Mantiq Ringkas
Jika proposisi disjungtif ditinjau dari segi ketidakmungkinan anteseden dan konsekuennya dihimpun dan dihimpin sekaligus, atau kemungkinan dihimpun sekaligus dan kemungkinan dinegasikan sekaligus, maka proposisi ini dibagi menjadi: (1) Proposisi disjungtif alternatif, yang dibagi menjadi (a) afirmatif yakni konsekuen dan antesedennya tidak mungkin dihimpun sekaligus, pula tidak mungkin dinegasikan sekaligus: Bilangan sempurna itu ganjil atau bilangan sempurna itu genap; dan (b) negatif yakni anteseden dan kosekuennya memungkinkan dihimpun dan memungkinkan dinegasikan sekaligus: Hewan itu tidak berakal dan hewan itu tidak mampu menulis. (2) Proposisi disjungtif inklusif, terbagi menjadi (a) afirmatif yakni anteseden dan konsekuennya tidak mungkin dihimpun sekaligus namun dapat dinegasikan sekaligus: Benda putih atau benda itu hitam, (b) negatif yakni anteseden dan kosekuennya dapat dihimpun sekaligus namun tidak dapat dinegasikan sekaligus: Benda itu tidak nonputih atau benda itu tidak nonhitam. (3) Proposisi ekslusif afirmatif terbagi: (a) afirmatif yakni anteseden dan kosekuennya dapat dihimpun sekaligus tetapi tidak mungkin dinegasikan dari anteseden dan konsekuen sekaligus: Benda itu nonputih atau benda itu nonhitam; (b) negatif yakni anteseden dan konsekuennya tidak dapat dihimpun sekaligus tetapi tidak mungkin dinegasikan dari anteseden dan konsekuen: Benda itu tidak putih atau benda itu tidak hitam.
PENALARAN TAK LANGSUNG adalah penyusunan dalil menggunakan proposisi yang lazim dari proposisi yang dinatakan. Penalaran ini dilakukan pada proposisi sulit dan yang tidak dapat dilakukam dengan proposisi langsung (Abdu Hadi Fadli, Logika Praktis, Jakarta: Sadra Press, 2015: 93) Misalnya ingi menetapkan proposisi: Ruh itu ada. Bila proposisi tidak bisa ditetapkan melalui penalaran langsung, maka harus bersandar pada proposisi lazim: Ruh itu tidak ada. Lalu membuktikan kebenaran dan kesalahan proposisi lazim supaya dapat menetapkan proposisi yang dicari. Bila secara filisifis proposisi lazim terbukti salah, maka proposisi yang dicari pasti benar karena yang 'benar dan salah' itu mustahil eksis sekaligus. Metode penalaran tak langsung: kontradiksi, konversi dan kontaposisi.
Kontradiksi adalah kohesi dua proposisi yang satu benar dan satunya lagi salah. Tetapi harus ada titik persamaan dan sekaligus ada titik perbedaannya. Syarat kesamaannya adalah: keseluruhan predikat, subjek, objek, waktu, tempat, syaratnya sama, sama-sama aktual dan sama dalam korelasi. Syarat perbedaannya adalah: kuantitas (universal-partikular), kualitas: positif-negatif.
Karena menurut syarat di atas tidak mungkin kedua proposisi benar, maka tentu salahsatunya saja yang benar. langkah penalaran kontradiksi: 1. Menetapkan objek yang dicari. 2. Menentukan lawan objek yang dicari. 3. Membuktikan proposisi 'lawan' benar atau salah. 4. Menetapkan prinsip kontadiksi. 5. Kesimpulan.
Contoh praktiknya:
Objek yang dicari: Tidak ada satu pun dari ruh itu ada.
Lawan dari proposisi: Ruh itu ada.
Setelah dibuktikan secara filosofis, ternyata ruh itu ada.
Kesimpulan: Proposisi 'tidak ada satu pun dari ruh itu ada' adalah salah.
KONVERSI adalah mengganti posisi subjek dengan predikat sebuah proposisi pertama menjadi objek pada proposisi kedua dan merubah posisi predikat pada proposisi pertama menjadi subjek pada proposisi kedua, atau merubah anteseden pada proposisi pertama menjadi konsekuen pada proposisi kedua dan merubah konsekuen pada proposisi pertama menjadi konsekuen pada proposisi kedua, tanpa mengubah kualitas negatif atau positifnya.
Contoh konversi:
Universal afirmatif: Setiap yang bewarna pasti benda. Menjadi: setiap benda pasti bewarna. Partikular afirmatif: Sebagian burung adalah putih. Menjadi: Sebagian yang putih adalah burung.
IiPartikular negarif tidak berkonversi: Sebagian hewan bukan manusia. Karena akan menjadi: Sebagian manusia bukan hewan. Dan ini salah karena semua manusia adalah hewan.
Langkah konversi: 1. Menetapkan objek yang dicari. 2. Menentukan asal atau pokok. 3. Menetapkan prinsip konversi. 4. Kesimpulan.
KONTRAPOSISI adalah pengubahan satu proposisi ke proposisi lain. Predikat proposisi kedua menjadi lawan pada subjek pada proposisi kedua. Subjek pada proposisi kedua menjadi lawan pada predikat proposisi pertama. Kualitas (afirmatif-negatif) tidak berubah. Setelah penggantian itu, proposisi kedua tetap terjaga kebenarannya. (1) Universal negatif berkontraposisi dengan partikular negatif: Tidak ada manusia adalah benda mati. Kontraposisinya: Sebagian non benda mati adalah bukan non manusia. (2) Partikular negatif berkontraposisi dengan partikular negatif: Sebagian logam adalah bukan besi. Kontaposisinya: Sebagian yang nonbesi adalah bukan nonlogam. (3) Universal brgebn gafirmatif berkontaposisi dengan universal afirmatif. Setiap penulis adalah manusia. Menjadi: Setiap nonmanusia adalah nonpenulis. (4) Partikularafirmatif tidak berkontraposisi karena terkadang hasil penalarannya berbeda: Sebagian nonbesi adalah logam. Menjadi: Sebagian nonlogam adalah besi. Dan ini salah karena kontraposisinya haru tetap benar.
RISKAS mantiq II
PENALARAN LANGSUNG adalah penyusunan dalil terhadap objek yang dicari hingga bisa ditetapkan. Penalaran ini digunakan bila objek yang dicari tidak memiliki hambatan sebagaimana penalaran tidak langsung. Tiga metode penalaran kangsung adalah silogisme, induksi dan analogi.
SILOGISME adalah menerapkan universal pada partikular untuk mengetahui nisbah partikular. Prinsip: Setiap peminum bir itu fasik, ingin diterapkan pada Joni, maka dibuat proposisi dengan langkah (1) Jono peminum bir (2) Setiap peminum bir itu fasik (3) Jono adalah fasik. Atau (1) Besi memuai bila dipanaska (2) Setiap logam memuai bila dipanaskan (3) Besi adalah logam.
Silogisme dibagi menjadi (1) silogisme pengecualian, yakni jelas kesimpulan atau lawannya pada kedua premis: (-) Jika Ahmad alim, dia harus dihormati (-) Ahmad itu alim (-) Maka Ahmad harus dihormati. (2) Silogisme konjungtif yakni tidak menyebutkan kesimpulan atau lawannya pada kedua premis: (-) Alam itu berubah (-) Setiap yang berubah itu baharu (-) Alam itu baharu.
Silogisme konjungtif terbagi menjadi (1) Kategoris, yakni tersusun dari proposisi-proposisi kategoris: (-) Merpati adalah burung (-) Semua burung adalah hewan (-) Merpati adalah hewan. (2) Hipotetis, yakni tersusun dari proposisi-proposisi hipotetis atau proposisi kategoris dan proposisi hipotetis: (-) Setiap air itu mengalir, maka ia terjaga. (-) Setiap yang terjaga, maka ia tidak menjadi najis karena menyentuh Najis. (-) Setiap air mengalir, maka ia tidak mebjadi najis bila menyentuh najis.
Silogisme konjungtif kategoris terdiri dari term tengah yang terulang pada kedua premis, term minor yang pada premis minor dan term mayor yang terletak pada premis mayor. Prremis ini tidak tersusun dari dua premis negatif, tidak dari dua premis partikular, tidak premis minor negatif- mayor partikular. Preminis minor untuk partikular, premis mayor untuk universal yang ditetapkan pada partikular. term minor sebagai subjek dan term minor sebagai predikat.
EMPAT FIGURA adalah silogisme konjungtif berdasarkan penempatan term tengahnya. Figura Pertama adalah term tengah yang menjadi predikatnya premis minor dan subjeknya premis mayor. Premisminornya afirmatif, premis mayornya universal. Figura pertama: (1): afirmatif universal - afirmatif universal -afirmatif universal, (2) -afirmatif universal - afirmatif universal, - negatif universal, (3) -afirmatif partikular, -afirmatif universal - afirmatif partikular, (4) afirmatif partikular, - negatif universal; - negatif partikular. Figura kedua: (1) -afirmatif universal, - negatif universal, - negatif universal, (2) -negatif universal, -afirmatif universal, - negatif universal, (3) afirmatif partikular, negatif universal, negatif partikular, (4) negatif partikular, afirmatif universal, - negatif partikular. Figura ketiga: (1) afirmatif universal, - afirmatif universal, - afirmatif partikular, (2) - afirmatif universal, negatif universal, -negatif partikular, (3) afirmatif partikular, - afirmatif universal, afirmatif partikular, (4) - afirmatif universal, - - afirmatif partkikular, afirmatif partikular. Figura keempat: (1) - afirmatif universal - afirmatif partikular, -positif partikular, (2) -afirmatif universal, afirmatif partikular, - afirmatif partikular, (3) negatif universal, -afirmatif universal, -negatif universal. (4) afirmatif partikular, - negatif universal, - negatif partikular.
RESUME MANTIQ III
INDUKSI adalalah menyelidiki hal-hal partikular untuk mendapatkan hukum umum universal. Induksi terbagi menjadi induksi sempurna yakni menyelidiki keseluruhan partikular untuk menemukan hukum universalnya dan induksi tak sempurna yakni meneliti sebagian partikularnya untuk menemukan hukum universalnya. Tingkatan induksi adalah: observasi yakni membatasi penyaksian objek yang dicari sebagaimana adanya serta memahami pengaruh dalam transformasi indra ke pikiran, dan eksperimen yakni penyaksian objek yang diteliti dalam beberapa kondisi yang telah disiapkan sebagaimana diinginkan hipotetis dan penetapan hukum.
Eksperimen adalah isolasi sesuatu yang dipisahkan dari hal-hal lain. Eksperimen berguna mengamati sesuatu yang tidak dapat dilakukan melalui observasi seperti zat kimia tertentu. Observasi dilakukan apabila mustahil dilakukan eksperimen pada objek yang diteliti seperti orbit, terlalu berbahaya seperti efek gas beracun pada manusia atau bila biayanya sangat besar dibandingkan manfaatnya. Observasi dan eksperimen harus dibatasi pada objek yang dicari, teliti dan saksama, mencatat fenomena yang disaksikan, dan mengulang proses ilmiah hingga benar-benar yakin. Setelah itu barulah melakukan hipotesis.
Hipotesis adalah interpretasi temporar peneliti atas fenomena yang telah diobservasi atau dieksperiemen. Hipotesis adalah proposisi yang tidak melanggar prinsip ilmiah umum, dapat dibuktikan benar atau salahnya dan dapat diaplikasikan pada setiap partikular yang disaksikan. Terdapat beberapa model dalam penerapan hipotesa. Model standarnya adalah asumsi adanya kausalitas. Dari asumsi ini dibuat kesimpulan dan mencari hal-hal yang membenarkan kesimpulan. Metode persamaan adalah menerapkan sebab pada akibat yang dominan muncul: klorofil adalah sebab menghijaunya daun semanggi. Metode perbedaan adalah mengamati dua keadaan yang berlaku pada yang satu dan tidak berlaku pada satunya lagi: oksegen pemungkin kebakaran, tanpa oksigen tak ada kebakaran. Metode gabungan adalah penentuan adanya fenomena bila unsur tertentu terpenuhi, bila unsur tersebut tiada, fenomena tiada: Lemahnya penelitian ilmiah di sebuah sekolah adalah akibat dari minimnya pelatihan ilmiah, dan sebab menggeliatnya penelitian ilmiah di satu sekolah lain adalah akibat giatnya penelitian ilmiah. Metode residu adalah keyakinan perubahan apapun pada sebab harus terjadi juga pada akibat: Tingginya produksi akibat tingginya permintaan. Metode variasi adalah keyakinan penyebab sesuatu tidak menjadi penyebab sesuatu yang lain yang berbeda dari sesuatu yang pertama: Segala berkaitan dengan planet Uranus telah diketahui kecuali penimpangan orbit Uranus, ini menunjukkan adanya sebab lain yakni keberadaan planet Neptunus. Penetapan hukum dilakukan setelah hipotesis dianggap terbukti. Lalu dari pembuktian itu dibuat prinsip umum yang disebut dengan hukum atau nisbah.
ANALOGI
RESUME MANTIQ IV
ANALOGI adalah menetapkan hukum satu partikular kepada partikular karena memiliki keserupaan: Menetapkan hukum haramnya arak kepada bir, karena karena bir menyerupai arak dalam efek memabukkan. Unsur-unsur analogi berdasarkan contoh tersebut adalah pokok yakni yang telah diketahui hukumnya (arak), cabang yakni yang dicari untuk ditetapkan hukum (bir), konsisten yakni keserupaan pokok dan cabang (memabukkan), dan hukum yakni yang telah diketahui ketetapannya pada pokok dan akan diterapkan pada cabang (haram).
RESUME MANTIQ V
ANALISIS adalah pembagian sesuatu menjadi unsur-unsur untuk diamati setiap bagian lalu diperhatikan kaitan antar unsur. Analisis terbagi menjadi analisis logis dan analisis materil. Analisis logis adalah pembagian rasional yang terjadi dalam pikiran. Analisis materil adalah pembagian suatu entitas pada realitas eksternal. Sementara KOMPOSISI adalah menghimpun beberapa hal menjadi satu. Pembagiannya sama seperi pembagian dalam analisis yakni komposisi rasional dan komposisi materil.
METODE PENELITIAN ILMIAH adalah metode menetapkan prinsip-prinsip ilmu dan metode menghasilkan pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip ilmu. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan manusia yang sistematis mengenai topik tertentu. Metode penelitian ilmian terbagi menjadi metode logis (umum)dan metode teknis (khusus).
Metode khusus mencakup semua ilmu dalam menetapkan prinsip-prinsip umum dalam menetapkan ilmmu dalam bentuknya yang umum, dan menyusun unsur-unsur penelitiannya secara sistematis dengan mengaitkan satu unsur dengan unsur lainnya menjadi bangunan konsisten higga saling menyempurna dengan bekal definisi, penalaran pembagian, pengelompokan, analisis, komposisi dan teknik-teknik logika lainnya sehingga menghasilkan ilmu yang jauh dari ketidakmembuahan hasil dan jauh dari kesalahan berpikir.
Prinsip umum dalam penelitian ilmiah antara lain: (1) Proposisi swabukti harus diteguhkan keswabuktiannya dan proposisi konsepsi harus dibuktikan dengan proposisi yang sesuai dengan sistem penalaran yang benar. (2) Diterapkan sistem analisa sehingga dapat menghasilkan bagian sejumlah yang dapat dibagi. (3) Langkah penelitian harus sistematis, dimulai dari unsur terkecil menjadi unsur yang lebih besar hingga menghasilkan suatu komposisi. (4) Kajian mencakup seluruh sudut topik yang diteliti. (5) Tujuan penelitian harus jelas. (6) Antar bagian penelitian tidak bertentangan satu sama lain. (7) Mencakupi semua problem penelitian dan menyingkirkan yang bukan termasuk bagian problemnya.
Metode teknis atau metode khusus berarti metode yang hanya berlaku bagi ilmu tertentu. Selain metode umum, setiap cabang ilmu memiliki metode tersendiri yang digunakan untuk menghimpun, mempersiapkan, mengelompokkan materi. Misalnya ilmu matematika yang memiliki metode aksioma, proposisi terminologis dan silogisme logis. Atau ilmu sejarah yang memiliki metode mengumpulkan sumber, memverifikasi sumber dan menginterpretasi sebab.
Jika proposisi disjungtif ditinjau dari segi ketidakmungkinan anteseden dan konsekuennya dihimpun dan dihimpin sekaligus, atau kemungkinan dihimpun sekaligus dan kemungkinan dinegasikan sekaligus, maka proposisi ini dibagi menjadi: (1) Proposisi disjungtif alternatif, yang dibagi menjadi (a) afirmatif yakni konsekuen dan antesedennya tidak mungkin dihimpun sekaligus, pula tidak mungkin dinegasikan sekaligus: Bilangan sempurna itu ganjil atau bilangan sempurna itu genap; dan (b) negatif yakni anteseden dan kosekuennya memungkinkan dihimpun dan memungkinkan dinegasikan sekaligus: Hewan itu tidak berakal dan hewan itu tidak mampu menulis. (2) Proposisi disjungtif inklusif, terbagi menjadi (a) afirmatif yakni anteseden dan konsekuennya tidak mungkin dihimpun sekaligus namun dapat dinegasikan sekaligus: Benda putih atau benda itu hitam, (b) negatif yakni anteseden dan kosekuennya dapat dihimpun sekaligus namun tidak dapat dinegasikan sekaligus: Benda itu tidak nonputih atau benda itu tidak nonhitam. (3) Proposisi ekslusif afirmatif terbagi: (a) afirmatif yakni anteseden dan kosekuennya dapat dihimpun sekaligus tetapi tidak mungkin dinegasikan dari anteseden dan konsekuen sekaligus: Benda itu nonputih atau benda itu nonhitam; (b) negatif yakni anteseden dan konsekuennya tidak dapat dihimpun sekaligus tetapi tidak mungkin dinegasikan dari anteseden dan konsekuen: Benda itu tidak putih atau benda itu tidak hitam.
PENALARAN TAK LANGSUNG adalah penyusunan dalil menggunakan proposisi yang lazim dari proposisi yang dinatakan. Penalaran ini dilakukan pada proposisi sulit dan yang tidak dapat dilakukam dengan proposisi langsung (Abdu Hadi Fadli, Logika Praktis, Jakarta: Sadra Press, 2015: 93) Misalnya ingi menetapkan proposisi: Ruh itu ada. Bila proposisi tidak bisa ditetapkan melalui penalaran langsung, maka harus bersandar pada proposisi lazim: Ruh itu tidak ada. Lalu membuktikan kebenaran dan kesalahan proposisi lazim supaya dapat menetapkan proposisi yang dicari. Bila secara filisifis proposisi lazim terbukti salah, maka proposisi yang dicari pasti benar karena yang 'benar dan salah' itu mustahil eksis sekaligus. Metode penalaran tak langsung: kontradiksi, konversi dan kontaposisi.
Kontradiksi adalah kohesi dua proposisi yang satu benar dan satunya lagi salah. Tetapi harus ada titik persamaan dan sekaligus ada titik perbedaannya. Syarat kesamaannya adalah: keseluruhan predikat, subjek, objek, waktu, tempat, syaratnya sama, sama-sama aktual dan sama dalam korelasi. Syarat perbedaannya adalah: kuantitas (universal-partikular), kualitas: positif-negatif.
Karena menurut syarat di atas tidak mungkin kedua proposisi benar, maka tentu salahsatunya saja yang benar. langkah penalaran kontradiksi: 1. Menetapkan objek yang dicari. 2. Menentukan lawan objek yang dicari. 3. Membuktikan proposisi 'lawan' benar atau salah. 4. Menetapkan prinsip kontadiksi. 5. Kesimpulan.
Contoh praktiknya:
Objek yang dicari: Tidak ada satu pun dari ruh itu ada.
Lawan dari proposisi: Ruh itu ada.
Setelah dibuktikan secara filosofis, ternyata ruh itu ada.
Kesimpulan: Proposisi 'tidak ada satu pun dari ruh itu ada' adalah salah.
KONVERSI adalah mengganti posisi subjek dengan predikat sebuah proposisi pertama menjadi objek pada proposisi kedua dan merubah posisi predikat pada proposisi pertama menjadi subjek pada proposisi kedua, atau merubah anteseden pada proposisi pertama menjadi konsekuen pada proposisi kedua dan merubah konsekuen pada proposisi pertama menjadi konsekuen pada proposisi kedua, tanpa mengubah kualitas negatif atau positifnya.
Contoh konversi:
Universal afirmatif: Setiap yang bewarna pasti benda. Menjadi: setiap benda pasti bewarna. Partikular afirmatif: Sebagian burung adalah putih. Menjadi: Sebagian yang putih adalah burung.
IiPartikular negarif tidak berkonversi: Sebagian hewan bukan manusia. Karena akan menjadi: Sebagian manusia bukan hewan. Dan ini salah karena semua manusia adalah hewan.
Langkah konversi: 1. Menetapkan objek yang dicari. 2. Menentukan asal atau pokok. 3. Menetapkan prinsip konversi. 4. Kesimpulan.
KONTRAPOSISI adalah pengubahan satu proposisi ke proposisi lain. Predikat proposisi kedua menjadi lawan pada subjek pada proposisi kedua. Subjek pada proposisi kedua menjadi lawan pada predikat proposisi pertama. Kualitas (afirmatif-negatif) tidak berubah. Setelah penggantian itu, proposisi kedua tetap terjaga kebenarannya. (1) Universal negatif berkontraposisi dengan partikular negatif: Tidak ada manusia adalah benda mati. Kontraposisinya: Sebagian non benda mati adalah bukan non manusia. (2) Partikular negatif berkontraposisi dengan partikular negatif: Sebagian logam adalah bukan besi. Kontaposisinya: Sebagian yang nonbesi adalah bukan nonlogam. (3) Universal brgebn gafirmatif berkontaposisi dengan universal afirmatif. Setiap penulis adalah manusia. Menjadi: Setiap nonmanusia adalah nonpenulis. (4) Partikularafirmatif tidak berkontraposisi karena terkadang hasil penalarannya berbeda: Sebagian nonbesi adalah logam. Menjadi: Sebagian nonlogam adalah besi. Dan ini salah karena kontraposisinya haru tetap benar.
RISKAS mantiq II
PENALARAN LANGSUNG adalah penyusunan dalil terhadap objek yang dicari hingga bisa ditetapkan. Penalaran ini digunakan bila objek yang dicari tidak memiliki hambatan sebagaimana penalaran tidak langsung. Tiga metode penalaran kangsung adalah silogisme, induksi dan analogi.
SILOGISME adalah menerapkan universal pada partikular untuk mengetahui nisbah partikular. Prinsip: Setiap peminum bir itu fasik, ingin diterapkan pada Joni, maka dibuat proposisi dengan langkah (1) Jono peminum bir (2) Setiap peminum bir itu fasik (3) Jono adalah fasik. Atau (1) Besi memuai bila dipanaska (2) Setiap logam memuai bila dipanaskan (3) Besi adalah logam.
Silogisme dibagi menjadi (1) silogisme pengecualian, yakni jelas kesimpulan atau lawannya pada kedua premis: (-) Jika Ahmad alim, dia harus dihormati (-) Ahmad itu alim (-) Maka Ahmad harus dihormati. (2) Silogisme konjungtif yakni tidak menyebutkan kesimpulan atau lawannya pada kedua premis: (-) Alam itu berubah (-) Setiap yang berubah itu baharu (-) Alam itu baharu.
Silogisme konjungtif terbagi menjadi (1) Kategoris, yakni tersusun dari proposisi-proposisi kategoris: (-) Merpati adalah burung (-) Semua burung adalah hewan (-) Merpati adalah hewan. (2) Hipotetis, yakni tersusun dari proposisi-proposisi hipotetis atau proposisi kategoris dan proposisi hipotetis: (-) Setiap air itu mengalir, maka ia terjaga. (-) Setiap yang terjaga, maka ia tidak menjadi najis karena menyentuh Najis. (-) Setiap air mengalir, maka ia tidak mebjadi najis bila menyentuh najis.
Silogisme konjungtif kategoris terdiri dari term tengah yang terulang pada kedua premis, term minor yang pada premis minor dan term mayor yang terletak pada premis mayor. Prremis ini tidak tersusun dari dua premis negatif, tidak dari dua premis partikular, tidak premis minor negatif- mayor partikular. Preminis minor untuk partikular, premis mayor untuk universal yang ditetapkan pada partikular. term minor sebagai subjek dan term minor sebagai predikat.
EMPAT FIGURA adalah silogisme konjungtif berdasarkan penempatan term tengahnya. Figura Pertama adalah term tengah yang menjadi predikatnya premis minor dan subjeknya premis mayor. Premisminornya afirmatif, premis mayornya universal. Figura pertama: (1): afirmatif universal - afirmatif universal -afirmatif universal, (2) -afirmatif universal - afirmatif universal, - negatif universal, (3) -afirmatif partikular, -afirmatif universal - afirmatif partikular, (4) afirmatif partikular, - negatif universal; - negatif partikular. Figura kedua: (1) -afirmatif universal, - negatif universal, - negatif universal, (2) -negatif universal, -afirmatif universal, - negatif universal, (3) afirmatif partikular, negatif universal, negatif partikular, (4) negatif partikular, afirmatif universal, - negatif partikular. Figura ketiga: (1) afirmatif universal, - afirmatif universal, - afirmatif partikular, (2) - afirmatif universal, negatif universal, -negatif partikular, (3) afirmatif partikular, - afirmatif universal, afirmatif partikular, (4) - afirmatif universal, - - afirmatif partkikular, afirmatif partikular. Figura keempat: (1) - afirmatif universal - afirmatif partikular, -positif partikular, (2) -afirmatif universal, afirmatif partikular, - afirmatif partikular, (3) negatif universal, -afirmatif universal, -negatif universal. (4) afirmatif partikular, - negatif universal, - negatif partikular.
RESUME MANTIQ III
INDUKSI adalalah menyelidiki hal-hal partikular untuk mendapatkan hukum umum universal. Induksi terbagi menjadi induksi sempurna yakni menyelidiki keseluruhan partikular untuk menemukan hukum universalnya dan induksi tak sempurna yakni meneliti sebagian partikularnya untuk menemukan hukum universalnya. Tingkatan induksi adalah: observasi yakni membatasi penyaksian objek yang dicari sebagaimana adanya serta memahami pengaruh dalam transformasi indra ke pikiran, dan eksperimen yakni penyaksian objek yang diteliti dalam beberapa kondisi yang telah disiapkan sebagaimana diinginkan hipotetis dan penetapan hukum.
Eksperimen adalah isolasi sesuatu yang dipisahkan dari hal-hal lain. Eksperimen berguna mengamati sesuatu yang tidak dapat dilakukan melalui observasi seperti zat kimia tertentu. Observasi dilakukan apabila mustahil dilakukan eksperimen pada objek yang diteliti seperti orbit, terlalu berbahaya seperti efek gas beracun pada manusia atau bila biayanya sangat besar dibandingkan manfaatnya. Observasi dan eksperimen harus dibatasi pada objek yang dicari, teliti dan saksama, mencatat fenomena yang disaksikan, dan mengulang proses ilmiah hingga benar-benar yakin. Setelah itu barulah melakukan hipotesis.
Hipotesis adalah interpretasi temporar peneliti atas fenomena yang telah diobservasi atau dieksperiemen. Hipotesis adalah proposisi yang tidak melanggar prinsip ilmiah umum, dapat dibuktikan benar atau salahnya dan dapat diaplikasikan pada setiap partikular yang disaksikan. Terdapat beberapa model dalam penerapan hipotesa. Model standarnya adalah asumsi adanya kausalitas. Dari asumsi ini dibuat kesimpulan dan mencari hal-hal yang membenarkan kesimpulan. Metode persamaan adalah menerapkan sebab pada akibat yang dominan muncul: klorofil adalah sebab menghijaunya daun semanggi. Metode perbedaan adalah mengamati dua keadaan yang berlaku pada yang satu dan tidak berlaku pada satunya lagi: oksegen pemungkin kebakaran, tanpa oksigen tak ada kebakaran. Metode gabungan adalah penentuan adanya fenomena bila unsur tertentu terpenuhi, bila unsur tersebut tiada, fenomena tiada: Lemahnya penelitian ilmiah di sebuah sekolah adalah akibat dari minimnya pelatihan ilmiah, dan sebab menggeliatnya penelitian ilmiah di satu sekolah lain adalah akibat giatnya penelitian ilmiah. Metode residu adalah keyakinan perubahan apapun pada sebab harus terjadi juga pada akibat: Tingginya produksi akibat tingginya permintaan. Metode variasi adalah keyakinan penyebab sesuatu tidak menjadi penyebab sesuatu yang lain yang berbeda dari sesuatu yang pertama: Segala berkaitan dengan planet Uranus telah diketahui kecuali penimpangan orbit Uranus, ini menunjukkan adanya sebab lain yakni keberadaan planet Neptunus. Penetapan hukum dilakukan setelah hipotesis dianggap terbukti. Lalu dari pembuktian itu dibuat prinsip umum yang disebut dengan hukum atau nisbah.
ANALOGI
RESUME MANTIQ IV
ANALOGI adalah menetapkan hukum satu partikular kepada partikular karena memiliki keserupaan: Menetapkan hukum haramnya arak kepada bir, karena karena bir menyerupai arak dalam efek memabukkan. Unsur-unsur analogi berdasarkan contoh tersebut adalah pokok yakni yang telah diketahui hukumnya (arak), cabang yakni yang dicari untuk ditetapkan hukum (bir), konsisten yakni keserupaan pokok dan cabang (memabukkan), dan hukum yakni yang telah diketahui ketetapannya pada pokok dan akan diterapkan pada cabang (haram).
RESUME MANTIQ V
ANALISIS adalah pembagian sesuatu menjadi unsur-unsur untuk diamati setiap bagian lalu diperhatikan kaitan antar unsur. Analisis terbagi menjadi analisis logis dan analisis materil. Analisis logis adalah pembagian rasional yang terjadi dalam pikiran. Analisis materil adalah pembagian suatu entitas pada realitas eksternal. Sementara KOMPOSISI adalah menghimpun beberapa hal menjadi satu. Pembagiannya sama seperi pembagian dalam analisis yakni komposisi rasional dan komposisi materil.
METODE PENELITIAN ILMIAH adalah metode menetapkan prinsip-prinsip ilmu dan metode menghasilkan pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip ilmu. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan manusia yang sistematis mengenai topik tertentu. Metode penelitian ilmian terbagi menjadi metode logis (umum)dan metode teknis (khusus).
Metode khusus mencakup semua ilmu dalam menetapkan prinsip-prinsip umum dalam menetapkan ilmmu dalam bentuknya yang umum, dan menyusun unsur-unsur penelitiannya secara sistematis dengan mengaitkan satu unsur dengan unsur lainnya menjadi bangunan konsisten higga saling menyempurna dengan bekal definisi, penalaran pembagian, pengelompokan, analisis, komposisi dan teknik-teknik logika lainnya sehingga menghasilkan ilmu yang jauh dari ketidakmembuahan hasil dan jauh dari kesalahan berpikir.
Prinsip umum dalam penelitian ilmiah antara lain: (1) Proposisi swabukti harus diteguhkan keswabuktiannya dan proposisi konsepsi harus dibuktikan dengan proposisi yang sesuai dengan sistem penalaran yang benar. (2) Diterapkan sistem analisa sehingga dapat menghasilkan bagian sejumlah yang dapat dibagi. (3) Langkah penelitian harus sistematis, dimulai dari unsur terkecil menjadi unsur yang lebih besar hingga menghasilkan suatu komposisi. (4) Kajian mencakup seluruh sudut topik yang diteliti. (5) Tujuan penelitian harus jelas. (6) Antar bagian penelitian tidak bertentangan satu sama lain. (7) Mencakupi semua problem penelitian dan menyingkirkan yang bukan termasuk bagian problemnya.
Metode teknis atau metode khusus berarti metode yang hanya berlaku bagi ilmu tertentu. Selain metode umum, setiap cabang ilmu memiliki metode tersendiri yang digunakan untuk menghimpun, mempersiapkan, mengelompokkan materi. Misalnya ilmu matematika yang memiliki metode aksioma, proposisi terminologis dan silogisme logis. Atau ilmu sejarah yang memiliki metode mengumpulkan sumber, memverifikasi sumber dan menginterpretasi sebab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar