Bulan pamitan. Matahari terbit. Selalu demikian setiap pagi.
Tapi orang-orang tidak sempat peduli. Mereka sibuk sendiri. Harus bekerja keras
untuk memberi makan orang lain. Mereka harus bekerja untuk menimbun gunung.
Setiap hari.
Teman saya ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang
idealis. ''Kalau beli bensin jangan di pombensin. Kalau belanja, di warung
tetangga saja'' sarannya. Tapi dia sendiri tidak demikian. Dia tidak mau
memberikan lima belas ribu rupiah setiap hari untuk menyewa rumah. Dia lebih
memilih membayar tiga puluh ribu sehari untuk kredit rumah. Padahal uang itu
dibayar kepada bank dan pengembang. Tidak seribupun dari uang itu yang tingga
di warung tetangga. Semuanya diborong kapital.
Teman lainnya, dengan menggadaikan SK, dia harus membayar
bunga sejumlah tiga gram emas sebulan. Sehingga harus bekerja untuk bank.
Akibatnya, sisa gaji menjadi sangat kurang. Kekurangan itu menyebabkannya
panik. Memaksanya bekerja ekstra untuk
mengumpulkan uang, agar kebutuhan hidup terpenuhi.
Idealitas menjadi hilang. Niat ingin mengabdi, tidak bisa
bagi tukang kredit. Dakwahnya membantu orang dengan sedikit membayar lebih
mahal, seperti saran membeli bensin di pinggir jalan. Padahal kredit rumah
hanya menguntungkan pemodal dan bank. Seharusnya mencari rumah kontrakan milik
janda. Dan itu ada di mana-mana. Bukankah lebih baik membantu janda daripada
bekerja untuk memberi makan pemodal.
Sementara mereka memberi makan pemodal, teman-temannya yang
tidak ikut kredit dan tidak gadai SK harus memberi makan mereka. Kalau ke
kantin, mereka harus sering dibayari.
Orang yang kredit itu melawan hukum alam. Hukumnya dia belum
mampu, sehingga belum layak memiliki yang dikredit itu. Stiap tindakan melawan
hukum apapaun pasti berakibat buruk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar