Kamis, 16 Agustus 2018

KALAU MAHFUD MARAH

Tampanya tidak ada yang lebih populis beberapa hari belakangan dibandingkan Mahfud MD. Itu bagus. Daripada yang viral itu biasanya artis atau orang yang nekad makan jagung cara cepat dengan menancapkan di mata bor.  Tetapi walaupun yang sedang populer itu adalah seorang profesor, negarawan sekaligus pulitikus, tetap saja tidak mampu membuat netizen ikut pintar. Mungkin karena konteksnya adalah politik yang memang bukan tempat adu pintar tetapi ring adu licik. Kalau isu Ahok penista agama kan sedikit membuat netizen jadi agak pintar:pintar hukum, pintar linguistik dan pintar agama, meskipun hanya satu hari, walau hanya bereferensi wikipedia 😆. Kepupeleran isu Mahfud bahkan mampu menutup bencana gempa yang sedang terjadi di Lombok.


Sebenarnya  apa yang dihadapi Mahfud itu tidak tragis-tragis amat. Dia hanya gagal digandeng menjadi calon wakil presidennya Jokowi yang, belum tentu menang! Lagi pula posisi dia adalah anggota pembina ideologi Pancasila yang diisukan bergaji hingga seratus juta perbulan. Jadi, Mahfud pasti tak akan marah, atau paling tidak kemararahannya takkan ditunjukkan ke hadapan publik, apalagi ke hadapan hidung Jokowi. Mana mungkin kita marah pada orang yang memberikan kita seratus juta setiap bulan. Jangankan itu, kepada orang yang traktir segelas kopi saja kita tidak akan marah, meskipun itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Di Medan, sebatang rokok GP mampu membuat orang yang sedang marah kesetanan menjadi loyalis seumur hidup.

Kalau Mahfud tunjukkan kemarahan, dia bisa tidak dapat apa-apa kalau Jokowi menang lagi. Bahkan mungkin bisa langsung dipecat. Dan itu berarti Mahfud kehilangan setidaknya delapan ratus juta (gaji pembina ideologi Pancasila dari September 2018 hingga April 2019). Jadi, tahan amarahnya Mahfud berharga paling kurang delapan ratus juta. Kita saja bisa hilang marah hanya karena dipelototi polisi.

Tetapi Mahfud adalah seorang negarawan. Sudah banyak makan asam garam di dunia politik. Jadi, segala pertimbangan dan keputusan Mahfud tetap saja dalam perspektif politik. Kalau dalam kalkulasi politiknya potensi Prabowo-Sandi lebih besar, bukan tidak mungkin si do'i akan lempar handuk dan minggat ke kubu sebelah. Dan bila ini terjadi, Jokowi-Ma'fuf akan banyak merugi. Tapi Jokowi dan tim juga cerdas. Janji-janji politik untuk Mahfud juga akan besar.

Sikap politik Mahfud patut ditiru oleh orang yang sedikit idealis dalam berpolitik. Siapapun yang nantinya jadi Presiden, Mahfud tetap akan mendapatkan posisi penting. Dia orangnya tenang, tidak tendensius, tidak tampak pragmatis. Sepertinya Pulau Madura hanya punya satu orang seperti itu. Bandingkan dengan tukang kopi saset bersepada di Taman Suropati yang bisa mengomel hingga setengah jam hanya karena membatalkan satu gelas lagi padahal sudah pesan satu renteng.

Sekali lagi, bagi teman-teman saya politikus muda di Aceh, pelajari dengan seksama sikap berpolitik Mahfud supaya kalian selamat. Pelajari kepolosannya dalam mengklarifikasi berbagai tudingan, misalnya bantahan terhadap tuduhan dirinya bukan NU. Pelajari dengan cermat. Jangan terjebak oleh singkatan namanya, MD. Karena kalau terpaku di situ, nanti kamu akan tuduh dia emde, padahal dia NU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar