"Saat pertama mengenalmu, aku mulai mencarimu. Tanpa peduli betapa butanya aku waktu itu.'' (Jalaluddin Rumi)
Jaman sekarang, banyak orang sulit menemukan fakta pepatah, ''Nama adalah doa.'' Banyak orang yang punya nama bagus-bagus, dengan harapan nama-nama itu menjadi doa. Tetapi sering perangai tidak sesuai nama. Banyak orang tua memberi nama anak dari nama-nama orang baik. Harapannya supaya anak menjadi baik.
Di antara sangat sedikit orang yang namanya bagus dari nama orang baik adalah Haidar Bagir.
Nama itu seperti nama 'arif Sayyid Haidar Amuli. Beliau adalah 'arif yang jujur tetapi tidak menyinggung. Bila belajar hikmah dan 'irfan, kita akan kesulitan menemukan diksi seimbang antarapengalaman dan penulisan. Sebagian 'urafa menyampaikan pengalaman dengan tepat, tetapi kesulitan menemukan diksi yang indah dan tidak menyinggung orang yang berbeda pandangan.
Sayyid Haidar Amuli sangat unik. Beliau menyampaikan pengalaman mistiknya dengan diksi yang jelas, tegas, indah dan jauh dari kemungkinan timbulnya ketersinggungan orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Sifat unik ini dimiliki dengan baik oleh Haidar Bagir.
Dalam menulis pandangan-pandangan 'irfan, beliau memiliki diksi yang tegas, jelas indah dan tidak membuat tersinggung.. Terutama dalam menulis keterangan aforisme Jalaluddin Rumi dalam 'Mereguk Cinta Rumi'. Beliau mampu memperjelas maksud sajak-sajak Jalaluddin Rumi dengan pilihan kata yang jauh dari ambiguitas. Sehingga dapat diterima oleh pihak manapun tanpa mereduksi pesan 'irfan yang ingin disampaikan.
Misalnya pada halaman 13 buku tersebut saat menerangkan sajak Jalaluddin Rumi yang berbunyi, ''Aku mabuk dari Piala Cinta. Duniapun telah sirna dariku.'' Haidar Bagir menulis keterangan singkat atas syair itu: ''Bagi pecinta, tak ada Ilah (idola) kecuali Allah (Sang Cinta). Tiada yang ada kecuali Dia.''
Sangat jarang ada sarjana dan peneliti 'irfan di masa kini yang mampu menulis dengan padat, jelas, barani, namun indah. Sebagian berani, tapi pilihan diksinya kurang tepat, sehingga ditolak khalayak. Sebagian lain jadi sasaran pujian, tetapi telah melakukan reduksi akut.
Haidar Bagir adalah tokoh terkenal yang tidak hasrat dikenal. Beliau memenuhi indikator ulama, sekalipun akan marah dipanggil demikian. Beliau hanya menulis hal-hal yang dianggap sangat dibutuhkan masyarakat. Padahal sebagai CEO salah satu penerbit paling populer di Negara ini, bisa saja beliau dengan mudah menotulensi kuliah-kuliah dan ceramahnya untuk diterbitkan dalam bentuk buku.
Haidar Bagir hanya menulis beberapa buku saja. Belakangan semua buku yang ditulis, tentang 'Urafa saja. 'Semesta Cinta dan Kebahagiaan' tentang Ibn 'Arabi,' Risalah Cinta', 'Belajar Hidup dari Rumi', 'Mereguk Cinta Rumi', tentang Jalaluddin Rumi: Itu dilakukan karena beliau melihat masyarakat sudah sangat kritis. Masyarakat kehilangan pegangan, jati diri, kebanggaan dan identitas. Masyarakat kehilangan simpati, kebersamaan dan tenggang rasa. Masyarakat sekarang umumnya hanya mampu melihat kekerasan sebagai jalan. Masyarakat kehilangan cinta. Menanggapi itu, Dengan segenap kerendahan hati, Haidar Bagir menghidupkan kembali khasanah sufi yang penuh cinta Kasih.
Dalam dua seri buku terbarunya yang imut, Haidar Bagir menyajikan kedalaman samudra hikmah dari Jalaluddin Rumi ke hadapan kita dalam bentuk buku kecil yang indah, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Harapannya agar masyarakat dapat menemukan kembali cinta dan keindahan yang merupakan elemen mendasar dari semua manusia. Agar bangsa kita bisa kembali damai dan rukun di bawah sayap cinta dan kasih sayang.
Langsa, 19 Januari 2017
Jaman sekarang, banyak orang sulit menemukan fakta pepatah, ''Nama adalah doa.'' Banyak orang yang punya nama bagus-bagus, dengan harapan nama-nama itu menjadi doa. Tetapi sering perangai tidak sesuai nama. Banyak orang tua memberi nama anak dari nama-nama orang baik. Harapannya supaya anak menjadi baik.
Di antara sangat sedikit orang yang namanya bagus dari nama orang baik adalah Haidar Bagir.
Nama itu seperti nama 'arif Sayyid Haidar Amuli. Beliau adalah 'arif yang jujur tetapi tidak menyinggung. Bila belajar hikmah dan 'irfan, kita akan kesulitan menemukan diksi seimbang antarapengalaman dan penulisan. Sebagian 'urafa menyampaikan pengalaman dengan tepat, tetapi kesulitan menemukan diksi yang indah dan tidak menyinggung orang yang berbeda pandangan.
Sayyid Haidar Amuli sangat unik. Beliau menyampaikan pengalaman mistiknya dengan diksi yang jelas, tegas, indah dan jauh dari kemungkinan timbulnya ketersinggungan orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Sifat unik ini dimiliki dengan baik oleh Haidar Bagir.
Dalam menulis pandangan-pandangan 'irfan, beliau memiliki diksi yang tegas, jelas indah dan tidak membuat tersinggung.. Terutama dalam menulis keterangan aforisme Jalaluddin Rumi dalam 'Mereguk Cinta Rumi'. Beliau mampu memperjelas maksud sajak-sajak Jalaluddin Rumi dengan pilihan kata yang jauh dari ambiguitas. Sehingga dapat diterima oleh pihak manapun tanpa mereduksi pesan 'irfan yang ingin disampaikan.
Misalnya pada halaman 13 buku tersebut saat menerangkan sajak Jalaluddin Rumi yang berbunyi, ''Aku mabuk dari Piala Cinta. Duniapun telah sirna dariku.'' Haidar Bagir menulis keterangan singkat atas syair itu: ''Bagi pecinta, tak ada Ilah (idola) kecuali Allah (Sang Cinta). Tiada yang ada kecuali Dia.''
Sangat jarang ada sarjana dan peneliti 'irfan di masa kini yang mampu menulis dengan padat, jelas, barani, namun indah. Sebagian berani, tapi pilihan diksinya kurang tepat, sehingga ditolak khalayak. Sebagian lain jadi sasaran pujian, tetapi telah melakukan reduksi akut.
Haidar Bagir adalah tokoh terkenal yang tidak hasrat dikenal. Beliau memenuhi indikator ulama, sekalipun akan marah dipanggil demikian. Beliau hanya menulis hal-hal yang dianggap sangat dibutuhkan masyarakat. Padahal sebagai CEO salah satu penerbit paling populer di Negara ini, bisa saja beliau dengan mudah menotulensi kuliah-kuliah dan ceramahnya untuk diterbitkan dalam bentuk buku.
Haidar Bagir hanya menulis beberapa buku saja. Belakangan semua buku yang ditulis, tentang 'Urafa saja. 'Semesta Cinta dan Kebahagiaan' tentang Ibn 'Arabi,' Risalah Cinta', 'Belajar Hidup dari Rumi', 'Mereguk Cinta Rumi', tentang Jalaluddin Rumi: Itu dilakukan karena beliau melihat masyarakat sudah sangat kritis. Masyarakat kehilangan pegangan, jati diri, kebanggaan dan identitas. Masyarakat kehilangan simpati, kebersamaan dan tenggang rasa. Masyarakat sekarang umumnya hanya mampu melihat kekerasan sebagai jalan. Masyarakat kehilangan cinta. Menanggapi itu, Dengan segenap kerendahan hati, Haidar Bagir menghidupkan kembali khasanah sufi yang penuh cinta Kasih.
Dalam dua seri buku terbarunya yang imut, Haidar Bagir menyajikan kedalaman samudra hikmah dari Jalaluddin Rumi ke hadapan kita dalam bentuk buku kecil yang indah, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Harapannya agar masyarakat dapat menemukan kembali cinta dan keindahan yang merupakan elemen mendasar dari semua manusia. Agar bangsa kita bisa kembali damai dan rukun di bawah sayap cinta dan kasih sayang.
Langsa, 19 Januari 2017




Tidak ada komentar:
Posting Komentar