Setiap hari Selasa, Pekan Geurugok pasti selalu
ramai. Hari ini serombongan santriwati berkeiling pasar. Mereka di antar truk
puckup L-300 hitam untuk berbelanja. Santri-santri berbelanja kebutuhan
sehari-hari. Tidak semuanya ikut pergi. Sebagian lagi menitpkan pada kawannya.
Meskipun hampir setiap Selasa ada mobil yang dicarter, tetapi hampir
pasti tidak semuanya rutin pergi. Bisa saja hari ini Maryani yang pergi,
minggu depan Nuraini. Masing-masing bisa saling menitipkan.
Biasanya para santri membeli odol dan sikat
gigi. Sabun juga. Beberapa membeli kitab. Sangat sering kitab yang dibeli di
hari pekan bukan kitab yang dianjurkan. Kitab-kitab itu dibeli untuk dibaca
sendiri saja. Sementara kitab-kitab untuk pengajian memang sudah tersedia di
dayah.
Hari ini Maryani punya beberapa titipan dari
teman. Maimunah menitipkan odol. Khairunnisa menitipkan tomat dan lada.
Hikmah menitip dibelikan jagong beureutoh, sejenis makanan seperti
popcorn yang diolah dari jagung, dimasukkan ke dalam sebuah wadah mirip meriam
dan diberi api. Beberapa menit keluar ledakan keras petanda jagong beurutoh
sudah sedia. Semua titipan itu sudah dibeli Maryani. Tetapi ada satu yang belum
dibeli yaitu bhoy titipan Nuraini. Bhoy adalah makanan yang rasanya mirip bolu.
Adonannya dibakar di atas cetakan berbentuk bunga dan ikan. Makanan itu sangat
terkenal di Geudong Pasee. Nuraini bukan orang Geudong. Tetapi dia sangat cinta
pada bhoy. Dia bisa menghabiskan sampai dua puluh bhoy dalam sekali makan.
Mengetahui waktu mereka tidak lama lagi,
Maryani panik. Memang makanan adalah titipan yang tidak terlalu penting. Tetapi
itu adalah titipan dari Nuraini, teman baiknya. Teman paling dekat selama
mondok di dayah. Sebab itulah bhoy sudah ada sejak tiba di pasar. Tetapi benda
itu sulit ditemukan. Makanya Maryani panik.
Di tengah kepanikan itu Maryani tidak sengaja
menginjak barang dagangan seorang pedagang yang tidak punya meja untuk
menggelar dagangannya. Pedagang itu sebenarnya berjualan keliling. Tetapi bila
menemukan kerumunan pengunjung pasar dengan jumlah banyak, dia langsung mangkal
di salah satu persimpangan pasar. Saat melihat ada yang menginjak barang
dagangannya, si penjual sempat naik darah. Maryani jadi takut. Lalu melihat ke
arah si pedagang dengan raut wajah penuh sesal dan harap maaf.
Melihat yang menginjak dagangannya adalah
seorang perempuan muda, manis, wajahnya polos, maka si pedagang langsung
kehilangan darahnya. Semua darah itu berkumpul di hati. Hatinya langsung
menumbuhkan sebuah rasa yang sulit dijelaskan. Manusia menyebut perasaan itu
adalah cinta. Cinta pada pandangan pertama. Sang pedagang yang bernama Ahmad
itu kini darahnya penuh dengan cinta. Cinta yang diciptakan oeh hati saat
darah-darah itu berkumpul di hati.
Dari marah langsung berubah cinta. Itulah
perasaan Ahmad. Hatinya berkata, injak lagi daganganku itu. Seribu kali lagi.
"Maaf, Bang," kata, Maryani.
"Siapa nama?"
"Maryani"
"Sekolah di mana?"
"Sekolah di mana?"
"Tidak sekolah."
"Bagaimana bisa?"
"Mengaji di dayah."
"Sudah berapa lama?"
"Sudah sangat lama."
"Maksudnya?"
"Sudah di dayah sejak kecil".
"Luar biasa."
"Kenapa?"
Ahmad tidak punya pertanyaan lagi. Dia
terpesona dengan gadis itu. Ahmad mencoba menarik nafas. Berusaha keras.
Berhasil. Setelah oksigen agak cukup di otak, Ahmad coba berpikir. Bila
perempuan bersedia menjawab lima pertanyaan dari laki-laki, berarti dia juga
punya rasa. Ahmad kaget dengan kejadian itu. Perempuan cantik, alim dan sangat
anggun punya perasaan kepadanya. Itu luar biasa. Padahal dia hanya seorang
pedagang kecil.
"Maaf ya, Bang."
"Ya," jawab Ahmad cepat.
"Baiklah," jawab perempuan itu. Lalu
dia mengangkat tangannya, setengah melambai. Senyum manis masih tersisa di
bibir nya. Wajah itu semakin manis. Lalu Maryani berjalan lagi dengan Cepat.
Ikuti dia. Ini cinta. Tidak boleh lenyap. Tidak
ada dua di dunia perempuan seperti itu. Dan yang terpenting kamu jatuh cinta.
Segera buru dia, perintah Ahmad pada dirinya.
Segera Ahmad mengemasi barang
dagangannya. Dia memasukkan semua barang itu ke dalam dua plastik besar.
Dilemparnya dua plastik itu ke punggungnya dengan digantung pada antara
telunjuk dan ibu jari kiri. Disisrnya orang-orang di kerumunan pasar. Perempuan
itu tidak terlihat. Terus dicarinya hingga pada sebuah persimpangan ditemukan.
Menyadari ada yang mengikutinya, Maryani berbalik. Kembali dia memberi Ahmad
sebuah senyum. Tetapi panik tidak bisa segera minggat dari wajah perempuan itu.
"Bhoy," seru perempuan itu.
Ahmad segera menunjuk sebuah toko kue tidak
jauh dari tempat mereka berdiri.
Perempuan itu langsung berlari ke toko itu.
Ahmad mencoba mengawasi supaya tidak lenyap dari pandangannya. Ahmad terus
berdiri di tengah kerumunan orang. Ahmad terbawa perasaan. Tidak menyangka bisa
bertemu dengan perempuan secantik itu. Bahkan yang lebih membuatnya tak sangka
adalah, perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaannya secara cepat.
Ahmad yakin itu adalah petanda bahwa perempuan itu juga punya rasa yang sama.
Wah. Ahmad benar-benar merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia hari
itu.
Ahmad mencoba merasionalkan pengalaman itu.
Tepatnya kenapa perempuan itu juga punya rasa. Laki-laki itu mencoba
mendiskripsikan dirinya: badannya tinggi, banyak perempuan menyukai pria
tinggi. Wajahnya manis, setidaknya sudah beberapa orang mengatakan itu.
Rambutnya menarik, itu sudah banyak orang bilang. Jadi wajar saja perempuan
cantik itu tertarik padaku, pikirnya.
Tapi Ahmad coba terus berpikir. Jangan-jangan
perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan laki-laki itu karena
posisinya sedang menjadi orang yang bersalah karena menginjak barang dagangan
dirinya. Nah, itu sangat mungkin pikir Ahmad. Tetapi kenapa senyum perempuan
itu sangat manis kepada dirinya? Mungkin karena memang perempuan itu tipe orang
yang ramah. Jadi, dia bisa senyum manis kepada siapapun.
Tersadar dari pikirinnya, Ahmad melirik toko kue tempat perempuan itu masuk. Tidak terlihat lagi sosok Maryani. Dicarinya lagi. Diingatnya jilbab perempuan itu bewarna cokelat muda. Tidak ada. Seketika Ahmad dilanda panik. Dicoba pastikan ke dalam toko. Benar-benar tidak ada. Dicarinya ke beberapa penjuru hingga Ahmad tiba di pinggir jalan raya. Dilihatnya sebuah mobil pick up L300 bewarna hitam sedang menaikkan semua penumpangnya dan bersiap untuk berangkat. Semua penumpangnya perempuan muda. Ahmad sadar itu rombongan santriwati yang berbelanja ke Pasar Geurugok.
Tersadar dari pikirinnya, Ahmad melirik toko kue tempat perempuan itu masuk. Tidak terlihat lagi sosok Maryani. Dicarinya lagi. Diingatnya jilbab perempuan itu bewarna cokelat muda. Tidak ada. Seketika Ahmad dilanda panik. Dicoba pastikan ke dalam toko. Benar-benar tidak ada. Dicarinya ke beberapa penjuru hingga Ahmad tiba di pinggir jalan raya. Dilihatnya sebuah mobil pick up L300 bewarna hitam sedang menaikkan semua penumpangnya dan bersiap untuk berangkat. Semua penumpangnya perempuan muda. Ahmad sadar itu rombongan santriwati yang berbelanja ke Pasar Geurugok.
Diamatinya satu-persatu. Nah. Dia menemukan
Maryani yang telah duduk di atas dinding pickup bersama santriwati lain. Ahmad
menyeberang jalan untuk mendekati mobil itu. Maryani sempat melirik laki-laki
itu. tetapi segera buang muka sambil senyum manis. Jantung Ahmad terasa
terbakar oleh dua hal. Pertama oleh senyum itu. Kedua karena tidak rela akan
berpisah dengan perempuan itu.
Ahmad Langsung lari ke parkiran mobil yang ada
di kompleks masjid. Diraihnya engsel pintu mobil Katana biru. Sial. Mobil itu
mogok. Lampu kontaknya tidak menyala. Ahmad diserang panik lagi. Kali ini
bercampur takut. Tangan dan tubuhnya jadi gemetar. Tidak Tuhan, jangan
sekarang, kumohon, pinta Ahmad dalam hatinya. Belum pernah dia berharap sebesar
dan setulus itu. Tiba-tiba saja dia mendapat ide untuk menukar sekring-sekring
yang terletak dibawah dashboard mobilnya. Ditikarnya sekring 30 paling kiri
dengan sekring 30 lain pada posisi yang lainnya. Dicoba kembali putar kunci.
Aneh, unik. Lampu kontaknya menyala. Ahmad bersyukur, sangat bersyukur. Dia
sadar itu keajaiban besar. Jarang-jarang dia memperoleh keajaiban sebesar itu.
Bahkan biasannya saat mobilnya mogok, sudah bernazar dan sudah shalat tahajjud
sekalipun, mogok mobil itu tidak juga hilang. Mekanik bengkel-bengkel tentunya
sudah menyerah sejak Katana tua itu berbelok masuk bengkel mereka. Dari luar
saja kondisi mobil itu sudah membuat para mekanik merasakan firasat akan
ditimpa sial. Setidaknya akan menguras waktu mereka jika mobil itu
dipegang.
Pickup L-300 itu belum menjauh. Ahmad coba
mengejar. Berbelok mobil itu ke Jalan Elak di Krueng Mane. Lalu berbelok lagi
ke kanan pada perempatan pertama. Terus diburu. Kini sudah memasuki jalan tidak
beraspal. Sangat banyak persimpangan di jalan berbukit-bukit. Ahmad kehilangan
jejek ban mobil. Dia berhenti di sebuah pertigaan menanjak. Tanjakannya sangat
tinggi. Jalannya sangat berlumpur. Hujan baru saja turun di darerah itu. Ahmad
turun dari mobil.
Di coba selidiki apakah persimpangan curam itu
meninggalkan jejak ban mobil. Ahmad tidak yakin. Dia putus asa. Lagi pula Ahmad
tidak yakin mobilnya akan mampu mengatasi tanjakan itu. Lumpurnya sangat parah.
Mobil itu bukan 4X4. Kalau saja pengalaman Ahmad adalah film India, pasti sudah
ada sebuah lagi saat itu. Tapi karena itu adalah pengalaman orang Aceh,
lokasinya juga di Aceh. Tentunya harus ada sebuah lagu Aceh untuk itu.
Theung..
theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Meuphoem hatee nyoe cinta lon nyang phoen, nyang keuseuneulheuh
Nyoe masalah bhoi lon hana keupeuneu weuh
Nyang peunteng bak mak ngoen yah ka geu peu ikheulaih
Nyoe salah lon yoh toe han lon peureumeun
Watee jioh baroe ulon meukarat
Koen salah lon nyoe cinta lam hatee meualoen
Nyoe keuh Tuhan nyang peuudep lam dada lon
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Meuphoem hatee nyoe cinta lon nyang phoen, nyang keuseuneulheuh
Nyoe masalah bhoi lon hana keupeuneu weuh
Nyang peunteng bak mak ngoen yah ka geu peu ikheulaih
Nyoe salah lon yoh toe han lon peureumeun
Watee jioh baroe ulon meukarat
Koen salah lon nyoe cinta lam hatee meualoen
Nyoe keuh Tuhan nyang peuudep lam dada lon
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar