Kamis, 10 Agustus 2017

DUALISME BAHASA

Di Matangglumpangdua. Di sebuh warung kopi.
"Na mên, Bang"
"Hana," jawabnya. Dengan sangat lagak, seolah lawan bicaranya tak pernah kenal bangku sekolah. "Kama manø nyang na," sambungnya dengan melotot.

Saya yakin yang menjawab itu tahu bahwa maksud 'mên' adalah 'kama manô' juga. Lagi pula terma 'kama manô' juga tidak lebih akurat daripada 'mên'. Sebab dia tahu bahwa kita datang tidak bawa sabun dan handuk.

Singkatnya yang menjawab itu ingin tampil layaknya dosen ilmu-ilmu sosial: semua jawaban mahasiswa tetap salah. Yang benar adalah apa yang ada di dalam kepala dia. Bahkan kalaupun jawaban si mahasiswa kebetulan sesuai dengan yang ada di kepala dosen, tetap saja akan salah karena si dosen sudah mempersiapkan beberapa "jawaban yang benar" lainnya.

Ilmu sosial, termasuk ilmu bahasa, memang selalu punya multi sisi. Ludwig Wittgenstein pertama merumuskan bahasa baku dalam 'Tractatus Logico Philosophicus". Buku itu ditulis setelah baru-baru saja dia menyelesaikan kuliah: masih membawa semangat baku akademik. Setelah banyak makan asam garam, dia menerbitkan "Problems of Philosophy". Dalam buku itu seolah dia malah menyanggah kemungkinan bahasa baku dan menegaskan bahwa bahasa sehari-harilah yang lebih mampu menampung maksud pengucap dan lebih mampu membuat pendengarnya paham.

Dalam kehidupan juga ada dua prinsip. Orang yang hanya duduk di balik meja tidak mau dengar apapun kecuali apa yang telah diatur dalam juklak dan juknis. Mereka tidak peduli (karena memang tidak pernah tahu) kondisi lapangan. Sebaliknya orang lapangan memang tidak peduli dengan juklak dan juknis. Karena memang apa yang ada di juklak-juknis memang tidak berlaku di lapangan.

Tetapi orang yang menjawab tadi hanyak berlagak sok menggunakan yang dianggapnya sebagai terma yang lebih formal, lebih resmi; sekalipun terbukti yang formal itu tidak akurat: saya menanyakan 'mên', tidak sedang menyangkut handuk di leher dan tidak menenteng sabun di tangan. Sehingga sebenarnya dialah yang menjadi aneh: pada halmakna 'mên' dalam konteks pertanyaan saya bukanlah sebuah galian yang mengeluarkan air tanah; tetapi sebuah ruang yang di dalamnya dapat ditemukan air, sekalipun air itu bisa dari air tanah yang tergenang karena digali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar