Indonesia telah berhasil membuktikan dirinya sebagai satu-satunya negara Muslim yang berhasil menjalankan sistem demokrasi. Lihat saja di Timur-Tengah, tidak ada negara Muslim yang mampu hidup dalam sistem demokrasi. Ketika sistem ini ditawarkan kepada mereka, yang terjadi adalah perang saudara yang tidak pernah berakhir.
Arab Saudi adalah negara monarki absolut. Siapa saja yang mencoba mengkritik pemerintahan, atau bahkan mencoba mengajarkan ajaran agama yang berbeda dengan ajaran resmi negara, maka nyawanya tidak akan selamat. UEA, Qatar, Jordania, tidak jauh beda dengan Saudi. Iran memang selalu melakukan pemilihan presiden secara rutin. Tetapi kekuasaan tertinggi ada pada Rahbar. Irak, Mesir, Libya, Suriah, tidak akan kondusif sampai ada satu orang yang berhasil menjadi pemimpin kuat untuk membungkam lawan-lawan politiknya seperti yang pernah dilakukan Saddam Hussain.
Lihat saja Turki, Erdogan harus membunuh dan memenjarakan semua lawan politiknya untuk dapat membuat negaranya stabil. Stabil dalam artian menjadi penguasa penuh tanpa lawan politikm tanpa oposisi, tanpa pengkritik dan tanpa evaluasi. Sistem politik yang dapat dilaksanakan Timur-Tengah adalah sistem babrbar yang memang telah menjadi budaya mereka sejak bangsa-bangsa itu hadir di muka bumi.
Orang Arab, Persia dan Turki memang hanya bisa hidup dengan cara seperti zaman klasik yaitu berperang dan terus berperang. Tipikal mereka adalah orang-orang yang tidak bisa dan tidak akan bisa hidup dalam musyawarah, negosiasi, menerima kritik. Mereka hidup dalam eksklusivitas akud. Bagi mereka tidak ada negosiasi, tidak ada toleransi. Mereka hidup seperti alam matematika. Dunia mereka hitam atau putih. Ya dan tidak ditentukan oleh pedang.
Bandingkan dengan masyarakat Indonesia. Beragam suku, beragam budaya, beragam bahasa, beragam agama hidup dalam kedamaian. Berbeda dengan orang Arab misalnya, satu bahasa, satu bangsa, satu agama, satu mazhab, satu aliran, tetapi terus-menerus bertikai.
Bila di Turki lawan politik, oposisi itu harus dibunuh, dipenjara, maka di Indonesia, oposisi itu bahkan diberikan ruang untuk mengkritik, mengevaluasi, mengingatkan dan memberi masukan kepada pemerintah formal. Demokrasi benar-benar terlaksana dengan baik di Indonesia. Sehingga dapat dikatakan hanya Indonesia negara Muslim yang dapat menjalankan demokrasi.
Orang Indonesia mampu berempati, mampu memahami kondisi orang lain sehingga tidak memaksakan keinginan sendiri kepada orang lain. Sikap ini tidak dimiliki orang Arab yang ngoto, mata melotot. Mereka hanya paham cara memaksa orang lain menerima pendapatnya sendiri.
Watak Arab yang tidak kenal kompromi, tidak pandai bernegosiasi dan tidak kenal empati itu, karena mereka hidup di alam padang pasir yang sangat ekstrim. Mereka harus bertarung memperebutkan oase atau sumur untuk mempertahankan hidup.
Satu kabilah dengan kabilah lain adalah musuh. Kalah atau mengalah berarti mati. Yng bisa dilakukan adalah memenangkan pertarungan atau mati.
Watak gurun ini juga masih bisa ditemukan pada orang Arab yang baru hijrah ke Indonesia pada abad 18 atau 19. Pandai menjebak orang lain, sangat getol meneriakkan bahwa orang lain salah, teriak sampai mata melotot seperti hampir copot. Tetapi ketika ada yang berbisik tentang kesalahan dirinya, malah kabur seperti pengecut dan mengatakan itu fitnah. Padahal kalah dia laki-laki, bisa datang menantang, buktikan kalau dia tidak salah, jangan malah kabur.
Watak Arab yang tidak kenal kompromi, tidak pandai bernegosiasi dan tidak kenal empati itu, karena mereka hidup di alam padang pasir yang sangat ekstrim. Mereka harus bertarung memperebutkan oase atau sumur untuk mempertahankan hidup.
Satu kabilah dengan kabilah lain adalah musuh. Kalah atau mengalah berarti mati. Yng bisa dilakukan adalah memenangkan pertarungan atau mati.
Watak gurun ini juga masih bisa ditemukan pada orang Arab yang baru hijrah ke Indonesia pada abad 18 atau 19. Pandai menjebak orang lain, sangat getol meneriakkan bahwa orang lain salah, teriak sampai mata melotot seperti hampir copot. Tetapi ketika ada yang berbisik tentang kesalahan dirinya, malah kabur seperti pengecut dan mengatakan itu fitnah. Padahal kalah dia laki-laki, bisa datang menantang, buktikan kalau dia tidak salah, jangan malah kabur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar