Minggu, 09 April 2017

LOKOMOTIF INDONESIA SETELAH REFORMASI

Indonesia, dengan Pancasilanya, umpamakan sebuah gerbong. Gerbong ini memuat seluruh bangsa Indonesia, rakyatnya, tanahnya, airnya. Gerbong ini tidak boleh statis, dia harus bergerak. Penggeraknya adalah lokomotif. Lokomotif adalah partai politik. Tidak sepakat? Lihat saja! Partai politiklah yang mengendalikan gerbong Indonesia.

Pasca Reformasi, lokomotif yang sempat menarik gerbong adalah PKB, Demokrat dan PDIP. Soal. Apabila kita ditanyai orang: Lokomotif manakah yang paling cocok menarik gerbong Indonesia? Jawab: Adalah yang paling sesuai dengan Pancasila. Soal: Manakah di antara partai-partai besar itu yang sesuai dengan Pancasila? Jawab: Inilah masalahnya!


PKB adalah partai ideologi Islam. Sekalipun Gus Dur Moderat, tetapi komunitasnya Ortodoks! Tidak kurang bersesuain dengan prinsip dasar Pancasila. Lagipula ia sudah tidak besar lagi. PKS yang sempat diharapkan menjadi lokomotif alternatif representasi ortodoksi juga sudah semakin kandas akibat idealisme kulit.
Demokrat sempat mendapat angin nikmat memenangi kontestasi perebutan hati. Keberhasilan ini tidak lepas dari pertimbangan masyarakat mengambil altrrnatif menghindari kiri ekstrim dan dan kanan ortodoks. Namun pamornya menurun karena keseringan menafsirkan Pancasila dengan instrumen Barat.

PDIP yang masih menjadi lokomotif besar tetap berhasil merebut kepercayaan komunitas karena asumsi partai ini bergenealogi PNI yang merupakan partai yang lebih dekat dengan nilai murni Pancasila dibandingkan Masjumi dan PKI. Tapi sayangnya, PDIP telah menjadi tanah migrasi bagi pelarian kaum kiri sehingga partai ini menjadi sangat kiri.

Kaum ortodoks adalah komunitas yang kehilangan partai. Jadinya mereka kerap menjadikan jalanan sebagai parlemen. Partai-partai kecil Islam dan Demokrat berusaha menampung mereka. Tapi sepertinya masih belum berhasil.

Orang-orang yang haus kuasa terus saja berusaha menafsirkan Pancasila sesuai dengan paradigma kekirian, keortodoksian dan kebarat-baratan. Mengenai model teraktir ini, tidak hanya kerap ditemui dalam segmen politik tetapi juga pendidikan, bahkan pendidikan Islam.
Tetapi satu hal yang sering kita lupakan adalah bahan bakar lokomotif. Apapun jenis lokomotifnya, tetap membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar lokomotif adalah pengusaha dan perushaan besar. Masalahnya tidak ada perusahaan besar yang idealis, apalagi sesuai dengan nilai murni Pancasila.

Inilah Indonesia. Tidak ada lokomotif yang sesuai dengan Pancasila. Begitu tingginya nilai Pancasila sehingga hanya segelintir orng saja yang memahaminya. Dan mereka yang paham itu tidak berpolitik. Mereka hanya menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam diri dan kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar