Minggu, 04 September 2016

JAKARTA

Kalau sudah bersentuhan, apalagi menyelam ke dalam politik, sedalam apapun ilmunya, pasti akan jadi orang bodoh. Lihat saja Yusril contohnya. Dia tahu semua yang digusur tinggal di tanah bukan milik mereka. Tapi pemerintah tetap beri santunan dan sediakan rumah susun.

Anehnya lagi orang yang tidak pernah ke Jakarta, atau tidak tahu apapun tentang Jakarta, tinggal entah di pelosok mana,
ikut-ikutan menyebar provokasi. Ketahuilah. Semua yang digeser ke rumah susun semuanya dipedulikan.

Berita-berita perlawanan orang-orang yang digusur itu hanya permainan sebagian pegiat LSM yang dibayar untuk menyebar fitnah. Bahkan terdapat sekelompok masyarakat yang seolah korban penggusuran yang melawan saat digusur. Padahal mereka adalah orang yang dibayar untuk melakukan drama.

Tidak ada gerakan yang murni di Jakarta. Semuanya adalah konstruksi uang. Bahkan para aktivis yang digerakkan oleh uang, tidak paham betul uang dari mana yang menggerakkan mereka.

Ada teori konspirasi dengan mekanisme berikut: Orang bodoh digiring terus-menerus untuk menyerang seseorang. Lalub rang pintar akan gerah dan akhirnya membela yang diserang.

Kalau saya orang pintar, berarti saya benar dengan mengatakan Yusril itu orang bodoh. Sehingga saya layak dikatakan terjebak oleh teori konspirasi di atas sehingga lahirlah tulisan ini. Kalau saya bodoh, berarti Yusril tidak bodoh. Sehingga tulisan ini lahir bukab karena saya telah ikut terjebak oleh teori propaganda di atas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar