Lembaga pendidikan Islam selalu ikut mengalami musibah setiap bencana alam. Sekarang gedung-gedung hancur akibat gempa. Beberapa bulan lalu banjir lupan sungai. Besok entah apalagi. dalam pemaknaan saya, ini adalah teguran Tuhan kepada alim ulama di sana. Mereka tahu perusakan alam terus menerus adalah dosa besar. Namun mereka diam tidak pernah menegur dan memperingatkan pihak pengusaha dan pemerintah daerah agar menghentikan kejahatan itu.
Aceh khususnya dan Nusantara umumnya adalah tanah warisan orang-orang suci di masa lalu. Mereka mewariskan alam untuk kita jaga. Tetapi kita mengabaikan amanah leluhur kita. Kita terus-menerus melakukan perusakan alam hanya untuk memenuhi keinginan nafsu kita yang tidak terbatas.
Alim ulama adalah orang diberi rahmat pengetahuan mendalam oleh Allah. Pengetahuan itu diamanahkan Allah kepada mereka untuk dipergunakan sebagai pengayom masyarakat. Tetapi terkait perusakan alam, mereka mengabaikannya.
Mereka tahu praktik perusakan alam saban hari semakin parah dilakukan perusahanan-perusahaan lokan dan nasional. Pemerintah daerah terus menerus memberikan persetujuan, perlindungan dan kemudahan-kemudahan lain. Masyarakat yang memang mengalami kesulitan ekonomi turut membantu prakti perusakan itu hanya demi sebungkus nasi. Mereka lupa bahwa bila bencana terjadi, merekalah yang paling cepat menuai deritanya.
Korporat, pemangku jabatan pemerintah dan masyarakat adalah pihak-pihak yang tidak dapat memahami langsung batas-batas tindakan mereka. Pihak yang mengetahui itu adalah alim ulama. Namun sejauh yang dapat saya amati, tidak ada teguran-teguran alim ulama untuk menghentikan atau membatasi tindakan-tindakan perusakan alam. Mereka hanya masih fokus mengayomi dan menularkan pengetahuan bidang-bidang "domstik" seperti ibadah fardu, menutup aurat, mencegah praktik judi, mesum dan sebagainya.
Kita tahu bahwa sepuluh tahin terakhir, praktik perusakan alam di Aceh terjadi dengan sangat parah. Hutan dibabat tanpa kendali. Pasir-pasir sungai ditambang tanpa henti. Sebelumnya aksi gila menambang batu giok terjadi sangat parah. Batu-batu gunung yang sebenarnya berfungsi sebagai pasak bumi ditambang tanpa kendali. Bahkan kalangan-kalangan yang bterlibat langsung dalam tindakan-tindakan buruk itu mengaku yang mereka lakukan adalah tindakan gila: "Krok gunong doe laoet" (Mengeruk gunung menimbun laut).
Rancangan-rancangan pembamgunan oleh pemerintah dirumuskan tanpa mempertimbangkan kesanggupan alam menjaga keseimbangannya. Yang dipertimbangkan hanya kesanggupan pengusaha bahan tambang menyediakan material. Dengannitunpara pengusaha tambang melakukanntindaka-tindakan gila untuk menyedikan permintaan pembangunan.
Kita tidak bisa mengaitkan langsung gempa yang terjadi di Pidie Jaya dini hari Rabu (07/12) dengan tindakan-tindakan gila yangbtelah disebutkan di atas. Namunnkita dapat membuatnkausalitas abstak bahwa bencana tersebut adalah akumulasi tindakan manusia yang merusak alam umpama pemerkosaan bergilir oleh beberapa laki-laki jahat kepada seorang perempuan muda nan cantik.
Kembali lagi, masyarakat, pengusaha tambang dan pemerintah tidak bisa disalahkan secara langsung. Mereka melakukan praktik-praktik perusakan alam karena tuntutan dan desakan tertentu. Dalam hal ini, kita berharap kepada alim ulama yang dekat dengan Tuhan, yang memiliki pengetahuan tinggi agar dapat senantiasa memberikan peringatan kepada pemerintah, korporat dan masyarakat bahwa dosa besar tidak hanya berzina, membunuh, berjudi dan meninggalkan ibadah fardhu, tetapi melalukan perusakan hutan adalah termasuk dosa besar.
Mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar