Indonesia,
dengan Pancasilanya, umpamakan sebuah gerbong. Gerbong ini memuat seluruh
bangsa Indonesia, rakyatnya, tanahnya, airnya. Gerbong ini tidak boleh statis,
dia harus bergerak. Penggeraknya adalah lokomotif. Lokomotif adalah partai
politik. Tidak sepakat? Lihat saja! Partai politiklah yang mengendalikan
gerbong Indonesia.
Pasca Reformasi,
lokomotif yang sempat menarik gerbong adalah PKB, Demokrat dan PDIP. Soal.
Apabila kita ditanyai orang: Lokomotif manakah yang paling cocok menarik
gerbong Indonesia? Jawab: Adalah yang paling sesuai dengan Pancasila. Soal:
Manakah di antara partai-partai besar itu yang sesuai dengan Pancasila? Jawab:
Inilah masalahnya!
PKB adalah
partai ideologi Islam. Sekalipun Gus Dur Moderat, tetapi komunitasnya Ortodoks!
Tidak kurang bersesuain dengan prinsip dasar Pancasila. Lagipula ia sudah tidak
besar lagi. PKS yang sempat diharapkan menjadi lokomotif alternatif
representasi ortodoksi juga sudah semakin kandas akibat idealisme kulit.
Demokrat sempat
mendapat angin nikmat memenangi kontestasi perebutan hati. Keberhasilan ini
tidak lepas dari pertimbangan masyarakat mengambil altrrnatif menghindari kiri
ekstrim dan dan kanan ortodoks. Namun pamornya menurun karena keseringan
menafsirkan Pancasila dengan instrumen Barat.
PDIP yang masih
menjadi lokomotif besar tetap berhasil merebut kepercayaan komunitas karena
asumsi partai ini bergenealogi PNI yang merupakan partai yang lebih dekat
dengan nilai murni Pancasila dibandingkan Masjumi dan PKI. Tapi sayangnya, PDIP
telah menjadi tanah migrasi bagi pelarian kaum kiri sehingga partai ini menjadi
sangat kiri.
Kaum ortodoks
adalah komunitas yang kehilangan partai. Jadinya mereka kerap menjadikan
jalanan sebagai parlemen. Partai-partai kecil Islam dan Demokrat berusaha
menampung mereka. Tapi sepertinya masih belum berhasil.
Orang-orang yang
haus kuasa terus saja berusaha menafsirkan Pancasila sesuai dengan paradigma
kekirian, keortodoksian dan kebarat-baratan. Mengenai model teraktir ini, tidak
hanya kerap ditemui dalam segmen politik tetapi juga pendidikan, bahkan
pendidikan Islam.
Tetapi satu hal
yang sering kita lupakan adalah bahan bakar lokomotif. Apapun jenis
lokomotifnya, tetap membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar lokomotif adalah
pengusaha dan perushaan besar. Masalahnya tidak ada perusahaan besar yang
idealis, apalagi sesuai dengan nilai murni Pancasila.
Inilah
Indonesia. Tidak ada lokomotif yang sesuai dengan Pancasila. Begitu tingginya
nilai Pancasila sehingga hanya segelintir orng saja yang memahaminya. Dan
mereka yang paham itu tidak berpolitik. Mereka hanya menghayati dan mengamalkan
Pancasila dalam diri dan kehidupannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar