Selasa, 21 Juni 2016

KREDIT

Bulan pamitan. Matahari terbit. Selalu demikian setiap pagi. Tapi orang-orang tidak sempat peduli. Mereka sibuk sendiri. Harus bekerja keras untuk memberi makan orang lain. Mereka harus bekerja untuk menimbun gunung. Setiap hari.

Teman saya ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang idealis. ''Kalau beli bensin jangan di pombensin. Kalau belanja, di warung tetangga saja'' sarannya. Tapi dia sendiri tidak demikian. Dia tidak mau memberikan lima belas ribu rupiah setiap hari untuk menyewa rumah. Dia lebih memilih membayar tiga puluh ribu sehari untuk kredit rumah. Padahal uang itu dibayar kepada bank dan pengembang. Tidak seribupun dari uang itu yang tingga di warung tetangga. Semuanya diborong kapital.



Teman lainnya, dengan menggadaikan SK, dia harus membayar bunga sejumlah tiga gram emas sebulan. Sehingga harus bekerja untuk bank. Akibatnya, sisa gaji menjadi sangat kurang. Kekurangan itu menyebabkannya panik. Memaksanya  bekerja ekstra untuk mengumpulkan uang, agar kebutuhan hidup terpenuhi.

Idealitas menjadi hilang. Niat ingin mengabdi, tidak bisa bagi tukang kredit. Dakwahnya membantu orang dengan sedikit membayar lebih mahal, seperti saran membeli bensin di pinggir jalan. Padahal kredit rumah hanya menguntungkan pemodal dan bank. Seharusnya mencari rumah kontrakan milik janda. Dan itu ada di mana-mana. Bukankah lebih baik membantu janda daripada bekerja untuk memberi makan pemodal.

 
Sementara mereka memberi makan pemodal, teman-temannya yang tidak ikut kredit dan tidak gadai SK harus memberi makan mereka. Kalau ke kantin, mereka harus sering dibayari. 
Orang yang kredit itu melawan hukum alam. Hukumnya dia belum mampu, sehingga belum layak memiliki yang dikredit itu. Stiap tindakan melawan hukum apapaun pasti berakibat buruk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar