Dalam Prolog ‘Sang Alkemis’, Paolo Coelho menceritakan tentang seorang pemuda bernama Narcissus. Setiap hari pemuda itu datang ke danau untuk mengagumi keindahan dirinya. Setelah kematian pemuda itu, danau bersedih dan kerap menangis. Merasa iba pada danau, Dewa datang menemuinya.
Dewa berkata pada danau, “Beruntung sekali engkau. Pemuda itu begitu mengagumi keindahanmu, “ “Tidak,” jawab danau, “dia datang untuk mengagumi keindahan dirinya sendiri. Melalui permukaanku, dia melihat bayangan dirinya. Sehingga dia dapat mengagumi ketampanan dirinya “.
“Lantas kenapa kau bersedih, “ tanya Dewa. “Aku bersedih karena aku tidak lagi dapat melihat keindahan diriku, “jawab danau, “Dulu setiap pemuda itu mengagumi keindahan dirinya melalui permukaanku, aku dapat melihat pancaran keindahan diriku melalui bola matanya. Kini aku tidak dapat melakukan itu lagi. Aku tidak bisa lagi melihat dan mengagumi keindahanku. Makanya aku bersedih”.
Mungkin dari nama Narcissus istilah ‘narsis’ diambil. Orang narsis suka mengagumi keindahan dirinya. Suka selfie, senang difoto. Kaca spion diarahkan ke wajah, bukan melihat pengendari di belakang. Kalau ada foto orang berbody seksi atau berpakaian rapi, suka dibajak, diedit taruh foto wajahnya sendiri.
Tetapi narsis itu dalam beberapa orientiasi adalah sifat yang baik. Dengan mengagumi diri sendiri, kita dapat dituntun untuk terus berorientasi pada diri. Tetapi orientasinya bukan pada kesombongan dan pemujaan penampilan diri. Orientasi pada diri adalah sikap sering mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan dan tidak mengulangi kesalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar