Selasa, 30 Agustus 2016

Evaluasi Teodisi Haidar Bagir

Sebenarnya, diskursus kebaikan-keburukan sederhana saja. Keduanya hanya kategori atau predikasi yang dikonstruksi pikiran manusia atas suatu zat atau subjek. Kontruksi pikiran selalu adalah ke'apa'an. Segala konstruksi itu selalu bersifat semu. Yang nyata adalah zatnya, eksistensinya.


Pandangan-pandangan klasik tentang kebaikan dan keburukan yang tampak ambigu dan penuh kritik sebenarnya adalah suatu upaya (baca: epistemologi) menjelaskan maksud. Dan biasanya kita lebih suka menyerang epistemologinya daripada mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka maksudkan. Kiranya budaya epistemologi rasionalistik dan positivistik telah membentuk sistem epistemologi kita. Sehingga kita lebih mudah menyerang epistemologinya daripada mendekonstruksi makna.

Pandangan seperti Plato yang mengatakan Tuhan tidak 'berkuasa' menciptakan makhluk yang sempurna perlu dimaknai kembali. Kiranya bukan Plato-nya yang keliru, tetapi pemaknaan kita terhadap pemikirannyalah yang perlu ditinjau ulang. Maksud 'tidak berkuasa' kiranya adalah, secara teologis: memang demikian Tuhan membatasi kadar dan daya suatu makhluk atas kekuasaannya. Secara epistemologi gradasional dapat kita katakan: memang demikianlah ia mengiluminasikan cahaya-Nya. 'Tidak berkuasa' yang dimaksudkan Plato adalah: Dia tidak menghendaki lebih dari itu. Bukan karena ketidakmampuan. Tetapi karena ''ketidakinginan''-Nya.

Sementara itu, pandangan filosofi Hindu mengatakan keburukan adalah suatu yang tiada (nothingness). Tetapi Haidar Bagir malah mempertanyakan: Kenapa alam ini tidak diciptakan dengan cara sedemikian?'' Maksudnya, padahal sebagaimana kita alami, alam ini adalah nyata. Padahal, yang ingin dikatakan ajaran Hindu tadi bukan persoalan nyata atau tidaknya alam, tetapi ketidaknyataan keburukan.

Haidar mengatakan, justru keberadaan fenomena bergantung kepada keberadaan kebaikan dan keburukan.

Pernyataan demikian lari dari konteks ajaran Hindi yang dibicarakan. Yakni mengenai ajaran Hindu yang menyatakan kejahatan itu tidak nyata. Ajaran tersebut benar bila kita menerimah bahwa keburukan hanyalah kategiri mental, sebuah predikasi hasil limitasi pikiran yang terbatas terhadap suatu subjek.

Dan pandangan demikian sejalan dengan semangat ajaran Ibn 'Arabi. Sufi ini meyakini segala dari baik adalah baik.

Kita maklum bahwa, Haidar Bagir ini menawarkan Irfan sebagai alternatif atas kebuntual ajaran Asy'arian dalam menjawab problematika spiritual dan intelektual yang dihadapi manusia. Namun Sering menyisakan ambiguitas sehingga dikhawatirkan, alih-alih menjadikan 'irfan sebagai alternatif, karena ambiguitas penjelasan, malah akan semakin memperburuk citra 'irfan.

Atau beliau hanya bermaksud memberikan stimulis?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar