Sebenarnya ilmu antropologi untuk apa? Sumber data primernya obsevasi dan wawancara. Lagu kedua sumber itu desajikan dengan mengaitkannya dengan segudang teori. Untuk apa itu semua?
Kalau dikatakan untuk menulis jurnal terindeks Scopus? pertanyaannya untuk apa teori-teori itu? Malah itu dapat membuat oenelusnya jadi tertawaan para pembaca. Kenapa? Karena pembaca-pembaca artikel terindeks Scopus itu adalah para akademisi level tinggi. Kesalahan detail pengutipan teori akan membuat mereka geli.
Menurut saya mengait-ngaitkan fenomena sosial dengan teori-teori sosiologi adalah pekerjaan orang-orang kurang kerjaan. Buat apa mwngait-ngaitkan para santri yang bertengkar memperebutkan gayung di kamar mandi dayah dengan teori ruang ketiga Edward Soja? Buat apa mengait-ngaitkan inang-inang penjual sayur di pasar inpres yang adu mulut dengan Satpol PP dengan teori hegemoni Gramsci? Itu semua adalah lelucon.
Kita menulis artikel jurnal terindeks Scopus untuk melaporkan fenomena-fenomena soaial. Itu semua kita laporkan kepada dunia persis seperti seorang cuwak melaporkan kondisi daerahnya kepada kumpeni.
Kalau ingin melaporkan peristiwa sosial, kenapa tidak langsung saja mendeskripsiknnya dengan cara biasa tanpa teori ini itu. But apa ilmu antropologi itu? Kalau dikatakan untuk dapat menemukan cara yang baik dan benar memperoleh data maka itu tidak perlu. Cara terbaik kemperoleh data adalah dengan memahami jantung peristiwa. Bahkan itu tidak akan dapat dilakukan dengan metode ini dan itu.
Kalau dikatakan ilmu antropologi itu berguna sebagai bekal kemampuan melaporkan kondisi sosial, maka saya kira malah itu akan merugikan. Kenapa? Karena pelaporan dekripsi fenomena sosial dengan melibatkan teori ini dan itu malah mereduksi, mengaburkan isi laporan.
Belum lagi teori-teori sosial adalah bahan tertawaan sainstis. Ahli matematika dan biologi akan tertawa sampai tidak bisa berhenti setelah membaca uraian teori struktur dan teori genealogi dalam ilmu sosial.
Bila seseorng ingin mengetahui peristiwa atau fenomena sosial, maka mereka akan kecewa bila mengharapkan dapat mengetahuinya melalui karya-karya etnografi. Etnografer tidak jelas sedang menuliskan apa. Pada karya mereka terlalu banyak teori-teori sosial dan dicolok-colok dalam data. Bahkan teori-teori itu dipaksakan padu dengan data sehingga mereduksi atau bahkan menghancurkan data sama sekali.
Bila ingin mengetahui teori-teori ilmu sosial, maka tentu seseorang tidak akan membaca tulisan etnografi melainkan epistemologi ilmu sosial. Lntas untuk apa etnografi itu ditulis?
Di masa kini, karya sastra ditulis berdasarkan penelitian mendalam sang sastrawan. Mereka melakukan riset serius dan sistematis sebekum menulis tentang sebuah kisah dan peristiwa. Mereka mensajikan kisah dan peristiwa nyata dengan bahasa indah dan menarik. Mereka mampu menciptakan plot yang menarik serta mendramatisir jejadian sehingga membuat pembaca menjadi emosional. Daya gugah sastra sangat kuat.
Untuk itu, buat apa membaca etnografi bila tujuannya ingin mengetahui sebuah sastra dan peristiwa. Etnografi telah direduksi dengan sangat psrah oleh penulisnya. Sementara penulis sastra masa kini lebih dapat diandalkan dalam menyajikan fakta. Bahkan sastra menjadi lebih menarik untuk diikuti karena dikemas dengan teori sastra yang membuat peristiwa menjadi semakin jelas dan emosional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar