Banyak keuntungan yang dapat diambil semua pihak dari rangkaian aksi yang digerakkan GPI. Salahsatunya adalah terbedakannya kaum intelektul yang intelek hingga jiwa dan inteletual akal pendek.
Makna ‘intelektual’ di sini mencakup semua profesi atau citra yang mengidentitaskan seseorang terkait dengan keilmuan; baik itu ulama, seniman, dosen, ataupun pakar-pengamat segmen tertentu.
Banyak intelektual yang dengan tegas mendukung aksi-aksi pengatasnamaan Islam. Banyak juga yang ragu namun akhirnya nimbrung atau mendukung. Ada juga yang lama menolak, namun akhirnya mendukung. Ada juga satu-dua yang benar-benar tidak mendukung.
Yang langsung mendukung tidak diragukan lagi adalah tradisionalis ortodoks. Yang ragu lalu nimbrung adalah yang telah banyak membaca buku-buku Islam liberal namun tinggal di lingkungan dan bergaul dengan orang-orang literalis dan orang-orang ortodoks. Orang demikian juga adalah mereka yang sebenarnya tidak suka dengan aksi-aksi sumbu pendek, tetapi takut kehilangan kehilangan lahan bisnis seperti perdagangan dan jamaah ceramah. Yang lama menolak tetapi akhirnya mensukung adalah mereka yang punya paham liberal atau sekular yang mendalam tetapi tidak tahan dengan bully terus-menerus dari sumbu pendek sehingga lama-kelamaan mulai terpengaruh oleh pikiran dan tindakan sumbu pendek. Mereka mulai berijtihad mengais-ngais secuil kebenaran dari sumbu pendek dengan cara pandang sumbu mereka yang panjang.
Yang terakhir yang segelintir inilah yang keren. Mereka adalah orang-orang yang intelektualitasnya matang jiwa dan raga. Mereka tidak peduli dengan cacian dan hinaan sumbu pendek yang jumlahnya jutaan. Mereka konsisten dengan kebenaran yang mereka yakini. Bahkan mereka menyayangkan tindakan-tindakan sumbu pendek.
Sangat sedikit orang demikian.
Tetapi perlulah satu atau dia orang di antara mereka yang sedikit itu dikemukakan namanya supaya dapat menjadi teladan kaum muda masa depan yang tidak ingin menjadi ahli waris akal sempit sumbu pendek. Di antaranya adalah Emha Ainun Najib, Goenawan Mohamad dan Ahmad Syafi’i Ma’arif.
Emha alis Cak Nun adalah intelektual yang melampaui segala profesi. Keilmuanya melebihi banyak profesor, terutama para profesor UIN. Kebijaksanaannya laksana sufi. Dia adalah harapan kedamaian dalam Islam pada masa begitu mudahnya sumbu pendek mengatasnamaka Islam.
Sepeninggalan Nurchalish Madjid, hampir semua akademisi yang mengikutinya dan telah bergerak ke arah pemikiran moderat terbalik menjadi ortodoks. Tetapi Syafi’i Ma’arif tidak demikian. Dia konsisten dengan prinsip Islam damai yang ia pegang. Dam aksi-aksi pengatasnamaanIslam oleh sumbu pendek itu tekah menunjukkan bahwa kedalaman prinsip ilmu Ma’arif melampaui Amien Rais dan jauh meninggalkan Din Syamsuddin.
Sumbu pendek memang sumbunya masyarakat awam. Sayang sekali ada orang yang tega berbuat jahat dengan menggiring masyarakat awam ke arah kepentingan mereka dengan mengatasnamakan Islam. Padahal Islam itu tidak bisa diabsolutkan definisi, makna dan pelaksanaannya oleh segelintir orang. Karena Islam itu sepeti lautan. Sementara kepala manusia-manusia itu adalah seperti wadah. Ada orang yang punya akal sangat cerdas, itu umpama wadah dimiliki adalah ember. Ada orang yang kecerdasannya biasa-biasa saja, itu umpama wadah dimiliki adalah gayung. Ada orang yang kurang kecerdasannya, itu umpama wadah dimiliki adalah sendok.
Setiap orang pergi ke laut mengambil untuk dimasukkan ke dalam wadah masing-masing. Setiap orang berhak mengatakan di dalam wadahnya adalah air laut. Tetapi salah ketika mengatakan di dalam wadahnya adalah lautan.
Orang yang mengakui di dalam wadahnya adalah lautan adalah mereka yang mengkaim Islam yang bernar adalah yang mereka yakini saja. Mazhab, aliran dan pemikiran yang berbeda dengan yang dia yakini diklaim sesat.
Orang Islam sumbu pendek benar-benar mendegradasikan Islam. Mereka menjadikan Islam berada pada tingkatan yang sama dengan agama-agam lain dengan menjadikan Islam sebagai non-kontradiksi dengan agama-agama lain.
Padahal orang jenius seperti Ibn ‘Arabi melihat Islam sebagai sebuah sintesis dari agama-agama lain. Dengan demikian dia tidak melihat Islam sebagai musuh atau lawan bagi agama lain.
Orang cendikia yang anti sumbu pendek adalah orang-orang yang benar-benar menjunjung tinggi ilmu. Mereka seperti pria perkasa yang memberikan segenap cinta kepada perempuan cantik.
Banyak orang pintar dari kalangan sumbu pendek sebelumnya adalah orang-orang sekuler dan orang-orang liberal. Tetapi seiring sumbu pendek semakin besar jumlahnya, merekapun akhirnya ikut menjadi bagian dari sumbu pendek. Ada dua kemungkinan dari taubatnya mereka dari liberal dan sekular. Pertama karena ketika mengikut liberal dan sekuler mereka hanya ikut-ikutan karena memang tidak paham yang diikuti. Kedua karena mereka adalah orang yang memperlakukan ilmu seperti pria impoten memperlakukan perempuan cantik: membawanya ke pasar untuk diserahkan kepada pemberi penawaran tertinggi (Rumi, 2006).
Makna ‘intelektual’ di sini mencakup semua profesi atau citra yang mengidentitaskan seseorang terkait dengan keilmuan; baik itu ulama, seniman, dosen, ataupun pakar-pengamat segmen tertentu.
Banyak intelektual yang dengan tegas mendukung aksi-aksi pengatasnamaan Islam. Banyak juga yang ragu namun akhirnya nimbrung atau mendukung. Ada juga yang lama menolak, namun akhirnya mendukung. Ada juga satu-dua yang benar-benar tidak mendukung.
Yang langsung mendukung tidak diragukan lagi adalah tradisionalis ortodoks. Yang ragu lalu nimbrung adalah yang telah banyak membaca buku-buku Islam liberal namun tinggal di lingkungan dan bergaul dengan orang-orang literalis dan orang-orang ortodoks. Orang demikian juga adalah mereka yang sebenarnya tidak suka dengan aksi-aksi sumbu pendek, tetapi takut kehilangan kehilangan lahan bisnis seperti perdagangan dan jamaah ceramah. Yang lama menolak tetapi akhirnya mensukung adalah mereka yang punya paham liberal atau sekular yang mendalam tetapi tidak tahan dengan bully terus-menerus dari sumbu pendek sehingga lama-kelamaan mulai terpengaruh oleh pikiran dan tindakan sumbu pendek. Mereka mulai berijtihad mengais-ngais secuil kebenaran dari sumbu pendek dengan cara pandang sumbu mereka yang panjang.
Yang terakhir yang segelintir inilah yang keren. Mereka adalah orang-orang yang intelektualitasnya matang jiwa dan raga. Mereka tidak peduli dengan cacian dan hinaan sumbu pendek yang jumlahnya jutaan. Mereka konsisten dengan kebenaran yang mereka yakini. Bahkan mereka menyayangkan tindakan-tindakan sumbu pendek.
Sangat sedikit orang demikian.
Tetapi perlulah satu atau dia orang di antara mereka yang sedikit itu dikemukakan namanya supaya dapat menjadi teladan kaum muda masa depan yang tidak ingin menjadi ahli waris akal sempit sumbu pendek. Di antaranya adalah Emha Ainun Najib, Goenawan Mohamad dan Ahmad Syafi’i Ma’arif.
Emha alis Cak Nun adalah intelektual yang melampaui segala profesi. Keilmuanya melebihi banyak profesor, terutama para profesor UIN. Kebijaksanaannya laksana sufi. Dia adalah harapan kedamaian dalam Islam pada masa begitu mudahnya sumbu pendek mengatasnamaka Islam.
Sepeninggalan Nurchalish Madjid, hampir semua akademisi yang mengikutinya dan telah bergerak ke arah pemikiran moderat terbalik menjadi ortodoks. Tetapi Syafi’i Ma’arif tidak demikian. Dia konsisten dengan prinsip Islam damai yang ia pegang. Dam aksi-aksi pengatasnamaanIslam oleh sumbu pendek itu tekah menunjukkan bahwa kedalaman prinsip ilmu Ma’arif melampaui Amien Rais dan jauh meninggalkan Din Syamsuddin.
Sumbu pendek memang sumbunya masyarakat awam. Sayang sekali ada orang yang tega berbuat jahat dengan menggiring masyarakat awam ke arah kepentingan mereka dengan mengatasnamakan Islam. Padahal Islam itu tidak bisa diabsolutkan definisi, makna dan pelaksanaannya oleh segelintir orang. Karena Islam itu sepeti lautan. Sementara kepala manusia-manusia itu adalah seperti wadah. Ada orang yang punya akal sangat cerdas, itu umpama wadah dimiliki adalah ember. Ada orang yang kecerdasannya biasa-biasa saja, itu umpama wadah dimiliki adalah gayung. Ada orang yang kurang kecerdasannya, itu umpama wadah dimiliki adalah sendok.
Setiap orang pergi ke laut mengambil untuk dimasukkan ke dalam wadah masing-masing. Setiap orang berhak mengatakan di dalam wadahnya adalah air laut. Tetapi salah ketika mengatakan di dalam wadahnya adalah lautan.
Orang yang mengakui di dalam wadahnya adalah lautan adalah mereka yang mengkaim Islam yang bernar adalah yang mereka yakini saja. Mazhab, aliran dan pemikiran yang berbeda dengan yang dia yakini diklaim sesat.
Orang Islam sumbu pendek benar-benar mendegradasikan Islam. Mereka menjadikan Islam berada pada tingkatan yang sama dengan agama-agam lain dengan menjadikan Islam sebagai non-kontradiksi dengan agama-agama lain.
Padahal orang jenius seperti Ibn ‘Arabi melihat Islam sebagai sebuah sintesis dari agama-agama lain. Dengan demikian dia tidak melihat Islam sebagai musuh atau lawan bagi agama lain.
Orang cendikia yang anti sumbu pendek adalah orang-orang yang benar-benar menjunjung tinggi ilmu. Mereka seperti pria perkasa yang memberikan segenap cinta kepada perempuan cantik.
Banyak orang pintar dari kalangan sumbu pendek sebelumnya adalah orang-orang sekuler dan orang-orang liberal. Tetapi seiring sumbu pendek semakin besar jumlahnya, merekapun akhirnya ikut menjadi bagian dari sumbu pendek. Ada dua kemungkinan dari taubatnya mereka dari liberal dan sekular. Pertama karena ketika mengikut liberal dan sekuler mereka hanya ikut-ikutan karena memang tidak paham yang diikuti. Kedua karena mereka adalah orang yang memperlakukan ilmu seperti pria impoten memperlakukan perempuan cantik: membawanya ke pasar untuk diserahkan kepada pemberi penawaran tertinggi (Rumi, 2006).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar