Rabu, 16 Agustus 2017

MAOPNOLOGI

Novel-novel Arafat Nur, khususnya 'Burung Terbang di Kelam Malam' memang sangat pandai mengakhirkan setiap bagiannya dengan kalimat-kalimat yang mebuat pembaca sangat penasaran dengan kelanjutan cerita di bagian selanjutnya. Praktik-praktik yang memang kerap dilakukan penulis novel itu diadopsi para pembuat sinetron dan sandiwara radio. Setiap satu episode akan berakhir, maka penikmatnya dibuatkan sebuah adegan yang membuat mereka penasaran ingin mengetahui kelanjutan cerita.

Praktik ini belakangan mulai diterapkan oleh para penulis buku Ilmiah. Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad dengan buku tentang Metafisika dan Metateori Islam Nusantara misalnya. Dia membuat narasi akhir setiap bab bukunya terkesan ada sebuah misteri di bab selanjutnya.



Saya sangat membutuhkan sebuah buku. Saya belum membacanya dan sangat ingin membaca buku tersebut. Ada  teman saya yang mengatakan di rumahnya ada buku yang sedang saya cari. Tetapi setiap ingin meminjamnya dia selalu punya alasan. Setiap memberikan-alasan alasan kenapa saya belum boleh meminjam buku itu, dia membumbui dengan menceritakan kehebatan-kehebatan buku itu. Tetapi dia tidak pernah mengatakan tidak akan meminjamkannya. Redaksi yang dia ucapkan selalu membuat saya menunggu untuk dapat meminjam buku itu.

Nah. Contoh-contoh di atas dapat dikatakan dengan istilah 'peumaop'. peu: artinya mem-per, maop (baca: ma'op, dengan 'o' diucap seperti mengucap 'o' pertama pada kata 'momok'). Maop itu dapat dimaknai seperti hantu: dia punya nama, seolah-olah benar-benar nyata, dan bahkan akan segera menghampiri.
Paumaop adalah membuat sesuatu terkesan dahsyat, hebat, mengerikan. Arafat Nur dan Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad tidak akan benar-benar megecewakan ketika mem-peumaop sesuatu, karena bisa jadi apa yang dipeuma'op pada ujung bagian memang benar akan ditemukan sehingga ekspektasi akan kehadiran maop (seperti menemukan sesuatu yang hebat, dahsyat, mendebarkan, mencengangkan) benar-benar terwujud.
Tetapi yang malang adalah teman saya itu. Dia tidak punya satupu karya buku. Sehingga obsesi dan bakat peuma'op dia diaktualisasikannya dalam bentuk-bentuk yang lain, misalnya, seperti yang sudah saya ceritakan, dia mempeumaop dia punya buku yang saya cari. Belakangan saya mulai yakin bahwa dia bohong. Dia juga tidak punya buku yang saya cari itu: dia hanya peumaop saja.

Peumaop bisa dilakukan siapa saja yang sianggap memiliki otoritas tertentu. Sasaran peumaop adalah orang yang mengagumi pemangku otoritas itu. Misalnya, seorang antropolog membuka sebuah skema tentang antropologi kepada oeang-orang yang ngefans pada dirinya. Lalu orang-orang itu tidak paham, tetapi kagum. Orang-orang itu dapat disebut: keumoenk peumaop. Atau seorang sarjana filsafat mendiskusikan ontologi Mulla Sadra, lalu orang yang ngefans dengan filsafat tidak paham tetapi kagum, dapat juga disebut: keunoenk peumaop.

Peumaop sangat penting untuk profesi tertentu. Bahkan keahlian tersebut bila dimanfaatkan dengan benar, dapat membuat orang menjadi bersemangat,  termotivasi dan terarah pada tindakan-tindakan positif lainnya.

Oleh sebab itu, peumaop perlu diatur dalam sebuah teori yang utuh dan matang. Peumaop dapat dijadikan sebagai sebuah teori keilmuan. Sehingga dia bebas dikaji dan diamalkan oleh siapapun. konstruksi maop sebagai sebuah teori ilmu dapat disebut dengan: Maopnologi.



Konstruksi Maopnologi dilakukan dengan sistem standar konstruksi sebuah teori yaitu menemukan basis ontologisnya, sistem epistemologis dan aksiologinya. Sehingga, jadi deh...: Maopnologi.

Maopnologi tidak boleh dimaknai secara harfiah karena aka  terjadi seperti ini:
Maop: hantu
No: Tidak ada
Logi: Ilmu
Maopnologi: Hantu itu bodoh.
😁😁

Tidak ada komentar:

Posting Komentar