Senin, 03 April 2017

Manteu

Sebenarnya saya tidak ingin merespons perkara ini, tidak ingin semakin viral. Tetapi karena kekeliruan paham sudah semakin meyebar, bahkan seorang menteri sudah ikut merespons, maka kiranya perlu perkara ini saya perjelas agar tidak muncul sesat paham. 

Kalau berjalan kehutan, apalagi tersesat, banyak orang melihat penampakan sesosok mirip manusia. Orang tersebut berpostur lebih pendek. Seukuran kira-kira anak kelas enam SD atau kelas 1 SMP. Penampakan itu dinamakan suku Manteu atau manusia Bunian. Orang Bunian terbagi dua. Pertama adalah yang berwujud kasar, kedua adalah penampakan subjektif dari individu tertentu yang sebenarnya adalah makhluk halus.

Orang Bunian yang berwujud kasar mirip manusia bukanlah termasuk homo sapiens sebagaimana kita. Jadi tampak aneh bila menteri sosial menganjurkan perburuan dan pendampingan kepada mereka. Tidak akan ada pendamoingan sebagaimana dilakukan kepada wsrga tertinggal. Yang ada adalah eksploitasi persis seperti memelihara hewan langka. Orang Bunian tidak bisa dan tidak akan mau berinteraksi dengan homo sapiens seperti kita. Bahkan mereka lebih tidak bisa berinteraksi dengan manusia dibandingkan makhluk-makhluk liar lain. Bahkan singan dan ular saja bisa dilatih untuk berinteraksi dengan manusia. Tetapi orang bunian tidak kn bisa.

Hal terbaik yang dapat dilakukan kepada mereka adalah dengan tidak lagi membabat hutan sehingga temot mereka hidup dapt terjaga. Manusia jangan lagi serkah. Jangan ikuti hawa nafsu dan rasa penasaran.

Pernah seorang orientalis menemukan mereka di sebuah hutan pada akhir abad ke-19. Orang bunian itu mati seketika berhadapan dengan sang orientalis. Diperkirkan karena kaget. Pernah juga ditemukan di Aceh dan dibawa kepada raja. Makhluk itu menolak makan dan minum hingga tewas.

Banyak laporan warga yang ke hutan bertemu Manteu. Ada yang mengakui mereka terlihat sedang memburu cacing tanah, ada yang menemukan mereka sedang bermain sambil berburu ikan di sungai. Di Flores, awal abad ke-20 banyak warga yang berkebun mengaku kehilangan bayi di ayunan di ladang karena dicuri Bunian. Ada juga pengakuan tim pekerja sosial di Jambi saat sedang latihan di hutan mengaku melihat sekelompok Bunian. Saat dilakukan pemburuan, mereka menghilang begitu cepat. 

Makhluk itu memang sangat agresif. Mereka begitu menyatu dengan alam. Pembukaan lahan perkebunan benar-benar mengancam kelangsungan hidup mereka. 

Tidak hanya di Sumatra dan Indonesia, di daerah lain yang masih punya hutan perawan seperti Amerika Latin juga ada makhluk sejenis. Spesiesnya beragam. Beda spesies, beda bentuk. Tetapi semuanya mirip homo sapiens. 

Anjuran perburuan Manteu oleh menteri sosil sangat mengganggu. Kalaupun ditemukan mereka akan dieksploitasi sebagimana hewan-hewan langka dieksploitasi. Jangan-jangan isu penampakan Bunian hanya sebuah propaganda agar hutan-hutan di Aceh dibabat dengn alasan pencarian Manteu.  

Sementara Bunia yang berasal dari kalangan jin sering memperlihatkan diri pada orang yang tersest di hutan. Mereka akan berbuat bik bagi orng yang hatinya baik dan berbuat buruk pada orang yang datang ke hutan dengan niat buruk. 

Ada cerita pemuda yang terseat ke hutan dan kawin dengan orang halus itu dan ounya seorang anak. Karena tetap suka berkata bohong sekalipun bercanda, akhirnya dia itu dikembalikan ke desanya. Ada juga cerita orang GAM bergerilya yang bertemu komunitas orang halus itu dan di rawat dari sakit. 

Akhirnya, semoga Pak Jokowi, Pak Prabowo, tukang kayu dan tukang kebun lainnya mengurangi aktivitas pembabatan hutan di Aceh supaya habitat Bunian tidak semakin terusik. Semoga Aceh Green Bang Wandi dapat semakin aktif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar