Rabu, 22 Maret 2017

Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah Teolog

Tidak menganal wali kecuali wali. Begitu juga tidak mengenal filosof kecuali filosof. Orang yang tidak belajar filsafat dengan benar tidak akan mengetahui bahwa Imam Ghazali dan Fakhruddin Razi adalah teolog, bukan filosof. Demikian juga pada masa kini, orang yang belajar filsafat hanya lewat buku dan ceramah umum tidak mengetahui bahwa Naquib Al-Attas itu bukan filsuf tetapi dia adalah teolog.

Pentingnya pemahaman ini adalah untuk menerangkan bahwa sangat sulit mengklasifikasi kerja teologis dengan kerja filsafat. Jangan sampai mengira istilah filsafat yang keluar dari pernyataan Al-Attas adalah filsafat murni.
Ini bisa membuat orang yang belajar filsafat di bawah pohon mengira yang dibicarakannya itulah filsafat. Hampir seluruh karyanya, Al-Attas teridentifikasi tidak berbicara filsafat murni, tetapi turunan filsafat.

Mari kita perhatikan, buku Islam dan Filsafat Sains terbitan Mizan 1995 yang disunting Zainal Abidin Bagir yang membahas filsafat ilmu sebenarnya, bila telah belajar filsafat dengan benar, menjadi bukti yang terang bahwa Al-Attas adalah seorang teolog. Dia tidak melandaskan fondasi Ilmu pada akal, tetapi pada wahyu. Dia memang mengakui indra akal dan intuisi sufi sebagai sumber ilmu, tapi semua itu hanya sumber itibar, otoritas atau wahyu jua yang dia alaskan. Inlah indikasi utama pandangan teologis. Corak demikian identik dengan para berpikir teolog, baik yang beraliran Mutazilah maupun Asyariah.

Ciri lain seorang teolog adalah pertanyaan-pernyataan mereka yang paradoks. Al-Ghazali sangat banyak mengeluarkan paradoks dalam tulisannya. Inkonsistensi antara satu bagian tulisan dengan tulisan lainnya sering ditemukan. Nuruddin Arraniri juga demikian. Pada Tibyan fi Marifah Aladyan dia menentang keras Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrai. Tetapi pada Hujjatus Siddiq dia membela Ibn Arabi. Padahal tidak ada sanggahan bahwa Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrai adalah pengikut Ibn Arabi. Tetapi Al-Attas membela paradoks Nuruddin Arraniri dengan mengatakan Hujjatus Siddiq sebagai karya terakhir Ranini, di mana di situ dia telah mengevaluasi pemikiran-pemikiran sebelumnya. Sayangnya, hal ini pula diterima oleh Prof. Abdul Hadi WM.

Padahal banyak pendapat lain mengatakan Tibyan fi Marifat Adyan adalah karyanya yang terakhir saat menetap di Aceh. Karya tersebut ditulis atas permintaan Ratu Safiatuddin sebagai kenang-kenangan saat dia akan kembali ke Ranir. Dengan demikian, pembelaan Al-Attas tidak dapat dibenarkan. Dan memang para teolog itu adalah paradoks.

Dapat dikatakan Al-Attas tidak melewatkan literatur Mulla Sadra. Tetapi dia benar-benar mengikut Al-Ghazali. Misalnya tentang cara dia memperlakukan Irfan. Dalam Prolegomena to the  Metaphysics of Islam, Al-Attas memperlakukan sselain Haqq Ta'ala sebagaimana teolog memperlakukannya, yaitu menganggapnya sebagai realitas eksternal yang nyata. Lalu menjadikannya sebagai subjek proposisi sebagaimana Peripatetik menerima kemajemukan eksistensi eksternal.

Secara keseluruhan, usaha Al-Attas adalah seperti teolog lain seperti Ibrahim Kurani dan Abdurrauf Assingkili, yaitu mereduksi Irfan ke dalam teologi ortodoks dengan alat analisa epistemologi Peripatetik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar