Senin, 03 September 2018

FILSAFAT MISTISME


'Irfan atau tasawuf falsafi itu adalah ilmu atau sebuah pengalaman? Pertanyaan ini muncul dari banyak pengkaji 'irfan. Mereka memahami bahwa antara pengetahuan dan pengalaman adalah dua hal yang berbeda. Pengalaman adalah sesuatu yang dialami langsung. Sementara pengetahuan adalah teori atas sebuah pengetahuan.

Abul 'Ala Afifi, seorang pengkaji pemikiran Ibn 'Arabi, berpendapat, irfan itu dapat diteoritisasi. Dalam pandangannya, irfan dapat ditinjau melalui sudut pandang filsafat. Sebagaimana objek-objek lain, irfan juga dapat menjadi objek pengkajian filsafat. Perangkat epistemologi filsafat dapat dijadikan sebagai alat untuk menganalisa irfan. Dengan begitu lahirlah sebuah teori ilmu pengetahuan dengan nama filsafat mistisme.


Sementara itu Muhammad Taqi Misbah Yazdi adalah seorang yang paling menentang teoritisasi irfan. Yazdi adalah seorang filosof yang sangat tegung prinsip berpikir rasional ala peripatetik. Prinsi ini diwarisi oleh gurunya Sayyid Hussain Thabattaba'i. Thabattaba'i membersihkan filsafat Mulla Sadra dari unsur teologi dan mistisme. Bagi Thabbaba'i filsafat harus dikembalikan kepada sistem logis dalam menjelaskan ontologinya. Sehingga beruntunglah generasi filsafat setelahnya sehingga mereka tidak terseret kepada pemahaman filsafat secara teologis din mistis. Juga dapat dengan jelas membedakan teologi, mistisme dan filsafat. Dengan begitu para murid Thabattaba'i, khususnya Yazdi, sebagaimana gurunya, berfilsafat dengan corak peripatetis. Kecenderungan peripatetis inilah yang membuat Yazdi menilai irfan sebagai sebuah pengalaman yang tidak dapat diteoritisasikan. Menurutnya, irfan itu adalah pengalaman subjektif.

Meski berpola pikir sangat peripatetis, Yazdi  menerepkan kezuhudan dalam kehidupan sehari-hari, praktik-praktik kezuhudan diterapkan dengan sangat ketat. Mungkin karena menjadi orang yang mengalami irfan, Yazdi mengklaim pengalaman spiritual itu tidak dapat dikomunikasikan. Pengalaman itu sifatnya sangat subjektif. Sebuah pengalaman tidak bisa diartikulasikan ke dalam teks lalu diinformasikan kepada orang lain. Misalnya seseorang yang pernah makan durian menginformasikan kepada temannya yang tidak pernah makan dunian tentang lezatnya durian. Komumikasi ini tentunya tidak akan berguna. Kalau dikatakan durian itu lezat, maka temannya itu tentu hanya memahami makna lezat sebagaimana lezatnya makanan lainnya atau buah-buahan lain. Sehingga informasi lezatnya rasa durian tidak akan terkomunikasikan. Begitulah argumentasi kemustahilan pengalaman mistis diteoritisasikan.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu itu terbagi menjadi ilmu hudhuri dan ilmu hushuli, pertanyaan yang diajukan kepada teoritisasi 'irfan adalah, apakah pengalaman mistik itu masuk ke dalam ilmu hudhuri atau masuk ke dalam ilmu hushuli. Bila dilihat dari analogi di atas, maka tentunya pengalaman mistik itu tergolong sebagai ilmu hudhuri.

Bila pengalaman mistik itu adalah ilmu hudhuri, maka dia hanya dapat dilatih. Dengan pelatihan, maka akan memiliki posibilitas untuk dapat mengalaminya sendiri. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pengalamannya itu sendiri tidak dapat diteoritisasikan. Bila pengalaman mistik itu dapat diteoretisasi, maka teori tersebut bukan tentang pengalaman itu sendiri melainkan adalah teori tentang pengalaman mistik. Teori tentang pengalaman ini disebut dengan 'irfan.

Sebagian orang mengatakan 'irfan itu adalah filsafat mistisme.Mari kita usut istilah ini. Filsafat mistisme artinya mendayagunakan perangkat epistemologi filsafat untuk menyelidiki pengalaman mistik. Pendayagunaan filsafat untuk meneliti berbagai subjek adalah perkara familiar. Misalnya mendayagunakan filsafat untuk mengkaji antropologi  disebut filsafat antropologi. Nah, bagaimanakah filsafat antropologi itu? Filsafat antropologi itu harus meneliti perangkat-perangkat epistemologi ilmu antropologi.Teori-teori antropologi itulah yang menjadi objek pebgkajian filsafat antropologi. Kalau yang jadi bahan penelitian itu adalah etnografi, maka itu disebut ilmu antropologi, bukan filsafat antropologi. 

Penjelasan di atas dapat dijadikan bahan untuk memahami filsafat mistisme. Sehingga filsafat mistisme itu adalah sebuah subjek ilmu pengetahuan yang objek kajiannya adalah teori-teori tentang mistisme, bukan mistisme itu sendiri. Nah, bila ilmu antropologi punya banyak teori, maka apakah ilmu mistisme juga punya teori? Teori apa yang dipakai Toshihiko Isutzu dalam meneliti Ibn 'Arabi? Teori apa yang digunakan Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam meneliti Hamzah Fansuri? Teori apa yang digunakan Louis Massignon dalam meneliti Mansur Al-Hallaj dan teori apa yang digunakan Abdul Aziz Dahlan dalam meneliti Syamsuddin Al-Sumatrani? Teori-teori inilah yang harus menjadi objek penelitian dari filsafat mistisme.

Sama seperti ilmu antropologi, ilmu mistisme, yakni ilmu pengetahuan yang objeknya adalah karya-karya dan pengakuan mistikus sebagai sarana komunikasi mereka atas pengalam mistik yang dialami, teori dan metodologinya umumnya adalah ilmu-ilmu sosial seperti hermeunetika dan psikologi. Karena teori dan metodologi yang digunakan untuk meneliti mistisme dan antropologi itu bisa identik dan bisa sama, maka itu artinya filsafat mistisme dan filsafat antropologi itu sama. Jika demikian, maka objek kajian filsafat antropologi itu berarti bukan teori dan metode antropologi. Karena bila demikian, maka filsafat antropologi dan filsafat minstisme tidak ada bedanya.

Dengan demikian dapat dikatakan, filsafat antropologi itu adalah kajian tentang teori dan metode antropologi sekaligus kegiatan pengkajiannya dan hasil pengkajian itu. Filsafat antropologi mengulas tentang teori, metode, sasaran penerapan objek dan motede, serta temuan dari hasil penelitian menggunakan objek teori dan objek tertentu itu pada sebuah tema tertentu. Misalnya meneliti tentang teori, metode dan hasil penelitian tentang fenomena beragama masyarakkat Aceh. Lebih tepatnya lagi tentang teori, metode dan hasil penelitian tentang fenomena beragama masyarakkat Aceh yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje misalnya.

Demikian pula filsafat mistisme adalah kajian atas teori, metode, yang digunakan seorang peneliti dalam menkaji seorang mistikus. Misalnya melakukan kajian atas teori, metode dan hasil penelitian yang digunakan Naquib Al-Attas dalam mengkaji Hamzah Fansuri. Teori, metode, hasil penelitian atas seorang mistikus itu umumnya dilakukan dengan serius pada disertasi. Sehingga, sederhananya,  filsafat mistisme adalah kajian atas sebuah disertasi yang membahas tentang seorang mistikus.

Bila itulah makna filsafat mistisme, maka karya Ibn 'Arabi, Jalaluddin Rumi, Hamzah Fansuri dan Al-Hallaj bukanlah filsafat mistisme. Karya itu semua biasanya disebut 'irfan yang penerjemahannya ke dalam bahasa Inggris adalah philosophy of mysticism, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia harus menjadi filsafat mistisme. Padahal sebagaimana telah kita bahas di atasn filsafat mistisme itu hanya kajian terhadap sebuah karya yang mengkaji mistisme.

Sebab itulah karya Ibn 'Arabi, Jalaluddin Rumi, Hamzah Fansuri dan Al-Hallaj disebut sebagai tasawuf falsafi dalam bahasa Indonesia, sekalipun dipadankan dengan 'irfan yang mana 'irfan itu ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi philosophy of mysticism. Ini wajar dan cocok karena dalam dunia keilmuan berbahasa Inggris tidak ada 'irfan, tidak ada 'arif di sana, yang ada hanya kajian terhadap 'irfan. Sehingga di sini menjadi jalas bahwa, tasawuf falsafi adalah artikulasi ara 'urafa terhadap pengalaman mistis mereka dan filsafat tasawuf adalah kajian terhadap epistemologi pendekatan peneliti terhadap pembahasan mereka tentang artikulasi 'urafa dalam menceritakan pengalaman mistis mereka.

Sebuah artikulasi pengalam mistik pertama kali dilakukan oleh seorang filsuf Peripatetik Islam, Ibn Sina. Dalam menjelaskan tentang kondisi jiwa sebagaimana jiwa tanpa hubungannya dengan jasad. Ibn Sina menjelaskan tentang kondisi jiwa mengambang yang dianggap oleh para pengkaji 'irfan sebagai salah-satu nrasi paling awal dalam penjelasan tentang pengalaman mistik. Sebagian peneliti menganggap, penjelasan Ibn Sina tentang jiwa mengambang adalah artikulasi pengalaman pribadi dalam bentuk narasi.

Sebagian peneliti dan filosof meyakini, pengalaman mistik itu tidak dapat diartikulasikan karena ketidaksesuaian antara yang dialami dan yang dikomunikasikan. Tetapi sebagian peneliti dan filosof meyakini, pengalaman tersebut dapat dikomunikasikan sekalipun mereka paham bahwa pengalaman dan perkataan itu tidak sama. Karena para pengkajin dan pembaca hanya ingin mengetahui cerita tentang pengalaman, bukan ingin ikut merasakan pengalaman tersebut.

Haidar Bagir mengatakan, pengalaman mistik, sekalipun tidak dapat dibahasakan, tetapi bukan sepenuhnya tidak dapat dikomunikasikan. Dia mengatakan, tentang pengalaman mistik itu ada tiga tingkata. Pertama adalah kondisi seorang 'arif dalam pengalamana mereka. Kedua adalah artikulasi pengalaman seorang 'arif, seperti buku yang ditulis Ibn 'Arabi tentang pengalamannya, misalnya Fusush Al-Hikan. Ketiga adalah penelitian terhadap artikulasi pengalaman mistik para 'urafa terhadap pengalaman mereka, misalnya penelitian Toshihiko Isutzu atau Henry Corbin terhadap kitab Fusuh Al-Hikam. Bila ingin menambahkan, maka ada satu bagian lagi yakni penelitian terhadap karya seperti Henry Corbin dan Toshihiko Isutzu. Bagian keempat ini yang tadi kita sebut sebagai filsafat tasawuf. :)


Selain persoalan yang dibahas di atas, tasawuf falsafi adalah pemikiran Islam yang paling banyak menuai konttoversi. Di Persia, hingga hari ini masih terbadap beberapa pendekatan dalam mendekati filsafat. Pertama adalah mereka yang masih mengedepankan tradisi. Kelompok ini masih mengusung corak tasawuf dalam mengkaji filsafat. Mereka bertujuan membaca filsafat sesuai dengan artikulasi para filosof dalam karya-karya mereka. Corak pendekatan filsafat yang masih sangat kental nuansa tasawufnya misalnya dijalankan oleh Imam Khumaini. Dia menjadikan filsafat, khususnya filsafat Mulla Sadra. Karena itu banyak pengamat mengatakan, membaca karya-karya Imam Khumaini itu adalah membaca tasawuf, sekalipun sasaran tema pembahasannya adalah filsafat.

Sebagian filosof bertindak berbeda dengan yang dilakukan Imam Khumaini. Mereka malah menghapuskan motif-motif tasawud, teologi dan bahkan nah Alquran dan Hadits dalam filsafat. Menurut mereka, filsafat itu harus hanya ontologi dengan sarana epistemologi burnami (demonstrasi logika), tidak boleh dikaitkan atau dihubungkan dengan doktin teologi, analogi 'irfan ataupun keyakinan nash Alquran dan hadits. Pola penyajian filsafat seperti ini juga dapat menyelamatkan filsafat dari pihak-pihak yang anti terhadap tasawuf falsafi dan anti terhadap doktin teologi tertentu. Di antara folosof yang memilih jalan ini adalah Allama Sayyid Hussain Thabattaba'i. Prinsip Thabbattaba'i ini juga diikuti dengan konsisten oleh muridnya, Muhammad Taqi Musbah Yazdi.

Sebagaimana Thabattaba'i, Yazdi sangat konsisten dengan sistem filsafat yang amat peripatetis. Tetapi sayangnya, karena terlalu peripatetis, Yazdi membuat filsafat Mulla Sadra menjadi membingungkan. Masalahnya adalah, Yazdi sendiri dianggap sebagai seorang penganut Sadrian, sebagaimana gurunya. Tapi sayangnya, belajar filsafat dari Yazdi tidak akan membuat kita memahami filsafat Mulla Sadra karena sudah terlalu peripatetis. Sayangnya, untuk membuat kita memahami Ibn Sina juga gagal. Sebab itu, pengantar memahami filsafat Islam, khususnya filsafat Mulla Sadra yang palling recommended hingga hari ini bukanlah 'Philosopycal Instruction' karya Yazdi, tetapi, secara berurutan, adalah karya Thabattaba'i 'Bidayatul Hikmah' dan 'Nihayatul Hikmah'.

Jakarta, 31 Agustus 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar