Dapat dikatakan Modernisme telah berakhir dengan dikuburkannya filsafat Barat modern oleh Nietzsche. Setelah itu, klaim profesor filologi itu bahwa abad kedepan, abad ke-20 adalah miliknya, benar-benat terjadi. Rahim Postmodernsme adalah gagasan-gagasan liar Nistzsce. Para pemikir abad ke-20 tidak bisa melepaskan diri dari jeratan pemikiran Nistzsce sehingga mereka pasrah dan menjadi besarlah Postmodernisme sepanjang abad ke 20 itu.
Dalam kebiasaan sosial yang dapat diamati, budaya yang muncul adalah warisan filsafat pada abad sebelumnya. Misalnya, pada abad ke-16 Descartes menghidupkan kembali gezah filsafat Barat. Sehingga pada abd ke- 17 dalam kehidupan sosial lahir banyak diskursus filsafat. Sementara itu, pada ranah konstruksi filsafat, pemikiran Empirisme dikonstruksi. Sehingga pada abad ke-18 dalam kehidupan sosial berkembang sikap skeptisme ilmu pengetahuan. Sementara dalam ranah konstruksi filsafat Kant menghidupkan kembali semangat keilmuan. Sehingga pada abad abad ke-19 tumbuhlah minat kembali untuk pengkajian ilmu. Sementara dalam konstruksi filsafat Marx melahirkan ideologi komunisme dan Bentam-Mills melahirkan Liberalisme. Pada abad ke 20 dalam kehidupan sosial bertarunglah penganut ideologi komunis dan indeologi liberal. Sementara pada konstruksi filsafat, Nietzsche telah berhasil memantik lahirnya Postmodernisme (Lubis, 2014).
Dengan demikian, pada abad ke-21 ini kehidupan sosial yang akan terwujud adalah individualisme yang merupakan "titah" Postmodernisme. Namun belum dapat ditentukan konstruksi filsafat apa yang akan lahir pada abad ini untuk menentukan kehidupan sosial pada abad ke-22. Ini merupakan tugas yang harus diperhatikan para filosof abad-21 yang belum lahir hingga dekade kedua ini.
Kehidupan sosial yang terjadi pada abad ke-21 ini memiliki argumetasi, antara lain, ".. Ada wajah-wajah partikular, dan sebab itu berbeda-beda tak terpermanai.... Tak hendak menelan dan melikuidasi semua itu." (Mohamad, 2011: 20). "Setiap individu adalah unik". Inilah yang terus-menerus didoktrinkan dewasa ini. Dengan dalih setiap orang itu unik, setiap orang punya potensi, bakat dan interesi berbeda-beda, individualisme hendak dikukuhkan, karena telah terdoktrin dalam kepala orang-orang intelek di antara masyarakat. Mereka telah terpengaruh oleh pikiran-pikiran Postmodernisme.
Individualisme hendak melawan ideologi yang merupakan bentuk kehidupan sosial pada abad sebelumnya. Setiap abad adalah perlawanan terhadap abad sebelumnya. Abad ini, individualisme hendak melawan ideologi-ideologi, tempat orang-orang, massa, berhimpun di bawah satu aliran pemikiran, doktrin atau ajaran yang diyakininya benar, atau diikutinya saja karena situasi dan kondisi menghendaki demikian.
Indovidualisme adalah tempat setiap individu berjuang untuk mendapatkan pengakuan, pengukuhan dan apresiasi. Individualisme adalah narsisme yang merupakan keinginan manusia yang terpendam sejak lama dan baru mendapatkan momentumnya setelah para pemikir Postmodernis meyakinkan bahwa narsisme itu harus diaktualisasikan. Di samping itu, Kapitalisme juga telah mengatur sedemikian rupa supaya narsisme, individualisme itu dapat diaktualisasikan dengan lancar.
Media sosial adalah tempat paling pas untuk mengaktualisasikan narsisme itu. Dalam media sosial, setiap orang dapat "menjadi" pakar untuk bidang apa saja. Sebuah teori yang idealnya harus dipelajari secara tekun dan tertib kepada orang yang telah benar-benar menguasai, bagi individu jaman now, dapat dikomentari, dihakimi dan "ditentukan" oleh seorang alay dalam waktu satu menit. Sebuah teori, konsep yang ditulis berjilid-jilid oleh seorang pakar dibidangnya dapat dihujat begitu saja oleh satu orang yang tidak pernah tamat membaca satu bukupun. Begitulah fenomena abad ke-21 ini.
Dalam era individualisme ini, sesuatu yang telah rirancang oleh ratusan orang yang dianggap memiliki keahlian, berkompetan, bahkan diakui serta diberikan mandat formal oleh negara dan disokong oleh perusahaan kelas dunia bisa dihancurkan dan dimentahkan oleh satu orang. Sebuah undang-undang negara yang pengesahannya telah menghabiskan milyaran rupiah, melibatkan hampir semua elemen, dapat dihapuskan karena satu orang yang menggugat. Sebuah perusahaan telekomunikasi berbasis internet telah mengeluarkan jutaan dolar dan memakan waktu bertahun-tahun untuk menciptakan sebuah aplikasi. Tetapi dapat dibobol oleh satu orang anak SMP hanya dengan memanfaatkan fasilitas wifi gratis dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit.
Heideggar dan pemikir eksistensialis lainnya telah berhasil menanamkan paradigma kebenaran relatif sehingga setiap orang pada abad ini merasa dirinyalah yang paling benar, merasa hanya pikiran, pendapat dan perkataannnya saja yang akurat. Sehingga itu menimbulkan budaya malas meneliti, malas mengkaji dan malas mendalami sesuatu. Setiap orang menjadi dangkal pikirannya. Mengujat, mengujar kebencian dan memaki orang lain yang tidak sependapat dengan dirinya menjadi dianggap benar karena merasa hanya dirinya yang benar.
Dengan dalih kebebasan, dengan argumen setiap orang itu unik, dalam zaman instan itulah sebenarnya orang-orang berlomba-lomba menjadi bodoh. Tetapi kebebasan itulah yang akan turut menciptakan filosof besar pada abad ini untuk mengklonstruksi filsafat abad ke-21 untul mewujudkan perubahan kehidupan sosial yang akan terjadi
Dalam kebiasaan sosial yang dapat diamati, budaya yang muncul adalah warisan filsafat pada abad sebelumnya. Misalnya, pada abad ke-16 Descartes menghidupkan kembali gezah filsafat Barat. Sehingga pada abd ke- 17 dalam kehidupan sosial lahir banyak diskursus filsafat. Sementara itu, pada ranah konstruksi filsafat, pemikiran Empirisme dikonstruksi. Sehingga pada abad ke-18 dalam kehidupan sosial berkembang sikap skeptisme ilmu pengetahuan. Sementara dalam ranah konstruksi filsafat Kant menghidupkan kembali semangat keilmuan. Sehingga pada abad abad ke-19 tumbuhlah minat kembali untuk pengkajian ilmu. Sementara dalam konstruksi filsafat Marx melahirkan ideologi komunisme dan Bentam-Mills melahirkan Liberalisme. Pada abad ke 20 dalam kehidupan sosial bertarunglah penganut ideologi komunis dan indeologi liberal. Sementara pada konstruksi filsafat, Nietzsche telah berhasil memantik lahirnya Postmodernisme (Lubis, 2014).
Dengan demikian, pada abad ke-21 ini kehidupan sosial yang akan terwujud adalah individualisme yang merupakan "titah" Postmodernisme. Namun belum dapat ditentukan konstruksi filsafat apa yang akan lahir pada abad ini untuk menentukan kehidupan sosial pada abad ke-22. Ini merupakan tugas yang harus diperhatikan para filosof abad-21 yang belum lahir hingga dekade kedua ini.
Kehidupan sosial yang terjadi pada abad ke-21 ini memiliki argumetasi, antara lain, ".. Ada wajah-wajah partikular, dan sebab itu berbeda-beda tak terpermanai.... Tak hendak menelan dan melikuidasi semua itu." (Mohamad, 2011: 20). "Setiap individu adalah unik". Inilah yang terus-menerus didoktrinkan dewasa ini. Dengan dalih setiap orang itu unik, setiap orang punya potensi, bakat dan interesi berbeda-beda, individualisme hendak dikukuhkan, karena telah terdoktrin dalam kepala orang-orang intelek di antara masyarakat. Mereka telah terpengaruh oleh pikiran-pikiran Postmodernisme.
Individualisme hendak melawan ideologi yang merupakan bentuk kehidupan sosial pada abad sebelumnya. Setiap abad adalah perlawanan terhadap abad sebelumnya. Abad ini, individualisme hendak melawan ideologi-ideologi, tempat orang-orang, massa, berhimpun di bawah satu aliran pemikiran, doktrin atau ajaran yang diyakininya benar, atau diikutinya saja karena situasi dan kondisi menghendaki demikian.
Indovidualisme adalah tempat setiap individu berjuang untuk mendapatkan pengakuan, pengukuhan dan apresiasi. Individualisme adalah narsisme yang merupakan keinginan manusia yang terpendam sejak lama dan baru mendapatkan momentumnya setelah para pemikir Postmodernis meyakinkan bahwa narsisme itu harus diaktualisasikan. Di samping itu, Kapitalisme juga telah mengatur sedemikian rupa supaya narsisme, individualisme itu dapat diaktualisasikan dengan lancar.
Media sosial adalah tempat paling pas untuk mengaktualisasikan narsisme itu. Dalam media sosial, setiap orang dapat "menjadi" pakar untuk bidang apa saja. Sebuah teori yang idealnya harus dipelajari secara tekun dan tertib kepada orang yang telah benar-benar menguasai, bagi individu jaman now, dapat dikomentari, dihakimi dan "ditentukan" oleh seorang alay dalam waktu satu menit. Sebuah teori, konsep yang ditulis berjilid-jilid oleh seorang pakar dibidangnya dapat dihujat begitu saja oleh satu orang yang tidak pernah tamat membaca satu bukupun. Begitulah fenomena abad ke-21 ini.
Dalam era individualisme ini, sesuatu yang telah rirancang oleh ratusan orang yang dianggap memiliki keahlian, berkompetan, bahkan diakui serta diberikan mandat formal oleh negara dan disokong oleh perusahaan kelas dunia bisa dihancurkan dan dimentahkan oleh satu orang. Sebuah undang-undang negara yang pengesahannya telah menghabiskan milyaran rupiah, melibatkan hampir semua elemen, dapat dihapuskan karena satu orang yang menggugat. Sebuah perusahaan telekomunikasi berbasis internet telah mengeluarkan jutaan dolar dan memakan waktu bertahun-tahun untuk menciptakan sebuah aplikasi. Tetapi dapat dibobol oleh satu orang anak SMP hanya dengan memanfaatkan fasilitas wifi gratis dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit.
Heideggar dan pemikir eksistensialis lainnya telah berhasil menanamkan paradigma kebenaran relatif sehingga setiap orang pada abad ini merasa dirinyalah yang paling benar, merasa hanya pikiran, pendapat dan perkataannnya saja yang akurat. Sehingga itu menimbulkan budaya malas meneliti, malas mengkaji dan malas mendalami sesuatu. Setiap orang menjadi dangkal pikirannya. Mengujat, mengujar kebencian dan memaki orang lain yang tidak sependapat dengan dirinya menjadi dianggap benar karena merasa hanya dirinya yang benar.
Dengan dalih kebebasan, dengan argumen setiap orang itu unik, dalam zaman instan itulah sebenarnya orang-orang berlomba-lomba menjadi bodoh. Tetapi kebebasan itulah yang akan turut menciptakan filosof besar pada abad ini untuk mengklonstruksi filsafat abad ke-21 untul mewujudkan perubahan kehidupan sosial yang akan terjadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar