Rabu, 04 Juli 2018

Syariat Islam dan Irwandi Yusuf

Perlu saya jelaskan kepada masyarakat Indonesia bahwa formalisasi syariat Islam itu adalah idenya orang-orang modernis yang ada di ormas, okp, dan dunia akademik islam. Masyarakat Aceh meminta syariat Islam bukan untuk dikonstitusikan, dilembaga negarakan. Konstitusionalisasi, birokratisasi atau pelembagaan itu tidak ada dalam imajinasi masyarakat tradisional. Ide-ide demikian adalah miliknya orang-orang yang bersentuhan dengan lembaga negara beserta tetek bengek sistemnya.




Perlu saya katakan secara terbuka di sini bahwa formalisasi syariat Islam itu kerjaannya orang-orang muslim modern khususnya akademisi IAIN (sekarang UIN?). Merekalah yang punya gagasan, imajinasi, ide dan pengalaman dengan kelembaganegaraan. Ide-ide semacam itu tidak ada pada masyarakat dan dayah.

Apalagi dayah, mereka tidak punya urusan dengan negara beserta segala perangkat teknisnya. Mau kesultanan kek, mau keresidenan, mau nippon, mau republik beserta segala perangkat teknisnya, dayah tetaplah dayah, lembaga pendidikan yang tidak punya urusan dengan administrasi, prosedur, sistem, mekanisme, konstitusi kelembaganegaraan. Dan hanya dayah yang benar-benar dekat dengan masyarakat.

Sehingga formalisasi syariat Islam itu sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan dayah. Dayah beserta masyrakat Aceh secara umum, khususnya yang tinggal di kampung-kampung tidak terlibat dalam pelembagaan syariat Islam. Itu gaweannya UIN dkk.

Masyarakat Aceh inginnya syariat islam itu tegak di Aceh, bukannya syariat Uslam dikonstitusikan. Jadi kalau ada pihak yang ingin komplain dengan formalisasi syariat Islam, silahkan berkonsultasi dengan para arsiteknya yang umumnya berada di UIN. Merekalah yang memaksakan formasilasi syariat Islam.

Akademisi UIN dkk yang menafsirkan keinginan masyarakat terhadap kebebasan pelaksanaan syariat Islam dalam bentuk sistem legal formal. Mereka kepedean mengaku memahami masyarakat sehingga seenaknya menafsirkan keinginan masyarakat. Padahal mereka jauh, tidak bersentuhan dengan masyarakat. Mereka mengamati masyarakat hanya melalui metode dan teori asing lalu membingkainya dalam waham mereka.

Untuk mengkomparasi perbedaan pandangan ulama dayah dengan cendikiawan modern itu kita dapat melihat perbedaan antara Abuya Muda Waly dengan Ali Hasjmy. Abuya tidak peduli dengan urusan teknis negra. Beliau menerapkan syariat Islam dengan mengajarkan agama kepada masyarakat secara perlahan, tertib sehingga masyarakat menjadi sadar dengan syariat Islam dan menerapkannya dalam kehidupan. Sehingga tampaklah di sana masyarakat yang menjalankan syariat Islam secara sadar. Tetapi Hasjmy sibuk mendesak pemerintah untuk membuat aturan formal tentang mekanisme, teknik, prosedur serta segala tetek bengek ala lembaga negara tentang syariat Islam.

Dari dulu saya menentang formalisasi syariat Islam karena itu akan menghancurkan agama Islam Islam. Syariat Islam bila diformalkanm dilembagakan, maka akan bernasib seperti hal-hal lain yang ditangani negara.

Di Idi, kalau dari Langsa belok kanan setelah terminal, ada sebuah parit yang hancur di pinggir jalan, jalanan jadi rusak, supaya orang tidak jatuh, diberi tanda dengan sebatang kayu. Saya lihat itu sudab tiga tahun tidak diperbaiki. Kenapa? Karena itu urusan negara, negara punya sistem, mekanisme, prosedur, proyek, tender, surat izin, anggaran untuk menangani sesuatu. Hal-hal yang ditangani negara tidak akan diurus masyarakat. Jalan di Idi itu urusan negara.

Kalau saja dulu, sebuah parit amblas di sebuah jalan di desa, nesoknya semua warga langsung turun tangan menangani. Sore harinya semua kelar. Kenapa? Karena masyarakat punya rasa memiliki dan memiliki tanggungjawab untuk menegakkannya.

Kalau syariat Islam dilembaga negarakan maka secara perlahan tanggung jawab masyarakat lepas, yang mengurusinya hanya negara. Dan negara mengurusnya dengan sistem, mekanisme, prosedur, proyek, tender, surat izin, anggaran dan segala ek minyeuk nya.

IAIN dari dulu memang selalu ditentang oleh masyarakat karena pola belajar agama yang instan. Sehingga, ilmu agama ga sempurna, ilmu umum juga ga gigit. Kalau ini tidak dipebaiki, maka mau ke mana IAIN?

Supaya paham agama dan jadi alim, dayah tempatnya. Untuk paham ilmu umum, sekolah tempatnya. Madrasah? Ya seperti haba itu.

Saya berbicara panjang lebar di sini hanya karena dua hal. Pertama saya meyakini bahwa dayah adalah satu-satunya lembaga pendisikan Islam yang representatif untuk belajar agama. Belajar agama di dayah memang lama, tapi tidak menghasilkan manusia instan. Pemahaman agama di dayah benar dan utuh. Saya tidak ingin dayah dipolitisasi dari dalam dan luar. Dari luar seperti pembuatan dinas dayah. Itu melemahkan dayah. Negara ga usah urusin dayah. Karena bila uang negara sudah masuk, maka negara akan membuatkan standar, sistem aturan, akreditasi dan lainnya sesuai kepala mereka, atau setidaknya sesuai kepala orang modernis itu.

Pelemahan dayah dari dalam adalah dari oknum teungku yang keunoe keudeh gadoh rayung proposal. Pap leumoe. Dayah ga butuh proposal. Kalau Allah restu pada dayah, maka ada jalan yang baik dan benar agar dayah itu hidup dan menghidupi hati orang.

Kepada  masyarakat Aceh saya mewasiatkan  agar tidak kegeeran dengan formalisasi syariat Islam. Itu adalah proses perlahan untuk memisahkan masyarakat dengan syariat Islam.
Dulu saya kesal dengan aneuk dayah yang ga pas dengan alumni Timur -Tengah (LC) dan anti dengan IAIN. Tapi sekarang saya mulai paham dengan hal itu. Orang LC memang pandai baca kitab. Ya iwa, wong koran dan pintu WC di sana semua pakai tulisan Arab gundul. Tetapi  kemampuan baca kitab itu sama sekali tidak berhubungan dengan pemahaman agama. Di dayah agama itu dipelajari secara perlahan, sekaligus melalui syarah kitab, pengamalan langsung, penertiban badan, jiwa, kebiasaan, sehingga secuil ilmu itu benar-benar satu dengan jiwa. Begitu secara perlahan dan terus-menerus hingga ilmu-ilmu tertinghi dalam agama.

Sementara banyak LC itu tidak paham budaya masyarakat Aceh sekalipun pernah makan kuwah plik waktu kecil dulu. Mereka secara kasar mengecam seuneujoh misalnya. Mereka telah lupa bahwa seuneujoh itu bukan peususah ahli waris, tetapi tiap yang datang bawa gula, bawa beras, bawa kelapa, bawa ikan dan seterusnya hingga di rumah ahli waris itu melimpah makanan dan persediaan. Dengan banyak yang berkunjung itu bahkan ahli waris bahkan bisa membayar hutang-hutang almarhum. LC ga akan paham itu, atau lupa atau pura-pura ga paham. IAIN juga. Apalagi 3md3.

Pembelajaran agama di IAIN sangat instan. Misalnya, empat belas kali pertemuan sudah haru paham ajaran Imam Syafi'i beserta rekonstruksinya untuk zaman modern. Bandingkan dengan di dayah, orang sudah mengaji tujuh tahun masih belum khatam kitab-kitab pengantar sebagai bekal mengaji Al-Umm. Lama. Tapi tuntas. Insya Allah ga bakal ada kekeliruan dalam belajar agama di dayah (kalau benar-benar niatnya tulis). Sebab itulah saya selalu menawarkan revolusi segala terkait pembelajaran di IAIN.

IAIN mau kemana? Mau ngapain? Akhirnya jadi orang nyeleneh. Apalagi yang belajar filsafat. Kenapa bisa begitu? Mahasiswa umumnya belajar filsafat dari buku tulisan profesor filsafat yang belajar filsafat dari buku filsafat terjemahan bahasa Inggris yang diterjemahkan dari bahasa Arab dan Jerman karya komentator pemikiran Ibn Sina dan Immanuel Kant. Brat buet. 😆

Tapi sekarang anehnya banyak anak dayah yang sudah delapan tahun di dayah, tapi malah masuk IAIN. Saya tidak tahu motivasinya apa. Secara umum saya dengar mereka terkesima dengan Alyasa yang jago baca kitab dan tahu sebuah detil pembahasan beserta halaman berapa sekaligus. Come on guys. Ingat, tahu halaman dan dapat baca itu bukan indikator. Bahkan kalau vis a vis penguasaan teori, Henry Corbin, Annemarie Schimmel, Toshihiko Isutzu, bisa lebih jago.

Yang membuat saya terpesona dengan dayah adalah kemapuannya mendidik manusia dari urusan paling sederhana seperti cara berwudhu dengan belajar cara mengusap lengan melalui praktik terus menerus, lalu di balee juga dipeubeut secara detail caranya, nanti dipraktik lagi, dipeubeut lagi, begitu terus menerus secara berkesinambungan hingga membentuk kedisiplinan, pemahaman, kesadaran sejati dari dalam diri. Itu yang tidak ada di lembaga lain. Dan begitulah satu-satunya cara belajar aham yng benar. Dan itu hanya ada di dayah.
Perlu saya jelaskan pada orang Aceh di sini bahwa ketika Irwandi diboyong KPK ke Jakarta, orang Indonesia dan sekitasnya tidak melihat Itu Irwandi kah, atau Muallem kah, atau Tarmizi kah, atau Puteh kah, atau Apa Karya kah. Yang mereka lihat itu gubernur Aceh. Itu Aceh. Aceh sama dengan syariat Islam. Orang Indonesia dan sekitarnya juga ga bisa ngebedain syariat Islam dengan formalisasi syariat Islam. Jadi kesimpulan mereka Aceh yang syariat Islam itu korupsi. Mengkasifikasi dan klasifikasi itu sangat sulit, jangankan lewat medsos, sepuluh cangkir sanger nonpancong sampe babah meukuboh juga belum tentu kesimpulan mereka berubah.
Tapi saya sedang berusaha.

Wahai warga Indonesia yang budiman di mapun Anda berada. Irwandi itu sudah mencoba mengwndalikan formalisasi syariat Islam. Tetapi sebagian besar orang Aceh yang kurang dapat membedakan syariat Islam dengan formalisasi syariat Islam terus memaksa dia mengesahkan saboh qanun-qanun.

Dan perkara Irwandi itu sama sekali tidak berhubungan dengan hasrat oelaksanaan syariat Islam oleh masyarakat Aceh. Dia ditangkap KPK, seperti kata tukang Go-Jek di Medan beberapa hari lalu, siapa saja mulai dari menteri hingga lurah, bisa dengan mudah diangkat. Kasusnya sangat gampang dicari. Tinggal ada yang memberitahukan atau melaporkan atau tidak.

Dan umumnya pelaporan itu terjadi karena ada yang tidak suka. Tukang ojek itu memberi contoh Gubsu Samsul Arifin. Dia dilaporkan karena ada yang kecewa tidak diberikan proyek. Irwandi sudah lama dicari-cari kesalahannya. Mau angkat kasus dermaga Sabang, tidak ketemu. Cari kesalahan lain.

Contoh paling sederhana adalah Abraham Samad. Kasusnya dicari hingga ke masa sangat lalu dan yang ditemukan adalah pemalsuan identitas kependudukan. Kalau memang sudah benci tapi kesalahan tidak ditemukan, dibuatlah fitnah. Habib Rizik contohnya.

Yang paling membuat kesal pembenci kan karena ada isu Irwandi menikah lagi. Ini masalah besar buat warga non Aceh. Menikah lagi memang sangat dibenci di luar Aceh. Tapi selingkuhan wallahu'alam. Apalagi oleh PNS yang bisa langsung dipecat kalau ketahuan kawin lagi. Pasti sangat benci dengan orang kawin lagi. Benci karena di ga bisa Irwandi kok bisa 😆😆😆

Jadi, kesimpulannya, Aceh sedang menjadi olok-olok nasional. Hari ini adalah hari peukabeh sedunia. Orang tidak peduli itu Irwandi. Orang tahunya itu Aceh. Jadi, kalau ada orang Aceh yang ikut-ikutan mentertawakan penangkapan gubernurnya, aneh aja but saya. Bagi saya, ini istilahnya Aceh teungoeh disuet luweu. Teungoeh digeutie aneuk kreh, kok malah ketawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar