Kau
ciptakan aku dari sumbernya
Aku
mulia
Kau
ciptaka aku dari yang menyala-nyala
Gairahku
besar, hasratku bangkit
Ketundukanku
pada-Mu tiada
siapapun mampu menyamai
Kudidik
semua malaikat-Mu agar
mereka taat
Kubakar
semangat mereka untuk patuh karena kulihat cahaya sifatnya redup-redam
hanya
mengikut saja pada sumbernya
Pada
sumber api yang menyala membara...
Dialah
aku
Semua
ciptaanmu di seisi langit yang tinggi ini kusadarkan akan pengabdian tulus bagi-Mu
Kulihat
mereka terlalu lalai untuk
mendengar kata pengabdian
Mereka
terlalu abai untuk
mengenal bahkan diri mereka sendiri
Kadang
aku bertanya untuk apa kau ciptakan makhluk-makhluk yang hina-dina itu
Lalu aku
turun ke langit paling jauh
Di sana
kutemukan bintang-bintang sedang berpesta di sebuah ruang yang sempit lagi
menyesakkan
Kulihat
mereka sama-sekali tidak mengenalmu
Aku
menemukan mereka terlalu buruk untuk berzikir padamu
Karena
kemuliaan hatiku aku mengajari mereka secara
serempak untuk belajar berzikir dan bertasbih
Setelah
kudidik mereka dengan caraku yang keras, aku
menemukan mereka berputar dan berzikir tiada henti
Kali ini
tidak ada lagi kesibukan bintang-bintang, makhluk langit terjauh itu selain
berzikir tiada henti mereka terlalu sibuk untuk itu
Setelah
pengajaranku berhasil aku menemukan sebuah bintang sangat tragis dan terlalu lalai daripada yang
lain
Setelah
lama belajar dia belum bisa bahkan untuk berputar, apalagi berzikir.
Susah
payah aku mencari tahu alasan keingkarannya
Akhirnya
aku menemukan sebuah lempung yang paling hina diantara semua makhluk-Mu bahkan aku sempat berfikir itu bukan
ciptaanmu
Bentuknya
sangat buruk, aku jijik bahkan hampir muntah melihatnya
Lempung
itulah yang membuat bintang terakhir itu sulit bergerak, tak mampu berzikir
Bintang
terakhir itu sibuk menemani si lempung busuk itu dan sampai kapanpun dia takkan
pernah bisa bertasbih
Kukatakan
pada bintang terakhir:
Tinggalkan
makhluk hina dina itu
Dia
hanya akan membuatmu terus tersiksa tanpa pernah merasakan indahnya berputar'.
Dengan
cahayanya yang sangat mengkhawatirkan, remang-redup bintang terakhir itu
manjawab:
Biar
padam sisa sepercik cahayaku, biar suram sepanjang sisaku, aku akan terus
memberikan sinarku pada lempung itu
Meski
kau lihat dia lempung yang hina, nanti menjelang akhir masa akan timbul cahaya
yang akan menyilaukan singgasana arsyi
Dari lempung yang kau anggap hina-dina itu akan
lahir sinar abadi
Dari dasar yang kau temukan gelap itu akan menjadi sumber
cahaya bagi segenap ufuk.
Aku
melihat bintang terakhir itu terlalu teruk. Selain lemah ternyata dia
juga bodoh, mengharap sinar dari sumber kegelapan
Dia
keliru, bukankah hanya aku sumber segala cahaya, akulah api yang menyala
Hanya
padakulah diharapkan cahaya, sebab aku sumber segala sinar
Lihatlah
aku telah memberi terang pada seisi angkasa
Lihatlah aku telah memberi pentunjuk bagi
segala makhluk
Kau tidak salah memilihku
Cahayaku
memang terlalu terang bagi bintang paling jauh, apalagi si tanah yang hina itu
Dengan segala kemuliaanku aku menyadari kebodohan
mereka, aku memakluminya
Segenap
yang Kau ciptakan
Kau
katakan sombong adalah selendang pribadimu
Kau
telah melakukan kekeliruan dengan menciptakan makhluk-makhluk yang hina
Tapi
tahukah Engkau, Hai Tuhan-ku
Semua
ciptaan pasti mengikuti penciptanya
Siapa
ciptaan terbaik-Mu
dialah yang akan mengusung mahkota-Mu dan
memberi
kalung selendang-Mu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar