dunian tentang lezatnya durian. Komumikasi ini tentunya
tidak akan berguna. Kalau dikatakan durian itu lezat, maka temannya itu tentu
hanya memahami makna lezat sebagaimana lezatnya makanan lainnya atau
buah-buahan lain. Sehingga informasi lezatnya rasa durian tidak akan
terkomunikasikan. Begitulah argumentasi kemustahilan pengalaman mistis
diteoritisasikan.
Sebagaimana
diketahui bahwa ilmu itu terbagi menjadi ilmu hudhuri dan ilmu hushuli,
pertanyaan yang diajukan kepada teoritisasi 'irfan adalah, apakah pengalaman
mistik itu masuk ke dalam ilmu hudhuri atau masuk ke dalam ilmu hushuli. Bila
dilihat dari analogi di atas, maka tentunya pengalaman mistik itu tergolong
sebagai ilmu hudhuri.
Bila
pengalaman mistik itu adalah ilmu hudhuri, maka dia hanya dapat dilatih. Dengan
pelatihan, maka akan memiliki posibilitas untuk dapat mengalaminya sendiri.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pengalamannya itu sendiri tidak dapat
diteoritisasikan. Bila pengalaman mistik itu dapat diteoretisasi, maka teori
tersebut bukan tentang pengalaman itu sendiri melainkan adalah teori tentang
pengalaman mistik. Teori tentang pengalaman ini disebut dengan 'irfan.
Sebagian
orang mengatakan 'irfan itu adalah filsafat mistisme.Mari kita usut istilah
ini. Filsafat mistisme artinya mendayagunakan perangkat epistemologi filsafat
untuk menyelidiki pengalaman mistik. Pendayagunaan filsafat untuk meneliti
berbagai subjek adalah perkara familiar. Misalnya mendayagunakan filsafat untuk
mengkaji antropologi disebut filsafat
antropologi. Nah, bagaimanakah filsafat antropologi itu? Filsafat antropologi
itu harus meneliti perangkat-perangkat epistemologi ilmu antropologi.Teori-teori
antropologi itulah yang menjadi objek pebgkajian filsafat antropologi. Kalau
yang jadi bahan penelitian itu adalah etnografi, maka itu disebut ilmu
antropologi, bukan filsafat antropologi.
Penjelasan
di atas dapat dijadikan bahan untuk memahami filsafat mistisme. Sehingga filsafat
mistisme itu adalah sebuah subjek ilmu pengetahuan yang objek kajiannya adalah
teori-teori tentang mistisme, bukan mistisme itu sendiri. Nah, bila ilmu
antropologi punya banyak teori, maka apakah ilmu mistisme juga punya teori?
Teori apa yang dipakai Toshihiko Isutzu dalam meneliti Ibn 'Arabi? Teori apa
yang digunakan Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam meneliti Hamzah Fansuri?
Teori apa yang digunakan Louis Massignon dalam meneliti Mansur Al-Hallaj dan
teori apa yang digunakan Abdul Aziz Dahlan dalam meneliti Syamsuddin
Al-Sumatrani? Teori-teori inilah yang harus menjadi objek penelitian dari
filsafat mistisme.
Sama
seperti ilmu antropologi, ilmu mistisme, yakni ilmu pengetahuan yang objeknya
adalah karya-karya dan pengakuan mistikus sebagai sarana komunikasi mereka atas
pengalam mistik yang dialami, teori dan metodologinya umumnya adalah ilmu-ilmu
sosial seperti hermeunetika dan psikologi. Karena teori dan metodologi yang
digunakan untuk meneliti mistisme dan antropologi itu bisa identik dan bisa sama,
maka itu artinya filsafat mistisme dan filsafat antropologi itu sama. Jika
demikian, maka objek kajian filsafat antropologi itu berarti bukan teori dan
metode antropologi. Karena bila demikian, maka filsafat antropologi dan
filsafat minstisme tidak ada bedanya.
Dengan
demikian dapat dikatakan, filsafat antropologi itu adalah kajian tentang teori
dan metode antropologi sekaligus kegiatan pengkajiannya dan hasil pengkajian
itu. Filsafat antropologi mengulas tentang teori, metode, sasaran penerapan
objek dan motede, serta temuan dari hasil penelitian menggunakan objek teori
dan objek tertentu itu pada sebuah tema tertentu. Misalnya meneliti tentang
teori, metode dan hasil penelitian tentang fenomena beragama masyarakkat Aceh.
Lebih tepatnya lagi tentang teori, metode dan hasil penelitian tentang fenomena
beragama masyarakkat Aceh yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje misalnya.
Demikian
pula filsafat mistisme adalah kajian atas teori, metode, yang digunakan seorang
peneliti dalam menkaji seorang mistikus. Misalnya melakukan kajian atas teori,
metode dan hasil penelitian yang digunakan Naquib Al-Attas dalam mengkaji
Hamzah Fansuri. Teori, metode, hasil penelitian atas seorang mistikus itu
umumnya dilakukan dengan serius pada disertasi. Sehingga, sederhananya, filsafat mistisme adalah kajian atas sebuah
disertasi yang membahas tentang seorang mistikus.
Bila
itulah makna filsafat mistisme, maka karya Ibn 'Arabi, Jalaluddin Rumi, Hamzah
Fansuri dan Al-Hallaj bukanlah filsafat mistisme. Karya itu semua biasanya
disebut 'irfan yang penerjemahannya ke dalam bahasa Inggris adalah philosophy
of mysticism, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia harus menjadi
filsafat mistisme. Padahal sebagaimana telah kita bahas di atasn filsafat
mistisme itu hanya kajian terhadap sebuah karya yang mengkaji mistisme.
Sebab
itulah karya Ibn 'Arabi, Jalaluddin Rumi, Hamzah Fansuri dan Al-Hallaj disebut
sebagai tasawuf falsafi dalam bahasa Indonesia, sekalipun dipadankan dengan
'irfan yang mana 'irfan itu ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris
menjadi philosophy of mysticism. Ini wajar dan cocok karena dalam dunia
keilmuan berbahasa Inggris tidak ada 'irfan, tidak ada 'arif di sana, yang ada
hanya kajian terhadap 'irfan. Sehingga di sini menjadi jalas bahwa, tasawuf falsafi
adalah artikulasi ara 'urafa terhadap pengalaman mistis mereka dan filsafat
tasawuf adalah kajian terhadap epistemologi pendekatan peneliti terhadap
pembahasan mereka tentang artikulasi 'urafa dalam menceritakan pengalaman
mistis mereka.
Sebuah
artikulasi pengalam mistik pertama kali dilakukan oleh seorang filsuf
Peripatetik Islam, Ibn Sina. Dalam menjelaskan tentang kondisi jiwa sebagaimana
jiwa tanpa hubungannya dengan jasad. Ibn Sina menjelaskan tentang kondisi jiwa
mengambang yang dianggap oleh para pengkaji 'irfan sebagai salah-satu nrasi
paling awal dalam penjelasan tentang pengalaman mistik. Sebagian peneliti
menganggap, penjelasan Ibn Sina tentang jiwa mengambang adalah artikulasi
pengalaman pribadi dalam bentuk narasi.
Sebagian
peneliti dan filosof meyakini, pengalaman mistik itu tidak dapat
diartikulasikan karena ketidaksesuaian antara yang dialami dan yang
dikomunikasikan. Tetapi sebagian peneliti dan filosof meyakini, pengalaman
tersebut dapat dikomunikasikan sekalipun mereka paham bahwa pengalaman dan
perkataan itu tidak sama. Karena para pengkajin dan pembaca hanya ingin
mengetahui cerita tentang pengalaman, bukan ingin ikut merasakan pengalaman
tersebut.
Haidar
Bagir mengatakan, pengalaman mistik, sekalipun tidak dapat dibahasakan, tetapi
bukan sepenuhnya tidak dapat dikomunikasikan. Dia mengatakan, tentang
pengalaman mistik itu ada tiga tingkata. Pertama adalah kondisi seorang 'arif
dalam pengalamana mereka. Kedua adalah artikulasi pengalaman seorang 'arif,
seperti buku yang ditulis Ibn 'Arabi tentang pengalamannya, misalnya Fusush
Al-Hikan. Ketiga adalah penelitian terhadap artikulasi pengalaman mistik para
'urafa terhadap pengalaman mereka, misalnya penelitian Toshihiko Isutzu atau
Henry Corbin terhadap kitab Fusuh Al-Hikam. Bila ingin menambahkan, maka ada
satu bagian lagi yakni penelitian terhadap karya seperti Henry Corbin dan
Toshihiko Isutzu. Bagian keempat ini yang tadi kita sebut sebagai filsafat tasawuf.
:)
Selain
persoalan yang dibahas di atas, tasawuf falsafi adalah pemikiran Islam yang
paling banyak menuai konttoversi. Di Persia, hingga hari ini masih terbadap
beberapa pendekatan dalam mendekati filsafat. Pertama adalah mereka yang masih
mengedepankan tradisi. Kelompok ini masih mengusung corak tasawuf dalam
mengkaji filsafat. Mereka bertujuan membaca filsafat sesuai dengan artikulasi
para filosof dalam karya-karya mereka. Corak pendekatan filsafat yang masih
sangat kental nuansa tasawufnya misalnya dijalankan oleh Imam Khumaini. Dia
menjadikan filsafat, khususnya filsafat Mulla Sadra. Karena itu banyak pengamat
mengatakan, membaca karya-karya Imam Khumaini itu adalah membaca tasawuf,
sekalipun sasaran tema pembahasannya adalah filsafat.
Sebagian
filosof bertindak berbeda dengan yang dilakukan Imam Khumaini. Mereka malah
menghapuskan motif-motif tasawud, teologi dan bahkan nah Alquran dan Hadits
dalam filsafat. Menurut mereka, filsafat itu harus hanya ontologi dengan sarana
epistemologi burnami (demonstrasi logika), tidak boleh dikaitkan atau
dihubungkan dengan doktin teologi, analogi 'irfan ataupun keyakinan nash
Alquran dan hadits. Pola penyajian filsafat seperti ini juga dapat
menyelamatkan filsafat dari pihak-pihak yang anti terhadap tasawuf falsafi dan
anti terhadap doktin teologi tertentu. Di antara folosof yang memilih jalan ini
adalah Allama Sayyid Hussain Thabattaba'i. Prinsip Thabbattaba'i ini juga
diikuti dengan konsisten oleh muridnya, Muhammad Taqi Musbah Yazdi.
Sebagaimana
Thabattaba'i, Yazdi sangat konsisten dengan sistem filsafat yang amat
peripatetis. Tetapi sayangnya, karena terlalu peripatetis, Yazdi membuat
filsafat Mulla Sadra menjadi membingungkan. Masalahnya adalah, Yazdi sendiri
dianggap sebagai seorang penganut Sadrian, sebagaimana gurunya. Tapi sayangnya,
belajar filsafat dari Yazdi tidak akan membuat kita memahami filsafat Mulla
Sadra karena sudah terlalu peripatetis. Sayangnya, untuk membuat kita memahami
Ibn Sina juga gagal. Sebab itu, pengantar memahami filsafat Islam, khususnya
filsafat Mulla Sadra yang palling recommended hingga hari ini bukanlah
'Philosopycal Instruction' karya Yazdi, tetapi, secara berurutan, adalah karya
Thabattaba'i 'Bidayatul Hikmah' dan 'Nihayatul Hikmah'.
Jakarta,
31 Agustus 2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar