Ada berita yang mengatakan 30 ribu laskar FPI Aceh siap ke Jakarta. Tujuannya melawan Ahok. Tidak tahu apanya yang mau dilawan. Tidak tahu juga bagaimana caranya. Kata berita, mereka sudah terlatih. Tidak disebutkan apanya yang dilatih. Mungkin maksudnya dilatih menjadi sapi yang bisa diseret ke mana saja tanpa pernah menanyakan hendak ke mana.
Sistem doktrin memang terbukti punya daya efektif yang kuat untuk menanamkan tauhid kepada anak. Sistem ini efektif bagi anak karena mereka belum memiliki data komparasi dan belum menghadapi pertanyaan-pertanyaan esensial. Dokrin-doktrin dilematis masuk terus-menerus ke dalam fakultas intelek hingga membuat inteleksi menjadi dilema itu sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan esensial manusia seperti: benarkah Tuhan itu Ada? Ke mana saya setelah mati? Benarkah setelah mati saya hidup kembali? Benarkan Tuhan itu satu saja? Apakah jangan-jangan Tuhan itu sosok yang kejam dan suka mengintimidasi dengan neraka? Adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari fitrah akal manusia. Fitrah akal demikian ini sama seperti fitrah akal lainnya seperti memahami: sebagian lebih sedikit dari keseluruhan, panas tidak dingin, satu adalah bilangan ganjil, dan banyak pernyataan fitrah akal lainnya. Pernyataan-pernyataan fitrah adalah pernyataan-pernyataan yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya. Ia sudah terbukti dengan sendirinya (apriori, badihi).
Selain pernyataan esensial, ada juga pertanyaan esensial akal manusia. Pertanyaan-pertanyaan esensial sebenarnya bukan pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan setan ke dalam pikiran untuk menyesatkan manusia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut murni datang dari fitrah akal sendiri. Tujuannya untuk dicari jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan fitrah adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak apriori sehingga ia berubah menjadi pertanyaan.
Mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan apriori adalah sistem belajar tauhid yang benar. Mengajar tauhid tidak boleh menciptakan dilema. Pernyataan-pernyataan yang didoktrinkan dalam belajar tauhid secara umum adalah pernyataan-pernyataan dilimitasi. Misalnya dikatakan, Tuhan maha pemurah. Tetapi pada sisi yang lain dia dikatakan Dia menyiksa dan memberi bencana. Paradoksal itu dijawab dengan: azab dan bencana diberikan karena kejahatan manusia itu sendiri. Padahal tiada apapun dapat terjadi tanpa kehendak Allah. Paradoksal lain muncul: apakah Allah mengizinkan kejahatan? Bila jawabannya positif, maka perbuatan jahat dilakukan manusia berasal dari izin Allah. Nah, bila diizinkan, kenapa harus berefek pada bencana dan diganjar dengan Azab?
Paragraf di atas hanya satu contoh dari jutaan dilema paradoks yang didoktrinkan dalam teologi Islam. Bila dilacak akar genealogisnya, sistem tersebut bukan berasal dari esensi pendidikan Islam. Ia adalah produk budaya.
Masyarakat Arab yang nomaden dari gurun ke gurun memiliki tantangan tinggi untuk mempertahankan hidup. Mereka hidup dengan berkelompok. Kelompok tersebut adalah kabilah. KKeteganganantar kabilah kerap terjadi. Sehingga masing-masing anggota kabilah harus disiplin dan rapi agar tetap solid. Kedisiplinan dan kerapian itu sangat efektif dalam sistem komando. Sistem ini diadopsi dalam kebudayaan Islam termasuk dalam sistem pendidikan dan politik.
Kadatangan Rasulullah mengajak ummat untuk berpikir modern dan dinamis. Bila sebelumnya masyarakat Arab hanya mengenal kekerasan dalam menghadapi perbedaan dan mengatasi ketegangan. Rasulullah memperkenalkan sistem negosiasi. Bila sebelumnya masyarakat Arab hanya mengenal sistem komando, Rasulullah Saw. Memperkenalkan musyawarah mufakat. Ajaran Rasulullah ini diadopsi oleh para sahabat Beliau. Namum ketika Khulafayrrasyidin ditumbangkan, sistem-sistem modern yang diajarkan Rasulullah diabaikan. Ummayyah mengembalikan sistem demokrasi ke sistem monarki absolut. Adat musyawarah yang pernah dibudayakan pada masyarakat Arab dikembalikan pada sistem komando. Dan adat-adat Arab jahiliyah lainnya kembali dihidupkan.
Cara-cara jahiliyah Ummayyah itu dipakai penyebar kekuasaan Islam ke seluruh dunia. Sehingga bila tidak kritis, masyarakat belahan dunia yang menerima agama Islam akan kesulitan membedakan ajaran esensial Islam dengan kebudayaan jahiliyah.
Doktrin tauhid sistem ortodok sangat khas diterapkan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari. Beliau sangat paham watak Arab. Beliau paham bahwa bila orang Arab dibiarkan sendiri menemukan kebenaran dengan fitrah akal mereka, itu akan sangat sulit terjadi. Dan alih-alih menemukan kebenaran dengan pencarian akal, bahkan bisa menjerumuskan mereka pada khurafat dah tahayul. Maka Abu Musa menerapkan sistem tegas, monarkis doktin dan ekslusif dalam mendakwahkan tauhid. Sistem ini diikuti cucunya Abu Hasan Al-Asy’ari.
Ketika berkembang di Persia, Islam oleh bangsa Arya dilihat sangat sesuai dengan fitrah akal. Karena berbudaya filosifis, Persia berhasil menyusun kesesuaian-kesesuai akal dengan teks suci dalam filsafat yang lebih canggih daripada warisan filsafat lainnya.
Bangsa Persia memiliki pengaruh signifikan dalam pengembangan Islam di Peureulak. (Tgk. M. Arifin Amin, dkk. Uraian Sekitar Kerajaan Islam Peureulak Aceh Timur, Majelis Ulama Aceh, dan Pemerintah Aceh Timur, 1980: 19-20) Bangsa ini berbeda dengan Bangsa Arab. Persia lebih bercorak filosofis. Persia telah memiliki hubungan dagang yang baik dengan wilayah Samudra dan wiliayah Pasai. Islam yang datang dan berkembang di Aceh bernuansa filosofis sebagaimana corak pandang bangsa Persia yang kerap berinteraksi dengan orang Aceh dan bahkan telah bermukuim di Aceh.
Abu Hasan Al-Asy’ari menolak dengan tegas filsafat yang dikembangkan bangsa Persia. Dia menentang integrasi filsafat dan Agama. Sebagaimana corak ajaran Abu Musa yang memperoleh dukungan Ummayyah, Abu Hasan memperoleh dukungan penguasa Abbasiyah. Dengan dukungan Abbasiyah, cirak keberagamaan filosofis yang berkembang di bekahan dunia Islam ingin ditumpaskan. Ingin digantikan dengan cirak ortodksi khas watak Arab jahiliyah sebagaimana dikemukakan di Atas. Mengenai perbedaan signifikan watak Persia dan Semit dapat dirujuk pada banyak literasi termasuk Henry Corbin. Orientalis asal Prancis ini mengatakan bangsa senit adalah Bani Israil dengan Arab. Jadi maklumlah kita kalau saat ini Saudi dan Israel punya kemiripan watak.
Ternyata corak Islam filosofis di Samudra dan Pasai berhasil dimasuki watak ortodoksi. Kerajaan Islam Peureulak yang dipimpin para pemimpin yang mengajarkan keberagamaan filosofis ditumbangkan. Diganti oleh orang yang didukung oleh ulama ortodok. Ajaran Islam ortodokpun mulai dipaksakan pada masyarakat. (Pertikaian ulama ortodoks dengan ulama filosofis diceritakan dengan singkat dan jelas oleh Ali Hasjmy dalam Bunga Rampai dari Tanah Aceh.
Lalu para pemimpin Peureulak pergi berlindung ke Pasai. Kemudian mereka memperoleh posisi penting di sana. Pasai adalah kerajaan yang maju dan dinamis. Kedatangan para intelek dari Peureulak membuat Pasai semakin berkembang. Teologi, filsafat, berbagai aliran tasawuf didialokan secara terbuka. Pasai menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan Islam di Nusantara.
Pasai mengundang sufi, mutakalllim dan filsuf kaliber dunia untuk mengajar di sana. Salahsatu ulama yang hadir ke Pasai adalah keluarga Fansuri yang menjadi moyangnya Hamzah Fansuri. Keluarga Fansuri megelola pendidikan Islam Blang Priya yang menjadi salah satu universitas terbesar di dunia saat itu. Beberapa sunan dari Jawa juga menimba ilmu di sini. Universitas Fansuri itu menjadi kiblat ilmu pengetahuan Nusantara.
Hamzah Fansuri tentunya adalah arif yang berpandangan Wujudiyah yang menjadi Mufti kerajaan Aceh Darussalam. Ajaran ini menjadi ajaran umum masyarakat Aceh kala itu. Ketika Pasai jatuh oleh serangan Majapahit, para ilmuan , ulama dan pemimpinnya hijrah ke Lamuri, Demak, Malaka, dan daerah-daerah lainnya. Setelah Lamuri menjadi kerajaan besar, berdirilah kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa Hamzah Fansuri menjadi mufti, kerukunan masyarakat terus terlaksana. Budaya inklusif dan diakektis khas Pasai dilanjutkan di Aceh Darussalam. Namun setelah orang Malaka yang digelari Iskandar Tani menjadi raja Aceh, dia mengangkat ulama ortodok dari bernama Nuruddin Ranri dari India menjadi mufti. Orang ini menerang keras ajaran wujud yang telah menciptakan kecerdasan, dinamisator, inklusivitas dan elitisitas intelek. Dia memprakarsai perpecahan internal di Aceh. Pola keberagaamaan filosofs masyarakat diganti dengan corak ortodoks dan inklusif.
Abdurrauf Assingkili yang oleh beberapa peneliti diklaim berhasil menengahi konflik ortodoksi dan filosofi adalah kesimpulan yang buru-buru. Sebenarnya bukanlah menengahi, tetapi membantu menekan filosofi dan mengapresiasi ortodoksi. Ketika yang menjadi dominan adalah ortodoksi, maka konflik pun usai.
Pasca Assingkili, corak ortodoksi teologis mendominasi keberagamaan masyarakat Aceh. Ekslufivitas terus berkembang. Pandangan-pandangan keagamaan yang penuh dilema telah menjadi aman karena sifat eksklusif itu.
Corak doktrin menyumbat pertanyaan-pertanyaan fitrah akal dengan menelan redaksi teks suci sesuai lokus berfikir antropomorfis. Pertanyaan-pertanyaan fitrah seharusnya dijawab dengan sistem kerja akal yang fitrah. Buka tidak demikian, maka akal akan semakin lemah. Lemah akal membuat kaum Muslim di Aceh tidak mampu menembus ruang dialog yang objektif. Mereka hanya mengandalkan doktin tekstual dalam menghadapi konteks yang dinamis.
Ketika Universitas Raniri berkembang, para sarananya dituntut untuk menjawab problematika kontekstual yang dinamis. Namun ternyata mereka tidak pernah mampu menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas. Paradigma ortodoksi yang telah mengakar benar-benar telah membuat mereka kehilangan akal sehat. Dan dilema ini juga dialami umumnya sarjana di Nusantara baik Muhammadiyah maupun Nahdatul Ulama. Kedua organisasi ini memiliki akar genealogis yang sama yakni teologi Al-Asy’arian.
Teologi Al-Asy’arian memang sangat sesuai dengan watak Arab sebagaimana alasan yang telah dikemukakan di atas. Teologi ini telah diadopsi Ibu Taimiyah dan terbukti efektif untuk menjaga akidah bangsa Arab. Ketika ajaran Ibn Taimiyah mulai surut bid’ah dan khurafat melanda bangsa Arab. Misalnya, mereka yang awalnya gemar ke kuburan perlahan menyembah arwah orang yang dikubur lalu menyembah batu nisannya.
Bahaya ini ditanggapi Muhammad bin Abdul Wahab. Dia berhasil memusnahkan bid’ah dan khurafat bangsa Arab dan mengembalikan mereka pada corak beragama oktodoksi teologis. Semangat Muhammad Hahab diambil Ahmad Dahlan dan diajarkan di Nusantara karena dalam penilaiannya, Muslim di Nusantara juga telah banyak melakukan praktik bid’ah dan khurafat. Ahmad Dalam pulang dengan semangat muwahhidun Muhammad bin Abdul Wahab dan mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Para ulama di Nusantara merespon gerakan Muhammadiyah yang terus berkembang dengan mendirikan Nahdatul Ulama. Namun sebenarnya oara ulama Nahdatul Ulama juga mengusung akar teologis yang sama dengan Muhammad Ibn Wahhab yakni Al-Asy’ariah. Namun mereka masih sedikit dipengaruhi corak Wujudiyah yang telah disebarkan oleh beberapa wali zaman klasik. Hanya inilah perbedaan Muhammadiyah dengan Nahdatul Ulama.
Baik Universitas Raniri maupun universitas Islam lainnya di Nusantara, mungkin karena telah eatusan tahun kehilangan cara menggunakan akak yang benar, kerap mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai kaidah logika, penelitian yang tidak mampu menemukan solusi permasalahan dan tidak sanggup merespons pernyataan-pernyataan pihak lain akibat lemahnya daya lacak struktur fondasi pernyataan pihak lain.
Ambil contoh penelitian tentang gender. Mereka dituntut untuk merekonstruksi pandangan laki-. Mereka menghasilkan kesimpulan sesuai dengan tuntutan. Namun basis argumentasi dilakukan dengan tidak sistematis.
Basis epistemologi digunakan adalah metafisika tasawuf falsafi (irfan) yang telah diteliti kalangan orientalis. Kaum orientalis itu menemukan kesimpulan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Dan kesimpulan ini diadopsi sarjana perguruan tinggi Islam. Padahal kasusnya sangat berbeda. Kita tahu bahwa epistemologi sufi adalah analogi. Ketika mereka mengatakan kesetaraan laki-laki dan perempuan, maka itu maksudnya adalah perempuan ideal dan perempuan konkrit hanya sebagai sombol.
Oleh sarjana perguruan tinggi Islam di Nusantara, pandangan irfan dijadikan kesimpulan yang ditawarkan sebagai solusi atas dilema kesetaraan gender. Epistemologi yang dipakai sebagai landasan argumentasinya adalah filsafat bercorak Barat. Sehingga landasan rasionalnya sangat rapuh ketika ditinjau dalam kacamata filsafat sejati.
Perkara-perkara semacam inilah yang membuat para akademisi perguruan tinggi Islam kurang mampu menyelesaikan persoalan kontekstual secara efektif.
Dilema-dilema semacam ini terus dipelihara sehingga kaum Muslim di Indonesia kerap terjebak oleh satir. Ketidakmampuan kaum Muslim memberikan solusi berbasis akal sehat dimanfaatkan pihak-pihak tertentu begitu mudah memprovokasi munculnya masalah. Karena menyadari itu, pihak-pihak tersebut terus memberikan masalah. Mereka tahu kaum Muslim akan menggunakan otot dalam menyelesaikan masalah. Termasuk mengirimkan anak-anak muda yang tidak tahu akar masalah, yang disebut laskar, untuk membuat citra Islam semakin terpuruk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar