Selasa, 24 Mei 2016
HAKIKAT SEDERHANA
Dalam filsasat Mulla Sadra, hakikat sederhana (basith al-haqiqah) adalah bagian paling penting. Segala keberagaman, sejatinya adalah hakikat tunggal yang sederhana.(Mulla Sadra, Asyfar VI, h. 257) Sederhana yang dimaksud adalah sesuatu yang tunggal, tidak tersusun dari beberapa entitas (komponen). Antara komponen (murakkab) dengan sederhana (basith) adalah kontradiksi.
Komposisi terbagi menjadi (1) komposisi hakiki, yakni bagian-bagiannya memiliki hubungan kausal dan saling membutuhkan, dan (2) komposisi non-hakiki, yakni komposisi yang antar komponennya tidak memiliki hubungan kausal dan tidak saling membutuhkan. Kedua komposisi tersebut sama-sama terbagi ke dalam bagian mental dan eksternal. Komposisi hakiki eksternal masing-masingnya memiliki efek dan bila salah satu diantaranya musnah, tidak mempengaruhi komposisi yang lain. Misalnya antara jiwa dan jasad. Sementara komposisi hakiki mental adalah pembagian yang berlaku di mental, namun adalah satu kesatuan pada realitas eksternal. Setiap entitas komposisi non-hakiki eksternal memiliki wujud masing-masing. Setiap komposisinya tidak saling mengakibatkan. Misalnya semen, kayu, pasir bagi rumah. Komposisi non-hakiki metal terbentuk dari bagian-bagian yang tidak memiliki rujuan pada realitas eksternal. Antar entitasnya tidak berbeda dan tidak independen.
Setiap sesuatu atau mumkin al-wujud pasti memiliki komposisi. Setidaknya sesuatu adalah komposisi dari wujud dan kuiditas. Kesederhanaan (basith) terbagi tiga: (1) Eksternal, yakni kesederhanaan yang tidak tersusun dari bagian yang aktual, seperti materi-bentuk dan sembilan aksiden. (2) Mental, seperti konsep wujud, badihi, materi primer, semuanya tidak rangkap dalam genus-differensia. (3) Hakiki, lepas dari segala rangkapan, seperti genus-differensia dan rangkapan lainnya. Bagian ketiga ini adalah Wajib al-Wujud.
Setiap sederhana di mental, maka sederhana di eksternal. Namun setiap sederhana di eksternal, belum tentu sederhana di mental. ''Hakikat sederhana adalah segala sesuatu dan bukan setiap segala sesuatu.''
Sebegaimana teori lain seperti kesatuan subjek-objek, Mulla Sadra mengambil inspirasi hakikat sederhana adalah segala sesuatu dari Porfiri, murid Plotinus. Terkait 'urafa, pandangan ini mirip pandangan tentang ambiguitas tasbih sekaligus tanzi. ''Dialah Awal, dialah Akhir. (QS. Al-Hadid: 3)
Mulla Sadra menegaskan bahwa Ilmu Tuhan adalah kesederhanaan. Al-Farabi mengatakan seluruh sifat Tuhan, yang artinya termasuk Ilmu-Nya, diliputi Zat-Nya. Demikian juga Ibn Sina menyakini Tuhan tidak bercampur dengan kuiditas. Dia tidak punya genus dan differensia. Sementara Ilmu Tuhan menurutnya adalah akal sederhana. Bagi Ibn Sina, Ilmu Tuhan itu tetap, universal dan melingkupi apapun. Tidak sama dengan sesuatu apapun. (Ibn Sina, Ilahiyah Syifa', h. 379)Sementara Suhrawardi menganalogikan ilmu Tuhan seperti cahaya. Cahaya-Nya melingkupi segala sesuatu. Tidak ada pengetahuan apapun yang lepas dari cahaya-Nya. (Suhrawardi, Hikmah Al-Isyraq; Yogyakarta: Islamika, 2003, 122-123)
Dalam pandangan Mulla Sadra, bila wujud tidak sederhana (basith), maka adalah rangkap dari genus dan differensia. Bila rangkap, maka genusnya mungkin wujud atau mungkin non wujud. Karena yang ada hanya wujud, maka tentunya hakikat tidak rangkap. Sehingga hakikat wujud adalah sederhana. Hakikat wujud sederhana tidak tunduk dalam hukum hukum substansi dan aksiden. Tidak memiliki kuantitas, kualitas, dan sebagainya. Karena itu, wujud tidak dapat dibatasi, tidak dapat didefinisikan. Kesederhanaan adalah kesemurnaan wujud. Karena wujud bergradasi, maka yang tertinggi adalah Wajib al-Wujud.
Ketika ingin memberikan argumentasi hakikat sederhana, Mulla Sadra mendahuluinya dengan menjelaskan karakteristik dari lawan sederhana yakni rangkap. Mulla Sadra membagi rangkap menjadi (1) rangkap internal, yakni rangkapan yang berada di dalam zat. Dan (2) rangkap eksternal, yakni kemajemukan zat. Selanjutnya Mulla Sadra menawarkan tiga argumen dalam membuktikan hakikat sederhana.
Pertama, Jika Zat Wajib Wujud memiliki bagian, maka bagian-bagiannya mendahului zatnya. Bagian-bagian tersebut tentu mendahului zat. Karena, kedahuluan bagian daripada keberadaan adalah swabukti (badihi). Maka Zat Wajid Wujud itu sederhana. Kedua, bila zat wajid wujud terkomposisi, pasti ia berada dalam kondisi tiga kemungkinan: (a) seluruh bagiannya adalah wajib wujud, (b) sebagian wajid wujud dan sebagiannya lagi mumkin al-wujud (c) seluruh bagiannya mumkin al-wujud. Mulla Sadra menyanggah semua kemungkinan itu. Menurutnya, wujud itu tidak rangkap. Kalaupun rangkap, maka akan terjadi kesalingterkaitan dan kesalinghubungan antar wujud. Maka, Zat Wajib al-Wujud tidaklah rangkap. Ketiga, Karena yang sederhana di mental adalah sederhana di eksternal, tapi tidak sebaliknya. Maka tentunya Wajib al-Wujud tidak terkomposisi pada genus dan differensia. Ia tidak memiliki mahiyah.
Mulla Sadra memngemukakan tiga argumen untuk membuktikan hakikat sederhana.
Pertama, hanya Wajib al-Wujud yang merupakan hakikat sederhana adalah segala sesuatu. Dia adalah wujud yang sempurna dan meluputi segala sesuatu yang memiliki wujud dalam segi kewujudan segala sesuatu. Sebagaimana pula segala wujud adalah Dia. Karena Dia adalah Wujud. Pemis minor: hakikat sedernaha adalah kontadiksi dari komposisi. Premis mayor: Bila hakikat segala sesuatu tidak sederhana, maka ia memiliki rangkap. Bila ia rangkap, maka komposisinya adalah ketiadaan dan keberadaan. Maka keberadaan dan ketiadaam mustahil bercampur. Sehingga hanya ada kemungkinan ia ada atau tiada. Karena ia adalah keberadaan, maka ia mustahil merupakan ketiadaan. Bahkan keberadaannya sempurna dan meluputi segala yang memiliki eksistensi.
Argumentasi kedua, mutlak (muthlaq) dan bersyarat (muqayyat). Mutlak artinya tidak memiliki batasan. Dia hadir dalam semua gradasi eksistensi. Namun hakikat sederhana suci dari segala kekurangan munkin al-wujud. Karena ia adalah mutlak termasuk dalah kesempurnaan.
IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, 23 Mei 2016
.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar