Minggu, 05 Juni 2016

TEMBANG CINTA AZAZIL

Bila Kau ciptakan para pembantumu dari cahaya
Kau ciptakan aku dari sumbernya
Aku mulia
Kau ciptaka aku dari yang menyala-nyala
Gairahku besar, hasratku bangkit

Ketundukanku pada-Mu tiada siapapun mampu menyamai
Kudidik semua malaikat-Mu agar mereka taat
Kubakar semangat mereka untuk patuh karena kulihat cahaya sifatnya redup-redam
hanya mengikut saja pada sumbernya
Pada sumber api yang menyala membara...
Dialah aku


Semua ciptaanmu di seisi langit yang tinggi ini kusadarkan akan pengabdian tulus bagi-Mu
Kulihat mereka terlalu lalai untuk mendengar kata pengabdian
Mereka terlalu abai untuk mengenal bahkan diri mereka sendiri
Kadang aku bertanya untuk apa kau ciptakan makhluk-makhluk yang hina-dina itu

Lalu aku turun ke langit paling jauh
Di sana kutemukan bintang-bintang sedang berpesta di sebuah ruang yang sempit lagi menyesakkan
Kulihat mereka sama-sekali tidak mengenalmu
Aku menemukan mereka terlalu buruk untuk berzikir padamu
Karena kemuliaan hatiku aku mengajari mereka secara serempak untuk belajar berzikir dan bertasbih
Setelah kudidik mereka dengan caraku yang keras, aku menemukan mereka berputar dan berzikir tiada henti
Kali ini tidak ada lagi kesibukan bintang-bintang, makhluk langit terjauh itu selain berzikir tiada henti mereka terlalu sibuk untuk itu
 Setelah pengajaranku berhasil aku menemukan sebuah bintang sangat tragis dan terlalu lalai daripada yang lain
Setelah lama belajar dia belum bisa bahkan untuk berputar, apalagi berzikir.

Susah payah aku mencari tahu alasan keingkarannya
Akhirnya aku menemukan sebuah lempung yang paling hina diantara semua makhluk-Mu bahkan aku sempat berfikir itu bukan ciptaanmu
Bentuknya sangat buruk, aku jijik bahkan hampir muntah melihatnya
Lempung itulah yang membuat bintang terakhir itu sulit bergerak, tak mampu berzikir
Bintang terakhir itu sibuk menemani si lempung busuk itu dan sampai kapanpun dia takkan pernah bisa bertasbih

Kukatakan pada bintang terakhir:
Tinggalkan makhluk hina dina itu
Dia hanya akan membuatmu terus tersiksa tanpa pernah merasakan indahnya berputar'.

Dengan cahayanya yang sangat mengkhawatirkan, remang-redup bintang terakhir itu manjawab:
Biar padam sisa sepercik cahayaku, biar suram sepanjang sisaku, aku akan terus memberikan sinarku pada lempung itu
Meski kau lihat dia lempung yang hina, nanti menjelang akhir masa akan timbul cahaya yang akan menyilaukan singgasana arsyi
 Dari lempung yang kau anggap hina-dina itu akan lahir sinar abadi
Dari dasar yang kau temukan gelap itu akan menjadi sumber cahaya bagi segenap ufuk.

Aku melihat bintang terakhir itu terlalu  teruk. Selain lemah ternyata dia juga bodoh, mengharap sinar dari sumber kegelapan
Dia keliru, bukankah hanya aku sumber segala cahaya, akulah api yang menyala
Hanya padakulah diharapkan cahaya, sebab aku sumber segala sinar

Lihatlah aku telah memberi terang pada seisi angkasa
 Lihatlah aku telah memberi pentunjuk bagi segala makhluk
 Kau tidak salah memilihku
Cahayaku memang terlalu terang bagi bintang paling jauh, apalagi si tanah yang hina itu
Dengan segala kemuliaanku aku menyadari kebodohan mereka, aku memakluminya

Segenap yang Kau ciptakan    
Kau katakan sombong adalah selendang pribadimu
Kau telah melakukan kekeliruan dengan menciptakan makhluk-makhluk yang hina
Tapi tahukah Engkau, Hai Tuhan-ku
Semua ciptaan pasti mengikuti penciptanya
Siapa ciptaan terbaik-Mu dialah yang akan mengusung mahkota-Mu dan memberi kalung selendang-Mu

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar