Jumat, 14 April 2017

Sejarah Naskah Ruba'i Hamzah Fansuri

Pada waktu penulisan disertasinya di London di bawah bimbingan Martin

Lings, Syed Naquib Al-Attas bolak balik ke Aceh untuk mencari naskah Ruba'i Hamzah Fansuri yang merupakan syarah Syamsuddin As-Sumatrani atas syair ruba'i  gurunya.

Al-Attas berulangkali mengunjungi Ali Hasjmy  untuk dapat membantunya menemukan naskah dimaksud. Kesulitan lain Al-Attas adalah dia tidak diperkenankan mengakses naskah perpustakaan di beberapa lembaga pendidikan tradisional (dayah). Dalam hal ini dia sering dibantu Ali Hasjmy. Di beberapa perpustakaan dayah, Al-Attas tetap tidak diperkenankan masuk kendati Ali Hasjmy menyertainya.



Jasa Ali Hasjmy sangat banyak dalam langka perampungan disertasi Al-Attas. Namun demikian, naskah Ruba'i yang sangat dibutuhkan Al-Attas tetap tidak dapat ditemukan. Terpaksa Al-Attas menyelesaikan disertasinya tanpa merujuk pada naskah terpenting ini. Hasilnya Al-Attas mengkonstruksi metafisika Hamzah Fansuri dalam disertasinya berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri tanpa mengikutkan komentar penting dari murid Hamzah Fansuri yang paling cerdas itu. Hasilnya disertasi itu adalah sebuah karya yang tidak utuh tentang pemikiran Hamzah Fansuri. Yang lebih disayangkan lagi, para sarjana yang mengkaji pemikiran Hamzah Fansuri menjadikan disertasi Al-Attas sebagai rujukan utama dan mendaulatnya sebagai komentator utama pemikiran Hamzah Fansuri.

Dua tahun setelah disertasi Al-Attas terbit, tanpa sengaja Ali Hasjmy menemukan naskah paling dibutuhkan itu di perpustakaan dayah Tiro, Pidie. Hasjmy menyalin naskah itu dan membuatkannya transliterasi latin. Hasil kerja tersebut diterbitkan di Kuala Lumpur oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia empat tahun setelah ditemukan.

Dalam buku itu juga dicantumkan salilan aslinya. Rubai Hamzah Fansuri yang disusun oleh Ali Hasjmy adalah karya terpenting untuk memahami ontologi Hamzah Fansuri, lebih penting daripada disertasi Al-Attas. Banyak alasan untuk itu.

Sangat sulit untuk memahami pemikiran Hamzah Fansuri dalam bentuk syair, apalagi pemikiran itu berfokus pada gagasan inti metafisikanya. Untuk itu dibutuhkan sebuah penjelas dari orang yang benar-benar memahami pemikirannya. Tidak lain orang itu adalah Syamsuddin As-Sumatrani. Dia adalah murid langsung Hamzah Fansuri, dia adalah orang yang bertemu dan belajar langsung dalam waktu yang lama kepada Hamzah Fansuri. Dengan demikian syarahnya atas ruba'i Hamzah Fansuri perlu dijadikan rujukan utama memahami ontologi Hamzah Fansuri.

Komentar dan transliterasi tiga prosa Hamzah Fansuri dalam disertasi Al-Attas tidak dapat dijadikan sebagai acuan memahami mqtafisika Hamzah Fansuri, apqlagi tentang prinsip ontologinya karena tiga prosa tersebut panduan praktik (Syarabul Asyiqin), epistemologi (Asrar Al-Arifin) untuk menjustifikasi syatahat-syatahat 'urafa dalam Al-Muntahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar