Jumat, 06 Juli 2018

Maryani



Setiap hari Selasa, Pekan Geurugok pasti selalu ramai. Hari ini serombongan santriwati berkeiling pasar. Mereka di antar truk puckup L-300 hitam untuk berbelanja. Santri-santri berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tidak semuanya ikut pergi. Sebagian lagi menitpkan pada kawannya. Meskipun hampir setiap Selasa ada mobil yang dicarter, tetapi hampir  pasti tidak semuanya rutin pergi. Bisa saja hari ini Maryani yang pergi, minggu depan Nuraini. Masing-masing bisa saling menitipkan. 
Biasanya para santri membeli odol dan sikat gigi. Sabun juga. Beberapa membeli kitab. Sangat sering kitab yang dibeli di hari pekan bukan kitab yang dianjurkan. Kitab-kitab itu dibeli untuk dibaca sendiri saja. Sementara kitab-kitab untuk pengajian memang sudah tersedia di dayah. 


Hari ini Maryani punya beberapa titipan dari teman. Maimunah  menitipkan odol. Khairunnisa menitipkan tomat dan lada. Hikmah menitip dibelikan  jagong beureutoh, sejenis makanan seperti popcorn yang diolah dari jagung, dimasukkan ke dalam sebuah wadah mirip meriam dan diberi api. Beberapa menit keluar ledakan keras petanda jagong beurutoh sudah sedia. Semua titipan itu sudah dibeli Maryani. Tetapi ada satu yang belum dibeli yaitu bhoy titipan Nuraini. Bhoy adalah makanan yang rasanya mirip bolu. Adonannya dibakar di atas cetakan berbentuk bunga dan ikan. Makanan itu sangat terkenal di Geudong Pasee. Nuraini bukan orang Geudong. Tetapi dia sangat cinta pada bhoy. Dia bisa menghabiskan sampai dua puluh bhoy dalam sekali makan. 
Mengetahui waktu mereka tidak lama lagi, Maryani panik. Memang makanan adalah titipan yang tidak terlalu penting. Tetapi itu adalah titipan dari Nuraini, teman baiknya. Teman paling dekat selama mondok di dayah. Sebab itulah bhoy sudah ada sejak tiba di pasar. Tetapi benda itu sulit ditemukan. Makanya Maryani panik. 
Di tengah kepanikan itu Maryani tidak sengaja menginjak barang dagangan seorang pedagang yang tidak punya meja untuk menggelar dagangannya. Pedagang itu sebenarnya berjualan keliling. Tetapi bila menemukan kerumunan pengunjung pasar dengan jumlah banyak, dia langsung mangkal di salah satu persimpangan pasar. Saat melihat ada yang menginjak barang dagangannya, si penjual sempat naik darah. Maryani jadi takut. Lalu melihat ke arah si pedagang dengan raut wajah penuh sesal dan harap maaf. 
Melihat yang menginjak dagangannya adalah seorang perempuan muda, manis, wajahnya polos, maka si pedagang langsung kehilangan darahnya. Semua darah itu berkumpul di hati. Hatinya langsung menumbuhkan sebuah rasa yang sulit dijelaskan. Manusia menyebut perasaan itu adalah cinta. Cinta pada pandangan pertama. Sang pedagang yang bernama Ahmad itu kini darahnya penuh dengan cinta. Cinta yang diciptakan oeh hati saat darah-darah itu berkumpul di hati. 
Dari marah langsung berubah cinta. Itulah perasaan Ahmad. Hatinya berkata, injak lagi daganganku itu. Seribu kali lagi.
"Maaf, Bang," kata, Maryani.
"Siapa nama?"
"Maryani"
"Sekolah di mana?"
"Tidak sekolah."
"Bagaimana bisa?"
"Mengaji di dayah."
"Sudah berapa lama?"
"Sudah sangat lama."
"Maksudnya?"
"Sudah di dayah sejak kecil".
"Luar biasa."
"Kenapa?"
Ahmad tidak punya pertanyaan lagi. Dia terpesona dengan gadis itu. Ahmad mencoba menarik nafas. Berusaha keras. Berhasil. Setelah oksigen agak cukup di otak, Ahmad coba berpikir. Bila perempuan bersedia menjawab lima pertanyaan dari laki-laki, berarti dia juga punya rasa. Ahmad kaget dengan kejadian itu. Perempuan cantik, alim dan sangat anggun punya perasaan kepadanya. Itu luar biasa. Padahal dia hanya seorang pedagang kecil. 
"Maaf ya, Bang."
"Ya," jawab Ahmad cepat. 
"Baiklah," jawab perempuan itu. Lalu dia mengangkat tangannya, setengah melambai. Senyum manis masih tersisa di bibir nya. Wajah itu semakin manis. Lalu Maryani berjalan lagi dengan Cepat. 
Ikuti dia. Ini cinta. Tidak boleh lenyap. Tidak ada dua di dunia perempuan seperti itu. Dan yang terpenting kamu jatuh cinta. Segera buru dia, perintah Ahmad pada dirinya. 
Segera Ahmad mengemasi  barang dagangannya. Dia memasukkan semua barang itu ke dalam dua plastik besar. Dilemparnya dua plastik itu ke punggungnya dengan digantung pada antara telunjuk dan ibu jari kiri. Disisrnya orang-orang di kerumunan pasar. Perempuan itu tidak terlihat. Terus dicarinya hingga pada sebuah persimpangan ditemukan. Menyadari ada yang mengikutinya, Maryani berbalik. Kembali dia memberi Ahmad sebuah senyum. Tetapi panik tidak bisa segera minggat dari wajah perempuan itu. 
"Bhoy," seru perempuan itu.
Ahmad segera menunjuk sebuah toko kue tidak jauh dari tempat mereka berdiri. 
Perempuan itu langsung berlari ke toko itu. Ahmad mencoba mengawasi supaya tidak lenyap dari pandangannya. Ahmad terus berdiri di tengah kerumunan orang. Ahmad terbawa perasaan. Tidak menyangka bisa bertemu dengan perempuan secantik itu. Bahkan yang lebih membuatnya tak sangka adalah, perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaannya secara cepat. Ahmad yakin itu adalah petanda bahwa perempuan itu juga punya rasa yang sama. Wah. Ahmad benar-benar merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia hari itu. 
Ahmad mencoba merasionalkan pengalaman itu. Tepatnya kenapa perempuan itu juga punya rasa. Laki-laki itu mencoba mendiskripsikan dirinya: badannya tinggi, banyak perempuan menyukai pria tinggi. Wajahnya manis, setidaknya sudah beberapa orang mengatakan itu. Rambutnya menarik, itu sudah banyak orang bilang. Jadi wajar saja perempuan cantik itu tertarik padaku, pikirnya. 
Tapi Ahmad coba terus berpikir. Jangan-jangan perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan laki-laki itu karena posisinya sedang menjadi orang yang bersalah karena menginjak barang dagangan dirinya. Nah, itu sangat mungkin pikir Ahmad. Tetapi kenapa senyum perempuan itu sangat manis kepada dirinya? Mungkin karena memang perempuan itu tipe orang yang ramah. Jadi, dia bisa senyum manis kepada siapapun. 

Tersadar dari pikirinnya, Ahmad melirik toko kue tempat perempuan itu  masuk. Tidak terlihat lagi sosok Maryani. Dicarinya lagi. Diingatnya jilbab perempuan itu bewarna cokelat muda. Tidak ada. Seketika Ahmad dilanda panik. Dicoba pastikan ke dalam toko. Benar-benar tidak ada. Dicarinya ke beberapa penjuru hingga Ahmad tiba di pinggir jalan raya. Dilihatnya sebuah mobil pick up L300 bewarna hitam sedang menaikkan semua penumpangnya dan bersiap untuk berangkat. Semua penumpangnya perempuan muda. Ahmad sadar itu rombongan santriwati yang berbelanja ke Pasar Geurugok.
Diamatinya satu-persatu. Nah. Dia menemukan Maryani yang telah duduk di atas dinding pickup bersama santriwati lain. Ahmad menyeberang jalan untuk mendekati mobil itu. Maryani sempat melirik laki-laki itu. tetapi segera buang muka sambil senyum manis. Jantung Ahmad terasa terbakar oleh dua hal. Pertama oleh senyum itu. Kedua karena tidak rela akan berpisah dengan perempuan itu. 
Ahmad Langsung lari ke parkiran mobil yang ada di kompleks masjid. Diraihnya engsel pintu mobil Katana biru. Sial. Mobil itu mogok. Lampu kontaknya tidak menyala. Ahmad diserang panik lagi. Kali ini bercampur  takut. Tangan dan tubuhnya jadi gemetar. Tidak Tuhan, jangan sekarang, kumohon, pinta Ahmad dalam hatinya. Belum pernah dia berharap sebesar dan setulus itu. Tiba-tiba saja dia mendapat ide untuk menukar sekring-sekring yang terletak dibawah dashboard mobilnya. Ditikarnya sekring 30 paling kiri dengan sekring 30 lain pada posisi yang lainnya. Dicoba kembali putar kunci. Aneh, unik. Lampu kontaknya menyala. Ahmad bersyukur, sangat bersyukur. Dia sadar itu keajaiban besar. Jarang-jarang dia memperoleh keajaiban sebesar itu. Bahkan biasannya saat mobilnya mogok, sudah bernazar dan sudah shalat tahajjud sekalipun, mogok mobil itu tidak juga hilang. Mekanik bengkel-bengkel tentunya sudah menyerah sejak Katana tua itu berbelok masuk bengkel mereka. Dari luar saja kondisi mobil itu sudah membuat para mekanik merasakan firasat akan ditimpa sial. Setidaknya  akan menguras waktu mereka jika mobil itu dipegang. 
Pickup L-300 itu belum menjauh. Ahmad coba mengejar. Berbelok mobil itu ke Jalan Elak di Krueng Mane. Lalu berbelok lagi ke kanan pada perempatan pertama. Terus diburu. Kini sudah memasuki jalan tidak beraspal. Sangat banyak persimpangan di jalan berbukit-bukit. Ahmad kehilangan jejek ban mobil. Dia berhenti di sebuah pertigaan menanjak. Tanjakannya sangat tinggi. Jalannya sangat berlumpur. Hujan baru saja turun di darerah itu. Ahmad turun dari mobil. 
Di coba selidiki apakah persimpangan curam itu meninggalkan jejak ban mobil. Ahmad tidak yakin. Dia putus asa. Lagi pula Ahmad tidak yakin mobilnya akan mampu mengatasi tanjakan itu. Lumpurnya sangat parah. Mobil itu bukan 4X4. Kalau saja pengalaman Ahmad adalah film India, pasti sudah ada sebuah lagi saat itu. Tapi karena itu adalah pengalaman orang Aceh, lokasinya juga di Aceh. Tentunya harus ada sebuah lagu Aceh untuk itu.

Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...


Meuphoem hatee nyoe cinta lon nyang phoen, nyang keuseuneulheuh
Nyoe masalah bhoi lon hana keupeuneu weuh
Nyang peunteng bak mak ngoen yah ka geu peu ikheulaih

Nyoe salah lon yoh toe han lon peureumeun
Watee jioh baroe ulon meukarat

Koen salah lon nyoe cinta lam hatee meualoen
Nyoe keuh Tuhan nyang peuudep lam dada lon

Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar