Kamis, 10 Agustus 2017

PENDURHAKA ILMU PENGETAHUAN

Kata seorang dosen antropologi, Ali Hasjmy itu, menurut seorang profeser sejarah asal Aceh lulusan Barat, sama sekali tidak dapat dipercaya.

Rupanya yang saya duga akan terjadi di masa depan, telah berlaku kini: Akan ada intelektual yang akan menuduh A. Hasjmy sebagai pelaku pseudo sains. Saya kira orang-orang demikian akan dapat mempertahankan pendapatnya di meja hijau akademik. Tetapi dia telah melakukan dosa moril secara sosial.

A. Hasjmy telah berjuang sebaik-baiknya untuk membuka pintu intelektualisme bagi masyarakat Aceh di zaman baru dalam alur sejarah Indonesia pasca Revolusi. Dia merintis studi sejarah, arkeologi, mistisme, kesusastraan, ilmu dakwah dan ilmu-ilmu lainnya. Dengan itulah generasi setelah dia memperoleh pintu gerbang terbuka untuk melanjutkan studi-studi mendalam untuk disiplin masing-masing.

Salah satu orang yang mendapatkan manfaat itu adalah seorang profesor ilmu sejarah. Tetapi setelah air susu diberikan A. Hasjmy, dia membalasnya dengan air tuba. Dia, Menurut dosen antropologi itu, mengklaim A. Hasjmy sebagai, dalam istilah umum: pelaku pseudo sains, khususnya untuk ilmu sejarah.

Tokoh Ikal dalam novel "Maryamah Karpoov", sepulang dari Universitas Sorbonne, disambut ibunya dengan memeriksa bagian-bagian dirinya dengan teliti. Menelisik apakah ada bagian-bagian dari bocah Melayu itu yang telah dikorup oleh Barat.

Kalau kita memeriksa ahli sejarah lulusan Barat, sebagaimana Ibu Ikal  lakukan, maka tentu bagian dirinya, terutama "organ" terpentingnya, yakni paradigma keilmuan, telah dikorup Barat. Ahli sejarah lulusan Barat imumnya hanya menerima sumber-sumber data menurut kacamata positivistik. Gaya A. Hasjmy sewaktu "cah rauh" untuk studi sejarah di Aceh dengan menghimpun data-data baik berupa manuskrip, arkeologi dan lainnya, lalu dia menganalisa dengan sebaik-baiknya, dianggap sebagai sebuah kerja sesat dalam kacamata akademik.

Dosen antropologi itu mengatakan, yang tampaknya ingin menjelaskan maksud klaim klaim ahli sejarah lulusan Barat, mencoba memberikan komparisasi gaya penulisan pengalaman lapangan Ibn Batutah dan Marco Polo. Katanya, Marco Polo mampu melaporkan fenomena dengan dengan masuk akal. Misalnya, dia melaporkan di Peureulak orang-orangnya masih telanjang; di Peusangan masih ada orang makan orang. Sementara Ibn Batutah melaporkan ada cacing yang menjadi emas.

Saya tidak tahu di bagian mana karya "Rihlah" Ibn Batutah melaporkan ada cacing menjadi emas. Tidak tahu juga apakah laporan itu berdasarkan pengamatannya langsung atau dia mendengar dari cerita masyarakat setempat. Tidak juga saya tahu di mana lokasi kejadian itu. Kalau itu dikatakan di Aceh, itu mustahil karena Ibn Batutah hanya melaporkan sedikit saja tentang Aceh, yakni pengalamannya mengamati Malikuz Zahir (Dunn, 1989)

Tetapi bila dikomparasikan antara pandangan Ibn Batutah, yang dianggap sebagai pelapor yang tidak akademik, tidak rasional, mencampurkan pengalamannya dengan kemustahilan, dengan Marco Polo yang dianggap representasi pelapor yang memberikan hal-hal yang sesuai dengan kriteria akademik, masuk akal, tentu apa yang dilaporkan Marco Polo lebih sesuai dengan kriteria akademik masa kini.

Laporan peristiwa yang telah menjadi buku atau naskah adalah sebuah data yang bobot ilmiahnya ditentukan tergantung paradigma saintifik ferivikator data. Bila ferivikator memakai paradigma positivisme, maka, tentu, laporan Marco Polo lebih memenuhi kriteria ilmiah.

Kita perlu lihat bahwa paradigma positivisme dilahirkan oleh Augus Comte (Gharawiyan, 2012) pada sekitar abad kesembilanbelas. Setelah itu keilmuan Barat semakin mengarah pada inderawisentris.

Ahli sejarah lulusan Barat yang menuduh A. Hasmy tidak ilmiah itu benar-benar telah menjadi pendurhaka dalam genealogi intelektualisme Aceh pasca Revolusi bila keukeh dengan metodologi Barat yang zalim itu dengan mencibiri A. Hasjmy yang telah berjasa, secara keilmuan, melakukan cah rauh inteletualisme sehingga orang pintar seperi dirinya bisa lahir, dan; secara urusan cari makan, A. Hasjmy telah berjasa merintis KOPELMA sehingga para dosen, termasuk ahli sejarah lulusan Barat bisa membuat asap dapur bisa mengepul.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar