Bila ada musibah atas kaum Muslim, atau ada bencana alam. Nabi Saw menganjurkan kita qunut nazilah. Qunut memang sarana penyadaran akan kesatuan antara sesama insan dan alam. Qunut membuat kita jadi manusia yang peka. Makanya qunut subuh dianjurkan karena subuh adalah langkah awal berinteraksi dengan alam dan sesama insan.
Satu dari sekian banyak kekelirian Muhammadiyah adalah
, mereka melihat setiap persoalan sosio-kultural sebagai persoalan agama.
Padahal banyak
Satu dari sekian banyak kekelirian Muhammadiyah adalah, mereka melihat setiap persoalan sosio-kultural sebagai persoalan agama.
Padahal banyak perkara yang mereka permasalahkan secara religiusitas bukanlah perkara keagamaan, tetapi adalah perkara tradisi, adat, kebiasaan. Tradisi atau adat adalah objektivitas masyarakat yang lahir dari dialektika historis dalam menghadapi dunia objektif.
Misalnya, Muhammadiyah mengira meletakkan daging di puncak pohon tertinggi adalah sesajian untuk jin atau setan. Mereka menuduh itu bid'ah dab syitlrik. Padahal itu dilakukan karena kepekaan terhadapbalam, terhadap sistembrantai makanan. Daging itu untuk elang, agar mereka tidak memangsa ular. Sebab kalau ular habis dimangsa oleh elang, tidak ada yang mampu secara alamiah mengusir hama tikus.
Muhammadiyah mengutuk pergi ke tempat orang meninggal dam makan di sana. Padahal setiap orang ke sana bawa beras dan uang. Dan itu selalu lebih. Dan bisa dipakai janda dan yatim atau ahli waris yang di tinggal.
Singkatnya, Muhammadiyah tidak paham filosofi berkehidupan. Mereka terjebak oleh teks literal. Padahal manusia diasah dengan manusia, dengan sosio kulturalnya.
Kekurangpekaan ini mungkin terjadi karena tidak pernah melaksanakan qunut. Padahal qunut adalah sebuah spirit untuk menjaga intersitas manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan segenap makhluk di alam.
Kalau saja mereka sadar bahwa manusia bukanlah entitas mandiri di alam, tetapi adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari Tuhan, dengan sesama dan tidak bisa lepas dari alam, mungkin mereka akan qunut. Kalau saja mereka sadar.
yang mereka permasalahkan secara religiusitas bukanlah perkara keagamaan, tetapi adalah perkara tradisi, adat, kebiasaan. Tradisi atau adat adalah objektivitas masyarakat yang lahir dari dialektika historis dalam menghadapi dunia objektif.
Misalnya, Muhammadiyah mengira meletakkan daging di puncak pohon tertinggi adalah sesajian untuk jin atau setan. Mereka menuduh itu bid'ah dab syitlrik. Padahal itu dilakukan karena kepekaan terhadapbalam, terhadap sistembrantai makanan. Daging itu untuk elang, agar mereka tidak memangsa ular. Sebab kalau ular habis dimangsa oleh elang, tidak ada yang mampu secara alamiah mengusir hama tikus.
Muhammadiyah mengutuk pergi ke tempat orang meninggal dam makan di sana. Padahal setiap orang ke sana bawa beras dan uang. Dan itu selalu lebih. Dan bisa dipakai janda dan yatim atau ahli waris yang di tinggal.
Singkatnya, Muhammadiyah tidak paham filosofi berkehidupan. Mereka terjebak oleh teks literal. Padahal manusia diasah dengan manusia, dengan sosio kulturalnya.
Kekurangpekaan ini mungkin terjadi karena tidak pernah melaksanakan qunut. Padahal qunut adalah sebuah spirit untuk menjaga intersitas manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan segenap makhluk di alam.
Kalau saja mereka sadar bahwa manusia bukanlah entitas mandiri di alam, tetapi adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari Tuhan, dengan sesama dan tidak bisa lepas dari alam, mungkin mereka akan qunut. Kalau saja mereka sadar.
Satu dari sekian banyak kekelirian Muhammadiyah adalah
, mereka melihat setiap persoalan sosio-kultural sebagai persoalan agama.
Padahal banyak
Satu dari sekian banyak kekelirian Muhammadiyah adalah, mereka melihat setiap persoalan sosio-kultural sebagai persoalan agama.
Padahal banyak perkara yang mereka permasalahkan secara religiusitas bukanlah perkara keagamaan, tetapi adalah perkara tradisi, adat, kebiasaan. Tradisi atau adat adalah objektivitas masyarakat yang lahir dari dialektika historis dalam menghadapi dunia objektif.
Misalnya, Muhammadiyah mengira meletakkan daging di puncak pohon tertinggi adalah sesajian untuk jin atau setan. Mereka menuduh itu bid'ah dab syitlrik. Padahal itu dilakukan karena kepekaan terhadapbalam, terhadap sistembrantai makanan. Daging itu untuk elang, agar mereka tidak memangsa ular. Sebab kalau ular habis dimangsa oleh elang, tidak ada yang mampu secara alamiah mengusir hama tikus.
Muhammadiyah mengutuk pergi ke tempat orang meninggal dam makan di sana. Padahal setiap orang ke sana bawa beras dan uang. Dan itu selalu lebih. Dan bisa dipakai janda dan yatim atau ahli waris yang di tinggal.
Singkatnya, Muhammadiyah tidak paham filosofi berkehidupan. Mereka terjebak oleh teks literal. Padahal manusia diasah dengan manusia, dengan sosio kulturalnya.
Kekurangpekaan ini mungkin terjadi karena tidak pernah melaksanakan qunut. Padahal qunut adalah sebuah spirit untuk menjaga intersitas manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan segenap makhluk di alam.
Kalau saja mereka sadar bahwa manusia bukanlah entitas mandiri di alam, tetapi adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari Tuhan, dengan sesama dan tidak bisa lepas dari alam, mungkin mereka akan qunut. Kalau saja mereka sadar.
yang mereka permasalahkan secara religiusitas bukanlah perkara keagamaan, tetapi adalah perkara tradisi, adat, kebiasaan. Tradisi atau adat adalah objektivitas masyarakat yang lahir dari dialektika historis dalam menghadapi dunia objektif.
Misalnya, Muhammadiyah mengira meletakkan daging di puncak pohon tertinggi adalah sesajian untuk jin atau setan. Mereka menuduh itu bid'ah dab syitlrik. Padahal itu dilakukan karena kepekaan terhadapbalam, terhadap sistembrantai makanan. Daging itu untuk elang, agar mereka tidak memangsa ular. Sebab kalau ular habis dimangsa oleh elang, tidak ada yang mampu secara alamiah mengusir hama tikus.
Muhammadiyah mengutuk pergi ke tempat orang meninggal dam makan di sana. Padahal setiap orang ke sana bawa beras dan uang. Dan itu selalu lebih. Dan bisa dipakai janda dan yatim atau ahli waris yang di tinggal.
Singkatnya, Muhammadiyah tidak paham filosofi berkehidupan. Mereka terjebak oleh teks literal. Padahal manusia diasah dengan manusia, dengan sosio kulturalnya.
Kekurangpekaan ini mungkin terjadi karena tidak pernah melaksanakan qunut. Padahal qunut adalah sebuah spirit untuk menjaga intersitas manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan segenap makhluk di alam.
Kalau saja mereka sadar bahwa manusia bukanlah entitas mandiri di alam, tetapi adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari Tuhan, dengan sesama dan tidak bisa lepas dari alam, mungkin mereka akan qunut. Kalau saja mereka sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar