Beberapa bulan setelah tamat esduwa saya ke Abulyatama. Saya lupa apa alasan ke sana. Mungkin melagalisir ijazah. Atau melamar jadi dosen? Ah, aneh sekali. Saya kira saya salahsatu alumni terbaik, dengan catatan IPK dan lama study tidak menjadi ukuran. Tapi mereka tidak mempedulikan saya. :)
Mungkin saya melamar jadi dosen karena hampir semua orang yang saya jumpai mengatakan saya bodoh.
"Masak udah esduwa masih jual kolor. Ambil ijazah. Melamar jadi dosen! Bodoh sekali!!!"
Di Banda Aceh hampir semua senior menyuruh saya menjumpai Bang Farid. Pergilah saya menjumpai beliau dengan kurang iklash. Di ruangannya dikatakan dia cuma punya waktu lima menit. "Mau bertemu tamu dari Malaysia".
"Jadi peunaa teumaa Miswari?" Belum saya jawab, bekas dosen saya saat esduwa pemikiran Islam masuk. Beliau Pak Samsul Rizal. Sekarang sudah Prefesor. Beliau memberi isyarat, tamu sudah tiba. Pak Farid menjawab, "Sebentar lagi".
Lalu saya memulai pembicaraan. Saya tahu kalau seseorang tertarik dengan kita, dia akan rela menunda apapun. Kami mulai mengobrol. Kami cerita panjang lebar. Beliau cerita tentang kadep PII yang mengancam beliau.
Yang lama saat beliau menceritakan akan ada penerimaan PNS dosen. Pak Farid cerita secara detail tentang tes PNS dosen. Jujur saya tidak mengerti satupun tentang yang beliau bicarakan. Saya heran. PNS kok dosen? PNS kan yang di kantor pemerintah. Warna bajunya seperti gula tarek. Sementara dosen tidak ada yang pakai baju warna itu.
Lalu setelah sekitar dua jam kami "cang panah" Pak Samsul masuk lagi. Katanya orang Malaysia sudah pulang. Saya kurang berani menatap Pak Samsul. Takut ditanya kenapa tidak kuliah lagi.
Sepertinya Pak Farid sangat paham sejarah. Beliau tahu saya orang Aceh. Aceh jauh sekali lebih mulia daripada Malaysia. Negara itu adalah jajahan Aceh Selama empat ratus tahun lebih. Mungkin karena alasan tersebut beliau lebih memilih berbincang dengan saya, daripada melayani tamu Malaysia itu.
Saya benar-benar tidak pernah pahan bahwa PNS dengan dosen ada hubungan. Saya tahu bang Taufiq Mahmud adalah dosen. Tapi tak tahu beliau PNS. Kalau saja beliau PNS, pasti kantornya bukan di IAIN Malikussaleh, tapi di dekat Islamic Center.
Kini, saya dan Pak Taufik punya dilema yang sama. Setiap pagi tanggal satu, terlepas hujan deras maupun mendung, langit selalu terlihat cerah.
Menjelang siang, gaji belum masuk.
Saya ketemu kawan lama di pasar.
"Mantap kali kau udah jadi dosen. Ga jual kolor lagi?"
"Lagi cuti panjang." saya jawab.
"Ngopu dulu kita. Kan tanggal satu ini."
"Gaji belum. Masuk." saya bilang.
"Mampus lah kau. Ga baca koran?" dia diam sejenak, lalu berbisik. "Negara kita sudah bangkrut."
Saya panik. Tapi pura-pura tenang. Saya berusaha berpikir positif. Menciba menghibur diri dengan mengingat-ingat kalimat yang sering diulang-ulang Pak Jokowi: "Uangnya ada. Uang kita masih banyak.
Tapi sudah masuk waktu zuhur, gaji helum masuk. Saya semakin panik. Hampi-hampir menggigil.
Mungkin saya melamar jadi dosen karena hampir semua orang yang saya jumpai mengatakan saya bodoh.
"Masak udah esduwa masih jual kolor. Ambil ijazah. Melamar jadi dosen! Bodoh sekali!!!"
Di Banda Aceh hampir semua senior menyuruh saya menjumpai Bang Farid. Pergilah saya menjumpai beliau dengan kurang iklash. Di ruangannya dikatakan dia cuma punya waktu lima menit. "Mau bertemu tamu dari Malaysia".
"Jadi peunaa teumaa Miswari?" Belum saya jawab, bekas dosen saya saat esduwa pemikiran Islam masuk. Beliau Pak Samsul Rizal. Sekarang sudah Prefesor. Beliau memberi isyarat, tamu sudah tiba. Pak Farid menjawab, "Sebentar lagi".
Lalu saya memulai pembicaraan. Saya tahu kalau seseorang tertarik dengan kita, dia akan rela menunda apapun. Kami mulai mengobrol. Kami cerita panjang lebar. Beliau cerita tentang kadep PII yang mengancam beliau.
Yang lama saat beliau menceritakan akan ada penerimaan PNS dosen. Pak Farid cerita secara detail tentang tes PNS dosen. Jujur saya tidak mengerti satupun tentang yang beliau bicarakan. Saya heran. PNS kok dosen? PNS kan yang di kantor pemerintah. Warna bajunya seperti gula tarek. Sementara dosen tidak ada yang pakai baju warna itu.
Lalu setelah sekitar dua jam kami "cang panah" Pak Samsul masuk lagi. Katanya orang Malaysia sudah pulang. Saya kurang berani menatap Pak Samsul. Takut ditanya kenapa tidak kuliah lagi.
Sepertinya Pak Farid sangat paham sejarah. Beliau tahu saya orang Aceh. Aceh jauh sekali lebih mulia daripada Malaysia. Negara itu adalah jajahan Aceh Selama empat ratus tahun lebih. Mungkin karena alasan tersebut beliau lebih memilih berbincang dengan saya, daripada melayani tamu Malaysia itu.
Saya benar-benar tidak pernah pahan bahwa PNS dengan dosen ada hubungan. Saya tahu bang Taufiq Mahmud adalah dosen. Tapi tak tahu beliau PNS. Kalau saja beliau PNS, pasti kantornya bukan di IAIN Malikussaleh, tapi di dekat Islamic Center.
Kini, saya dan Pak Taufik punya dilema yang sama. Setiap pagi tanggal satu, terlepas hujan deras maupun mendung, langit selalu terlihat cerah.
Menjelang siang, gaji belum masuk.
Saya ketemu kawan lama di pasar.
"Mantap kali kau udah jadi dosen. Ga jual kolor lagi?"
"Lagi cuti panjang." saya jawab.
"Ngopu dulu kita. Kan tanggal satu ini."
"Gaji belum. Masuk." saya bilang.
"Mampus lah kau. Ga baca koran?" dia diam sejenak, lalu berbisik. "Negara kita sudah bangkrut."
Saya panik. Tapi pura-pura tenang. Saya berusaha berpikir positif. Menciba menghibur diri dengan mengingat-ingat kalimat yang sering diulang-ulang Pak Jokowi: "Uangnya ada. Uang kita masih banyak.
Tapi sudah masuk waktu zuhur, gaji helum masuk. Saya semakin panik. Hampi-hampir menggigil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar