Ada wacana orang Aceh akan tek-tean ngumpulin duit buat beliin pesawat buat Abdul Somad Batubara. Sebelumnya juga pernah beredar isu ada sumbangan Toyota Alphard untuk ustad berdarah Batak dari kelompok marga Si Raja Borbor itu. Kenapa tidak ada wacana menyumbang kereta api? Tentu saja itu tidak ada karena di Aceh rel kereta api cuma hanya sepanjang Bungkah-Kruenggeukuh.
Orang-orang yang mewacanakan sumbangan pesawat untuk Somad tentu adalah mereka yang kurang wawasan. Setidaknya kurang informasi, kurang baca berita. Maklum, koran Nasional biasanya baru masuk ke Aceh sehari kemudian. Apalagi majalah. Biasanya majalah edisi minggu pertama April baru masuk Aceh minggu terakhir Nopember. Jadi wajar saja orang Aceh kekurangan informasi. Seperti ada orang bilang, "orang Aceh bukan kurang nasi, tapi kurang informasi".
Misalnya saja kalau orang Aceh baca Majalah Tempo edisi minggu lalu (24/06, h. 33) mereka akan tahu bahwa pendapatan Abdul Somad hanya bidang publikasi ceramhnya di Youtube saja, Rp. 400.000.000,- sebulan. Itu baru di Youtube, belum di medsos lain. Dan tentunya, pendapatan sejumlah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan honor ceramahnya. Saya yakin pendapatan Somad itu minimal Rp. 2.000.000.000,- sebulan. Itu prediksi minimal.
Lantas dengan pendapatan segitu, tentu saja setahun saja Somad bisa belu pesawat pribadi. Kalau dia mau. Lagian dia ga bakal beli karena akan membuat simpati orang berkurang. Tentu saja yang kurang informasi ga bakal paham itu. Mereka lebih terkecoh oleh penampilan Somad yang teuleumik-leumik menan, sang-sang meu ie saka han leupah, sehingga jadi kasihan dan berinisiatif menyumbangkannya pesawat. Padahal, pendapatan Somad seribu kali lipat lebih banyak daripada yang akan memberinya sumbangan. Sebab itulah sebelum menyumbang ke Somad, ada baiknya belajar beli majalah, daripada ditipu mulu ame tuh berita hoax di medsos? Eh, ane lupa, gau usah beli aja. Paling itu majalah enam bulan lalu.
Tetapi kenapa pula orang Aceh sampai punya estimasi sebegitunya?
Pertama tentu karena kurang informasi sebagaimana keterangan di atas. Kedua karena, orang Aceh, mengutip orang Aceh lagi emosi "menyoe teungoeh get, aneuk kreh jikeuh pih jibi". Sekarang sedang demen-demennya dengan Somad. Orang Aceh tentunya sudah lupa pernah memberikan pesawat pada orang lain sebelumnya, lalu dibuat kecewa.
Saya terus terang no problem Somad dibelikan pesawat. Itu artinya masyarakat dayah sudah harmonis dengan alumni Timur-Tengah. Sebelumnya orang dayah selalu bersitegang dengan alumni Timur-Tengah. Somad alimni Mesir dan Maroko sudah dicintai orang dayah. Sekalipun saya heran dan bertanya-tanya. Emangnya, kalau benar-benar kita aneuk dayah, meu belajar apa dari Abdul Somad? Bukankah apa yang dia ceramahkan itu sudah didapatkan pada tahun pertama di dayah.
Menurut saya, Somad itu cocoknya ceramah di hadapan orang yang belum pernah belajar agama, seperti umumnya warga kota besar. Nah, kalau saja warga kota besar yang punya wacana beli pesawat, mereka sanggup membelikan pesawat tempur untuk Somad. Saya kira dengan molilitas ceramah yang padat, Somad lebih membutuhkan pesawat tempur daripada jet pribadi.
Saya juga melihat kini orang Aceh semakin terbuka. Waktu saya masuk pesantren di Medan dulu, saya diejek, " Punut awak Aceh meureunoe agama bak Batak. Peumale-malee kaom, peumale-malee bansa Aceh.". Itu dulu. Dulu orang Aceh merasa paling alim. Tapi kini sudah insaf. Bahkan sekarang mereka lebih mengidolakan orang Batak sebagai guru agamanya. Tentunya guru dimaksud adalah Abdul Somad Batubara yang lahir di Asahan, Sumatera Utara.
Orang-orang yang mewacanakan sumbangan pesawat untuk Somad tentu adalah mereka yang kurang wawasan. Setidaknya kurang informasi, kurang baca berita. Maklum, koran Nasional biasanya baru masuk ke Aceh sehari kemudian. Apalagi majalah. Biasanya majalah edisi minggu pertama April baru masuk Aceh minggu terakhir Nopember. Jadi wajar saja orang Aceh kekurangan informasi. Seperti ada orang bilang, "orang Aceh bukan kurang nasi, tapi kurang informasi".
Misalnya saja kalau orang Aceh baca Majalah Tempo edisi minggu lalu (24/06, h. 33) mereka akan tahu bahwa pendapatan Abdul Somad hanya bidang publikasi ceramhnya di Youtube saja, Rp. 400.000.000,- sebulan. Itu baru di Youtube, belum di medsos lain. Dan tentunya, pendapatan sejumlah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan honor ceramahnya. Saya yakin pendapatan Somad itu minimal Rp. 2.000.000.000,- sebulan. Itu prediksi minimal.
Lantas dengan pendapatan segitu, tentu saja setahun saja Somad bisa belu pesawat pribadi. Kalau dia mau. Lagian dia ga bakal beli karena akan membuat simpati orang berkurang. Tentu saja yang kurang informasi ga bakal paham itu. Mereka lebih terkecoh oleh penampilan Somad yang teuleumik-leumik menan, sang-sang meu ie saka han leupah, sehingga jadi kasihan dan berinisiatif menyumbangkannya pesawat. Padahal, pendapatan Somad seribu kali lipat lebih banyak daripada yang akan memberinya sumbangan. Sebab itulah sebelum menyumbang ke Somad, ada baiknya belajar beli majalah, daripada ditipu mulu ame tuh berita hoax di medsos? Eh, ane lupa, gau usah beli aja. Paling itu majalah enam bulan lalu.
Tetapi kenapa pula orang Aceh sampai punya estimasi sebegitunya?
Pertama tentu karena kurang informasi sebagaimana keterangan di atas. Kedua karena, orang Aceh, mengutip orang Aceh lagi emosi "menyoe teungoeh get, aneuk kreh jikeuh pih jibi". Sekarang sedang demen-demennya dengan Somad. Orang Aceh tentunya sudah lupa pernah memberikan pesawat pada orang lain sebelumnya, lalu dibuat kecewa.
Saya terus terang no problem Somad dibelikan pesawat. Itu artinya masyarakat dayah sudah harmonis dengan alumni Timur-Tengah. Sebelumnya orang dayah selalu bersitegang dengan alumni Timur-Tengah. Somad alimni Mesir dan Maroko sudah dicintai orang dayah. Sekalipun saya heran dan bertanya-tanya. Emangnya, kalau benar-benar kita aneuk dayah, meu belajar apa dari Abdul Somad? Bukankah apa yang dia ceramahkan itu sudah didapatkan pada tahun pertama di dayah.
Menurut saya, Somad itu cocoknya ceramah di hadapan orang yang belum pernah belajar agama, seperti umumnya warga kota besar. Nah, kalau saja warga kota besar yang punya wacana beli pesawat, mereka sanggup membelikan pesawat tempur untuk Somad. Saya kira dengan molilitas ceramah yang padat, Somad lebih membutuhkan pesawat tempur daripada jet pribadi.
Saya juga melihat kini orang Aceh semakin terbuka. Waktu saya masuk pesantren di Medan dulu, saya diejek, " Punut awak Aceh meureunoe agama bak Batak. Peumale-malee kaom, peumale-malee bansa Aceh.". Itu dulu. Dulu orang Aceh merasa paling alim. Tapi kini sudah insaf. Bahkan sekarang mereka lebih mengidolakan orang Batak sebagai guru agamanya. Tentunya guru dimaksud adalah Abdul Somad Batubara yang lahir di Asahan, Sumatera Utara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar