Ada dua buku tafsir paling populer di Indonesia. Tafris Al-Misbah dan Tafsir Al-Azhar. Keduanya ditulis oleh profesor.
Profesor pertama tidak pernah sekolah, memberikan ceramah menggemparkan di Univ. AL-Azhar. Profesor kedua cumlaude Universitas Al-Azhar dari sarjana hingga doktor.
Yang satu ditulis di penjara. Satunya lagi ditulis di hotel.
Tetapi Promoedya Ananta Toer benar dalam hal ini, "Otodidak akan tampak kecerobohan besarnya."
Nyi Ontosoroh memang tampak sebagai seorang perfeksionis secara permukaan. Tetapi banyak kecerobohannya yang hanya mampu diidentifikasi oleh Minke. Minke orang sekolahan. Hanya orang yang sekolah saja yang dapat mengenal borok sang otodidak.
Maka wajar saja orang yang sekolah lebih tertarik kepada yang belajar Ilmu Tarfis secara rigid di Universitas Islam paling bergengsi di dunia. Dari sarjana hingga Doktor cumlaude semua.
"Kalau saja tafsir itu ditulis dalam bahasa Arab. Pasti akan menjadi salahsatu referensi tafsir ielas dunia." kata Musa Kazim.
Tapi saya tidak sepenuhnya yakin akan pernyataan itu. Karena kalau orang Muslim dunia tahu itu karya Indonesian, pasti akan diremehkan. Tanpa mempertimbangkan kualitas isinya. Kita tahu bahwa Arab, Persia, Turki dan lainnya sangat sepele kepada kita, Nusantara.
Kadang saya berpikir, kqrya Quraish Shihablah yang layak disebut Tafsir Al-Azhar. Alasannya akurat. Pemulisnya alimni terbaik Universitas Al Azhar. Dari sariana hingga doktor.
Tafsir Hamka hanya punya kelebihan keindahan bahasa yang mendayu-dayu. Melankolis. Semua orang yang rajin baca buku, bisa tulis tafsir seperti itu. Apalagi kalau dia orang Melayu yang punya bahasa yang mendayu-dayu.
Memang. Keseluruhan karya Hamka tentang agama, adalah parafrase dari karya kaum Muslim terdahulu. Khususnya Al-Ghazali. Anehnya, malah ada yang menuduh Tafsir Al-Misbah adalah jiplakan.
Tafsir Al-Misbah memang punya gaya yang mirip Tarsir Al-Mizan karya Thabattabai. Tetapi setelah memlnganalisa Al-Mizan, saya tidak menemukan keidentikan.
Dan kalaupun ada pengutipan dari Al-Mizan, Quraish langsung menyebutkannya. Quraish Shihab sendiri mengaku dia banyak mengutip Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Qutb dan Al-Mizan karya Sayyid Tahattaba'i. Itu dilakukan bukan karena kekurangan ilmu dari Quraish, tetapi karena dia menghormati dua tafsir besar itu. Cara Quraish adalah cara orang yang sekolah: menghormari dan menghargai tradisi.
Sementara Hamka hanya unggul karwna pada masanya masih sedikit cendikiawan yang mampu mengakses literasi Arab. Dan dia memanfaatkan kelebihan itu untuk memparafrase karya-karya ulama sufi akhlaqi.
Kalau Hamka berada pada masa kita sekarang. Dia tidak akan diperhitungkan. Kalaupun ada sebagian orang sekolahan yang mengapresiasi Hamka, tidak lebih karena sebuah sikap menghormati orang tua. Kurang-lebih seperti Minke menghormati Nyi Ontosoroh saja.
Profesor pertama tidak pernah sekolah, memberikan ceramah menggemparkan di Univ. AL-Azhar. Profesor kedua cumlaude Universitas Al-Azhar dari sarjana hingga doktor.
Yang satu ditulis di penjara. Satunya lagi ditulis di hotel.
Tetapi Promoedya Ananta Toer benar dalam hal ini, "Otodidak akan tampak kecerobohan besarnya."
Nyi Ontosoroh memang tampak sebagai seorang perfeksionis secara permukaan. Tetapi banyak kecerobohannya yang hanya mampu diidentifikasi oleh Minke. Minke orang sekolahan. Hanya orang yang sekolah saja yang dapat mengenal borok sang otodidak.
Maka wajar saja orang yang sekolah lebih tertarik kepada yang belajar Ilmu Tarfis secara rigid di Universitas Islam paling bergengsi di dunia. Dari sarjana hingga Doktor cumlaude semua.
"Kalau saja tafsir itu ditulis dalam bahasa Arab. Pasti akan menjadi salahsatu referensi tafsir ielas dunia." kata Musa Kazim.
Tapi saya tidak sepenuhnya yakin akan pernyataan itu. Karena kalau orang Muslim dunia tahu itu karya Indonesian, pasti akan diremehkan. Tanpa mempertimbangkan kualitas isinya. Kita tahu bahwa Arab, Persia, Turki dan lainnya sangat sepele kepada kita, Nusantara.
Kadang saya berpikir, kqrya Quraish Shihablah yang layak disebut Tafsir Al-Azhar. Alasannya akurat. Pemulisnya alimni terbaik Universitas Al Azhar. Dari sariana hingga doktor.
Tafsir Hamka hanya punya kelebihan keindahan bahasa yang mendayu-dayu. Melankolis. Semua orang yang rajin baca buku, bisa tulis tafsir seperti itu. Apalagi kalau dia orang Melayu yang punya bahasa yang mendayu-dayu.
Memang. Keseluruhan karya Hamka tentang agama, adalah parafrase dari karya kaum Muslim terdahulu. Khususnya Al-Ghazali. Anehnya, malah ada yang menuduh Tafsir Al-Misbah adalah jiplakan.
Tafsir Al-Misbah memang punya gaya yang mirip Tarsir Al-Mizan karya Thabattabai. Tetapi setelah memlnganalisa Al-Mizan, saya tidak menemukan keidentikan.
Dan kalaupun ada pengutipan dari Al-Mizan, Quraish langsung menyebutkannya. Quraish Shihab sendiri mengaku dia banyak mengutip Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Qutb dan Al-Mizan karya Sayyid Tahattaba'i. Itu dilakukan bukan karena kekurangan ilmu dari Quraish, tetapi karena dia menghormati dua tafsir besar itu. Cara Quraish adalah cara orang yang sekolah: menghormari dan menghargai tradisi.
Sementara Hamka hanya unggul karwna pada masanya masih sedikit cendikiawan yang mampu mengakses literasi Arab. Dan dia memanfaatkan kelebihan itu untuk memparafrase karya-karya ulama sufi akhlaqi.
Kalau Hamka berada pada masa kita sekarang. Dia tidak akan diperhitungkan. Kalaupun ada sebagian orang sekolahan yang mengapresiasi Hamka, tidak lebih karena sebuah sikap menghormati orang tua. Kurang-lebih seperti Minke menghormati Nyi Ontosoroh saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar