Rabu, 18 Mei 2016

ORANG ORANG TELANJANG

Memiliki dua orang abang. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Tapi itu tidak berlaku bagi Wati. Nahas bagi Wati bermula ketika Abang tertuanya yang berusia delapan tahun, Yono, mencuri uang ibunya dan ketahuan. Ia diancam akan diusir dari rumah. Ibunya berkata bila dalam dua hari tidak mengembalikan uang itu utuh, ancaman itu akan dibuktikan.



 Yono panik. Uang itu tidak mungkin dikembalikan karena telah habis untuk membeli beberapa bungkus rokok. Dibagikan teman-temannya. Setiap orang mendapat satu bungkus. Mereka belajar merokok di semak belukar. Yono dan teman-temannya penasaran dengan gambar pria yang sedang menikmati asap rokok dekat tulisan larangan merokok. Gambar itu menunjukkan sepertinya merokok itu sangat menyenangkan.

 Suatu hari ketika ke ruangan guru untuk meminta spidol, Yono dikejutkan dengan sebuah hape android yang tergeletak begitu saja di atas sebuah meja. Dia tahu itu milik guru yang sedang di kamar mandi ruangan kantor. Kantor sepi. Suara jipratan air terus terdengar di balik pintu. Jantung Yono berdegup kencang. Ia tegang hingga sampai rumah.    

 Setelah makan siang, Yono langsung mengumpulkan teman-teman sepermainannya di kampung. Berkonsultasi tentang cara menjual hape.

 Sambil berdiskusi, mereka mempreteli android hitam itu. Tidak ada kode pengaman. Beberapa bocah yang sedang berkumpul itu merapat. Bergantian membuka aplikasi-aplikasi. Di antara mereka ada Joko. Yono mengancam adiknya yang lebih muda dua tahun darinya itu untuk tidak memberitahukan tentang hape itu ke orangtua mereka.

 Rupanya mereka diasyikkan dengan beberapa tayangan film porno yang ada di hape. Meski perasaan bercampur-aduk, mereka sangat menikmati adegan-adegan film orang-orang  telanjang. Ada juga rekaman amatir ketika sang pemilik hape berhubungan badan dengan suaminya. Yono tidak menyangka gurunya itu punya banyak lemak. Tetapi yang paling membuat mereka terkesan adalah sebuah film yang mempertunjukkan beberapa orang pria secara bersamaan menyetubuhi seorang perempuan.

 Sore hari bocah-bocah itu bermain di sebuah sekolah usia dini di kampung mereka. Mereka suka bermain di sana karena banyak permainan seperti perosotan, ayunan dan lainnya. Sebenarnya permainan-permainan tersebut hanya layak untuk usia beberapa tahun di bawah mereka. Pagar tidak dikunci. Bahkan ruangan-ruangan belajar sering ternganga.

 Sekalipun paling kecil dan satu-satunya perempuan dalam kelompok permainan tersebut, Wati sangat leluasa. Dia dapat memainkan permainan apapun yang dia inginkan. Bahkan bocah-bocah lain menyingkir bila Wati medekat.

 Sore itu, mereka bermain rumah-rumahan. Karena hanya Wati yang perempuan, ia didaulat menjadi ibu rumah tangga. Joko dipilih mejadi suami Wati. Masing-masing menghayati sendiri perannya. Yono mengaku dirinya dan beberapa temannya adalah polisi. Mereka medatangi rumah Wati. Suaminya bersembunyi. Wati mencoba mengalihkan perhatian tamu-tamu yang ingin dihindari suaminya itu.
 Para polisi itu memaksa Wati untuk memberitahukan di mana suaminya. Wati menolak. Ia didorong-dorong. Ditanggalkan semua pakaiannya.

  Menjelang magrib hari itu, Wati hanya pulang sendirian ke rumah. Sambil menangis. Pakaiannya sobek-sobek. Yono dan Joko tidak berani pulang.

 Tidak mengeluarkan kata-kata dan terus menangis, Wati dibawa ke rumah sakit. Kemaluannya terus mengeluarkan darah. Menjelang tengah malam, ayah Wati ditelpon lurah. Yono dan Joko langsung digampar ayahnya di depan lurah dan beberapa warga yang sedang berada di balai desa.

 Keesokan harinya, Ibu Wati harus segera kembali ke rumah sakit setelah menjenguk suaminya di kantor polisi. Ayah Wati akhirnya harus sekolah ke lembaga pemasyarakatan  beberapa tahun karena didakwa melakukan penyiksaan kepada kedua putranya.

 Bapak kepala sekolah menyusul ayah Wati. Dia dituntut beberapa tahun karena mencubit perut muridnya yang terlibat kekerasan terhadap Wati.  

 Setelah dua minggu dirawat, Wati meninggal. Ibunya yang awalnya rawat jalan di rumah sakit jiwa, bertambah parah. Ia tidak lagi dibolehkan pulang.

Langsa, 18 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar