Selasa, 02 Mei 2017

KERANCUAN SAINS BARAT

Kenapa Hamzah Fansuri menganalogikan pengetahu dan objek pengetahuan dengan matahari dan sinarnya?

Karena Hamzah Fansuri mengetahui bahwa matahari dan sinarnya adalah satu kesatuan.

 Masalah muncul bagi sebagian besar orang mengira cahaya matahari itu sama seperti cahaya umumnya yang ditemukan sehari-hari. Cahaya-cahaya yang ditemukan sehari-hari umumnya membutuhkan benda lain sebagai penghasil cahaya. Misalnya cahaya dari senter membutuhkan senter, atau cahaya lampu membutuhkan lampu. Zat cahaya senter berbeda dengan senter. Misalnya, senter terbuat dari logam, cahayanya sendiri adalah ayom yang lain. Lalu kabel bola lampu dan kabel lampu senter berbeda dengan cahaya yang dihasilkan. Kabel dan cahaya berbeda atomnya.



Perbedaan sumber cahaya dan cahaya yang ditemukan sehari-hari diasumsikan kepada matahari yang tidak pernah diketahui itu. Dari asumsi tersebut muncullah teori matahari adalah kumpulan batu yang terbakar lalu pembakaran itulah yang menjadi cahaya matahari. Sehingga diyakinilah matahari dengan cahayanya berbeda.

Asumsi memahami matahari dan cahaya matahari demikian tentunya akan menghasilkan kesimpulan analogi Hamzah Fansuri tidak akurat.
Padahal matahari adalah kumpulan cahaya yang tidak dihasilkan dari zat terbakar. Matahari adalah kumpulan cahaya itu sendiri.

Bila pikiran sudah terindokteinasi oleh teori-teori yang tidak dapat didemonstrasikan, maka pemahaman terhadap analogi-analogi irfan akan kabur. Biasanya sebagian besar orang menuduh analogi itulah yang tidak akurat. Kita paham bahwa akurasi analogi adalah penentu utama komunikasi 'irfan. Sehingga, bila analoginya meleset, maka fondasi ontologisnya runtuh.

'Urafat tidak seperti filosof. Mereka tidak mendasarkan komunikasi pengalaman mereka dengan logika yang benar. Mereka menggantungkan komunikasi pada analogi. Cara yang benar memahami 'irfan adalah dengan mengetahui esensi entitas yang dijadikan analogi. Bila entitas (maqulat) itu dikethui pasti, maka caranya adalah mengikuti pemahaman mereka atas entitas tersebut. Sebab cara paham populer atas suatu entitas sering keliru.

Dewasa ini, pengetahuan kita dibentuk oleh teori-teori Barat sejak Modern hingga Postmodern. Filsafat Barat tidak punya hikum intelligable yang akurat. Kant hampir mencapai itu. Tapi gagal. Tetapi hanya filsafat Islam yang memiliki itu.

Filsafat Islam, khususnya Sadrian, memiliki teori intelligable yang tertib.
Filsafat Islam memiliki sistem maqulat dan ma'qulat. Maqulat adalah acuan realitas eksternal yang merupkan satu ekstensi entitas differensia. Lalu satu entitas itu diabstrakai ke kepada ma'qulat yang terbagi dua yaitu ma'qulat awwal dan maqulat tsani.

Ma'qulat awwal adalah abstraksi satu ekstensi yang menjasi sangat murni semacam ide Platonik.  Ma'qulat tsani terbagi menjadi ma'qulat tsani mantiqi dan ma'qulat tsani falsafi. Ma'qulat tsani mantiqi adalah konsep kesesuatuan (mahiyyah) pada ranah mental yang tidak memiliki acuan pada realitas eksternal. Ia hanya tegak dalam status mental.  Seperti konsep 'universal', 'partikular', hanya eksis di mental, sama-sekali tidak dapat diterapkan pada ekstensi pada realiatas eksternal. Sementara ma'qulat tsani falsafi adalah adalah konsep mental yang dapat dipadankan dengan realitas eksternal. Misalnya menjadikan konsep 'sebab' kepada api dan konsep 'akibat' kepada asap.

Klasifikasi ini sangat penting untuk memahami posisi segala sesuatu.
Filsafat Barat yang tidak peduli dengan klasifikasi ini mengakibatkan munculnya banyak sains palsu dan merusak akal manusia. Misalnya teori Evolusi. Teori itu sebenarnya hanya teori yamg berada pada tingkatan ma'qulat tsani falsafi. Teori evolusi hanya seperti konsep kausalitas, hanya berlaku pada mental, tetapi bisa diacu pada realitas eksternal. Misal, mengacukan titik awal pada kera dan titik akhir pada manusia.

Sayangnya karena Barat tidak bisa membedakan ma'qulat dengan maqulat, mereka mengira evolusi benar-benar nyata pada realitas eksternal.
Penyakit utama orang Barat adalah mencuri filsafat dan sains Islam tanpa paham maksudnya persis seperti baca kitab tanpa guru. Tindakan demikian akan menghasilkan kesesatan. Kalau kitab yang dibaca itu adalah mantiq dan ushul fiqh, pembacanya akan menjadi orang gila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar